
Sementara itu di sebuah hotel yang ada di kota Paris. Seorang pria tengah duduk sambil melihat ke arah jendela kaca kamar hotel tersebut. Dia melihat gemerlapnya kota yang mendapatkan julukan kota yang tak pernah mati itu dengan kedua matanya yang merah.
Tangannya memegang sebuah gelas yang berisi minuman. Matanya merah, karena dia sudah hampir mabuk. Pria itu adalah Tristan Maulana Hutama. Pria yang melalui perjalanan selama 17 jam lebih untuk sampai ke kota ini dari negara asalnya.
Sepanjang perjalanan yang dia pikirkan hanya ingin bertemu dengan wanita yang paling dia cintai selama bertahun-tahun belakang ini. Dia meninggalkan semua keluarganya yang memang menentangnya untuk melakukan hal ini. Dia mengambil resiko yang begitu besar untuk bisa memastikan kalau keputusannya kali ini benar.
Tristan tidak langsung menemui Shanum, karena memang dia belum mengabari Shanum kalau dia pergi ke kota ini. Dan dirinya juga baru tiba sekitar setengah jam yang lalu. Pikiran yang kalut dan tubuhnya yang lelah membuatnya memilih untuk tinggal di hotel ini terlebih dahulu.
Namun ketika acara berita di televisi yang kebetulan Tristan nyalakan kala itu berubah menjadi acara reality show. Perhatian Tristan kembali teralihkan ke acara televisi tersebut. Dimana si pembawa acara mengatakan kalau bintang tamu di acara tersebut adalah seorang designer muda berbakat yang bernama Shanum Margaretha.
Benar saja, Shanum ada di acara itu. Dari acara itu, Tristan mengetahui kalau selama seberapa Minggu ini memang Shanum sedang seringnya wara-wiri di semua media lokal kota ini. Karena prestasinya dan juga karyanya.
Dan pembawa acara itu kembali bertanya tentang hubungan asmara Shanum. Mata Tristan langsung menatap serius ke arah layar televisi hotel tersebut. Hati Tristan berharap kalau meskipun Shanum mengatakan belum berkomitmen dengan siapapun tapi dia mencintai seseorang yang ada di luar negeri ini.
Tristan merasa kalau Shanum mengatakan hal itu, maka Tristan akan menerimanya. Tristan akan memakluminya, dan akan menganggap ucapan Shanum pada media sebelumnya itu hanya sebuah ketidaksengajaan.
Namun ketika Tristan begitu berharap Shanum mengatakan apa yang dia pikirkan. Tristan harus kembali kecewa, karena Shanum berkata.
"Currently I'm not in a relationship with anyone. I didn't think about that either, because indeed I started all of this with my own hard work. I succeeded because of my own efforts. I also want to motivate all women around the world, no men, even no one. We can stand on our own feet and succeed. Certainly!"
(Saat ini aku sedang tidak menjalin kedekatan dengan siapapun. Aku juga tidak memikirkan hal itu, karena memang aku mengawali semua ini dengan kerja kerasku sendiri. Aku berhasil karena usahaku sendiri. Aku juga ingin memotivasi semua wanita di seluruh dunia, tanpa pria, bahkan tanpa siapapun. Kita bisa berdiri dengan kaki kita sendiri dan sukses. Itu pasti!).
Tristan langsung menghela nafasnya begitu berat. Dia benar-benar tidak percaya kalau wanita yang paling dia cintai, bahkan demi wanita itu Tristan menentang semua keluarganya, ayahnya, kakaknya. Dan meninggalkan Sarah yang begitu tulus pada keluarganya. Tapi yang dia dengar malah hal seperti itu.
Tristan terduduk lemah, sambil menundukkan kepalanya. Tapi beberapa detik kemudian, dia meraih jaketnya dan pergi dari hotel tersebut.
Acara reality show itu letaknya tidak jauh dari menara Eiffel. Dan hotel tempat Tristan menginap juga tidak jauh dari sana. Tristan menghentikan sebuah taksi dan menuju ke stasiun televisi swasta, tempat reality show tersebut sedang berlangsung.
Selama perjalanan Tristan tak dapat menahan emosinya yang begitu meluap-luap. Kenyataan pahit yang dia lihat dan dengar secara langsung tadi membalutnya tak lagi bisa manahan diri sampai besok untuk bertemu dengan Shanum.
Begitu tiba di stasiun televisi tersebut, Tristan langsung membayar taksi dan turun dari taksi tersebut. Tristan yang setengah mabuk itu berjalan dengan cepat menuju ke pos penjagaan.
__ADS_1
Dan benar saja begitu dia sampai di sana, salah satu security menghampirinya dan menahannya agar tidak masuk ke dalam gedung.
"Qui ĂȘtes-vous et de quoi avez-vous besoin ?"
(Anda siapa, dan ada perlu apa?)
Karena Tristan memang tidak bisa bahasa Perancis, maka dia menggunakan bahasa Inggris.
"I am the brother of the personal assistant of one of the reality show performers inside. My sister's cellphone, Leni, was left behind. If not please just call Leni. Say Tristan wants to be meet him" kata Tristan.
(Saya saudara dari asisten pribadi salah satu pengisi acara reality show di dalam. Handphone saudara saya yang bernama Leni tertinggal. Kalau tidak tolong panggilkan saja Leni. Katakan Tristan ingin bertemu dengannya).
""All right, wait here!"
(Baiklah, tunggu di sini)
Security itu lalu masuk ke dalam dan meminta rekannya tetap menunggui Tristan di pos tersebut. Tristan bersandar di pos penjagaan dan diam menunggu. Tapi tanpa security yang ada di sebelahnya tahu, kalau tangannya yang berada di dalam saku jaketnya saat ini tengah terkepal, Tristan mengepalkan tangannya menahan kesal.
"Kak Tristan, ini benar dirimu?" tanya Leni yang tak percaya melihat Tristan di Paris.
"Is he really your brother?"
Security itu bertanya pada Leni untuk memastikan. Dan Leni langsung mengangguk cepat.
Setelah itu Leni mengajak Tristan masuk ke dalam gedung. Dan mereka pun masuk ke ruang tunggu pengisi acara, di ruangan make up dan ganti pakaian untuk Shanum.
"Kak Tristan...!"
"Panggil Shanum kemari!" pekik Tristan yang sudah sangat emosi.
Leni pun menjadi panik.
__ADS_1
"Kak, kak Shanum sedang live. Nanti kalau dia sudah break iklan, aku akan panggil dia kemari!" kata Leni berusaha menenangkan Tristan.
"Kak, ini demi kak Shanum. Tolong mengertilah. Aku akan ke studio sekarang, kakak di sini saja ya. Aku mohon!"
Ketika Leni mengatakan semua itu Tristan hanya diam dan tidak menanggapi. Dengan rahang mengeras Tristan masih berusaha menahan amarahnya.
Sementara itu di studio, Leni tak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan cemasnya. Ketika break iklan, Leni langsung berlari masuk frame.
"Ada apa?" tanya Shanum terkejut. Karena tak biasanya Leni bersikap tidak profesional seperti itu.
"Kak Shanum... !"
"Ada apa?"
"Kak Shanum, kak Tristan ada di sini!"
Mata Shanum membelalak lebar mendengar apa yang Leni katakan. Dari ekspresi saudarinya sekaligus managernya itu terlihat kalau Leni sedang tidak bercanda.
"Tris.. Tristan di sini?" tanya Shanum dengan suara gemetaran. Entah kenapa dia merasa kedatangan Tristan membuatnya menjadi berfirasat tidak baik.
Shanum menelan salivanya dengan susah payah.
"Dimana dia?" tanya Shanum.
"Di ruang tunggu!"
Setelah mendengar jawaban Leni. Shanum pun bergegas meninggalkan frame untuk menemui Tristan. Karena feeling Shanum benar-benar tidak baik mengenai kedatangan Tristan.
***
Bersambung...
__ADS_1