
Ceklek
Mata Wulan langsung melotot tajam ketika melihat kehadiran Renata di depan pintu. Wanita yang akan menikahi mantan suaminya itu sedang berdiri di depan pintu sambil membuka kacamata dengan merek terkenal dan menggunakannya sebagai ganti bando di kepalanya.
"Hai mantannya calon suamiku. Rani mana?" tanya Renata yang sudah mengenal wajah Wulan dari media sosial.
Di panggil seperti itu, darah Wulan makin mendidih. Rasanya dia benar-benar ingin menjambak wanita yang ada di depannya itu.
"Hei, perempuan matre ngapain kamu ke sini? cari mati ya?" pekik Rani yang sudah tiba di depan Renata.
Wajah Wulan yang tadinya terlihat begitu emosi, kini berubah 180 derajat menjadi seperti orang yang begitu teraniaya. Dia menunjukkan ekspresi sedih dan matanya entah sejak kapan sudah berkaca-kaca.
"Rani, sudah nak. Jangan emosi pada wanita ini. Kalau dia kenapa-napa, nanti yang ada papa kamu menyalahkan mama!" lirih Wulan yang secepat kilat sudah menitihkan air matanya di sudut matanya.
Renata cukup terkejut dengan apa yang dia lihat.
'Wah.. perempuan ini lebih pandai berakting daripada Song Hye Kyo. Kenapa dia tidak jadi aktris saja. Sayang sekali bakatnya di gunakan untuk memperalat anaknya sendiri. Sungguh menyedihkan!' batin Renata.
Dan melihat ibunya sedih begitu Rani makin emosi. Dia menjauh dari ibunya lalu menghampiri Renata dan mendorongnya.
"Aduh!" pekik Renata yang hampir terjatuh karena keseleo.
Untung dia sudah pakai sepatu dengan hak yang rata. Tidak pakai high heels seperti biasanya.
"Eh, cukup ya. Jangan pikir selama ini aku ngalah sama kamu, aku diam saja kamu berbuat apapun padaku, terus kamu bisa seenaknya. Aku diam karena aku menghargai papa kamu. Papa yang selama ini tidak tahu kelakuan kamu di luar dan di sekolah itu seperti apa!" jelas Renata yang membuat Wulan sedikit tercengang.
"Sok tahu, apa yang kamu tahu tentang anakku?" tanya Wulan yang tak mau kalau Rani sampai terpengaruh pada apa yang dikatakan oleh Renata.
Renata lantas menatap Wulan dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku tidak tahu banyak, tapi yang jelas. Saat ini calon anak Sambung-ku ini sedang di h4sut oleh seseorang yang mengatasnamakan kasih sayang seorang ibu, padahal dia sedang mengantarkan Rani pada sisi tergelap dalam hidupnya!" tegas Renata menatap Wulan tanpa berkedip.
Rani yang tak fokus pada apa yang dikatakan Renata, dan fokus pada ekspresi khawatir sang ibu malah kembali mendorong Renata, supaya menjauh dari ibunya itu.
"Ck.. kenapa dorong-dorong terus sih? kita gak lagi rebutan barang diskon Rani?" tanya Renata kesal pada Rani.
"Jangan pernah bicara keras pada mamaku, dasar perempuan matre, pelakor!" teriak Rani.
"Heh, bocah labil. Biar aku jelaskan apa yang dimaksud pelakor dan par4sit padamu ya!" kata Renata yang kembali mendekati Rani.
"Pelakor itu perebut suami orang, dan aku tidak merebut suami siapapun. Jelas?" tanya Renata.
"Dan par4sit itu adalah orang yang meskipun tidak punya hubungan apapun lagi dengan pak Hamdan, tapi masih terus berusaha hidup dengan uang pak Hamdan. Masih ingin mobil, rumah, apartemen, perawatan wajah, pakaian bagus, perhiasan bahkan liburan tapi dengan uang pak Hamdan atas nama kebutuhan anak sulungnya yang bernama Rani!" kata Renata tanpa takut sama sekali.
Wajah Wulan mulai panik. Sementara Rani tidak pernah tahu semua itu. Rani yang masih ingin membela mamanya pun mengelak semua itu.
"Tidak mungkin, mama hidup dari harta gono-gini yang di berikan papa. Mama selama ini hidup sederhana. Kamu jangan ngarang ya wanita matre, kamu ingin menjelekkan mamaku?" tanya Rani masih tak percaya pada semua yang Renata katakan.
"Lihat ini!" kata Renata memperlihatkan layar ponselnya pada Rani.
"Apa itu, jangan mengada-ada kamu!" kata Wulan.
"Ck... pengawal!" teriak Renata memanggil pengawal yang tadinya di suruh menunggu di dalam mobil.
Pengawal yang Renata pinjam dari kantor Rendra itu keluar dari dalam mobil dan menghentikan Wulan yang ingin meraih ponsel yang ada di tangan Renata.
"Apa-apaan ini, lepaskan aku. Rani, tolong mama nak!" seru Wulan Sarah kedua lengannya di tangan pengawal dari kantor Rendra itu.
"Lepaskan mamaku, aku tidak percaya pada semua itu. Kamu pasti mengeditnya kan?" tanya Rani yang tidak percaya pada semua video yang di tunjukkan oleh Renata.
__ADS_1
"Kamu boleh tak percaya padaku, tapi apa kamu tidak percaya pada papamu. Lihat ini!" kata Renata yang menunjukkan semua bukti kiriman uang dari rekening Hamdan ke rekening Wulan.
Bahkan Renata juga memutar rekaman telepon Hamdan dan Wulan yang dia dengar tadi.
"Dengar itu, mamamu menjual apartemen, ruko dan rumahnya untuk liburan ke luar negeri. Apa katanya? dia check up kesehatan, mamamu bilang padamu kesehatannya terganggu? otaknya yang sudah terganggu!" kata Renata.
Rani terdiam, dia melihat semua foto liburan mamanya bersama teman-temannya. Bahkan ada yang bersama dengan seorang pria tampan dan masih muda. Berpelukan begitu mesra.
"Pria itu bernama Bertrand, dia tinggal di belakang rumah mama mu ini. Dan rumah itu di beli oleh mama kamu untuknya. Dari yang hasil menipu papa kamu, dia bilang kamu yang menabrakkan mobilnya ke sebuah warung. Dan harus mengganti kerusakan warung juga mobil papamu. Tapi kenyataannya, mama kamu malah menggunakan semua yang yang papa kamu berikan menjual nama kamu untuk pria itu!" jelas Renata panjang lebar.
"Darimana kamu tahu semua ini?" tanya Rani.
"Aku mencari tahu, aku perduli padamu Rani. Aku perduli pada papamu. Papi Ku dulu orang yang sangat kaya raya, dia punya banyak detektif. Aku menyewa salah satunya, ya... meskipun aku juga pakai uang papamu untuk melakukan ini. Tapi setidaknya aku tidak menjual nama siapapun!" kata Renata.
Rani yang terkejut dengan semua ucapan Renata yang berbanding terbalik dengan semua penjelasan sang mama pun merasa hatinya sangat sakit.
"Mama, apa semua ini benar? mama hanya memanfaatkan aku untuk terus minta uang pada papa? apakah itu benar ma?" tanya Rani.
"Tidak sayang, dia berbohong. Wanita itu berbohong. Dia itu ingin mendekati kamu nak, dia ingin kamu simpati padanya!" kata Wulan membela diri.
"Rani, aku tidak perlu simpati mu. Karena kamu mau setuju atau tidak, papamu akan tetap menikahi aku. Papa kamu tidak Alan pernah percaya kalau putri yang sangat dia sayangi, dia cukupi semua kebutuhannya, dia didik dengan baik akan mengakhiri hidupnya dan meninggalkan papanya, adik-adiknya dan juga Oscar!" kata Renata.
Rani tertegun.
"Oscar?" tanya Rani dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, dia kekasihmu kan? dia sangat menyayangi mu. Kembalilah jadi Rani yang dulu, Rani yang baik, tidak pernah mengeluh meski peluhmu bercucuran saat membantu mendorong motor Oscar yang kehabisan bensin, atau bannya kempes. Jadilah Rani, yang menjadi kebanggaan papamu. Bukan Rani yang bolak-balik ke ruang BK hanya karena masalah sepele. Jangan merasa semua yang kamu inginkan harus kamu dapatkan, karena aturan dalam kehidupan tidak seperti itu. Kamu mengerti kan Rani?" tanya Renata yang membuat Wulan ketar-ketir.
***
__ADS_1
Bersambung...