Tega

Tega
Bab 178


__ADS_3

Arumi masih terus bersitegang dengan papinya sampai saat ini. Arumi bahkan menolak untuk sarapan pagi bersama dengan papi, mami dan keluarganya yang lain.


Membuat Arista harus menghampiri Arumi karena tak ingin papinya yang menghampiri Arumi. Padahal dia tengah menyiapkan sarapan untuk kedua anak kembarnya, Raja dan Ratu.


Arista sengaja mengajukan diri, agar tidak terjadi keributan di pagi hari yang tenang di kediaman Wijaya ini. Lagipula anak-anaknya masih sangat kecil, mereka baru berusia empat tahun, kasihan kalau harus mendengar pertengkaran.


Tok tok tok


Arista mengetuk pintu kamar Arumi.


"Pergilah bi, katakan pada majikanmu itu kalau aku tidak akan makan sebelum tuntutan ku di penuhi! hidup demokrasi!" pekik Arumi dari dalam kamarnya.


Arista tak bisa menahan tawanya, bagaimana bisa Arumi masih bisa berkelakar seperti itu. Bagaimana dia mengakhiri kalimat penolakannya dengan mengatakan 'hidup demokrasi!'


"Arumi, ini aku. Buka pintunya, aku belum sarapan, aku tidak punya tenaga sama sekali untuk mendobrak pintu kamar mu!" seru Arista dari luar kamar Arumi.


Mendengar yang berada di luar kamarnya adalah kakak yang pro dengannya. Maka Arumi langsung bergegas mendekati pintu untuk membuka pintu tersebut.


Ceklek


Setelah pintu di buka, Arista langsung masuk ke dalam kamarnya Arumi. Lalu kakak Arumi yang hanya beda 2 tahun darinya kyu langsung menutup kembali pintu kamar Arumi.


Arumi melihat Arista dengan tatapan yang sama seperti ketika Park Jimin menatap Hobi hyung nya yang mengatakan kalau Jimin tidak bisa menembak dengan baik, saat mereka menjadi satu tim melawan Suga dan V. Tatapannya sama persis seperti itu.


"Hei, jangan menatapku seperti itu? aku ini kakakmu, aku dua tahun lebih tua darimu, nasi yang ku makan setidaknya juga lebih banyak darimu!" kata Arista yang memang meski dia tipikal orang yang serius. Tapi kalau bersama Arumi, Arista tidak pernah bisa serius.


"Lalu apa? kenapa kamu tidak take down video itu sebelum papi dan Kak Renata melihatnya?" tanya Arumi.


Arista lalu duduk di tepi tempat tidur Arumi.


"Sayangnya video itu Renata yang terlebih dulu melihatnya, dia langsung lapor ke papi!"

__ADS_1


"Dasar tukang ngadu!" keluh Arumi menyela Arista.


"Aku juga tidak menyalahkan Renata! apa yang dia lakukan itu sudah benar. Kalau tidak mana mungkin kamu punya kekasih kan? dan aku pikir karena semua itu kamu pasti sebentar lagi akan menikah!" kata Arista pada Arumi.


Arumi langsung meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap kesal ke arah Arista.


"Apa katamu? menikah? dengan anak juragan tabung gas elpiji itu, bisa meledak aku nanti. Tidak akan pernah, never ever forever!" tegas Arumi.


"Ha ha ha, apa aku tadi mengatakan kamu akan menikah dengan anak dari partner kerja papi itu? tidak kan?" tanya Arista membuat Arumi mengernyitkan keningnya bingung.


"Jadi dengan siapa? ayahnya? iyuh... tambah ogah, amit-amit tujuh turunan, delapan tanjakan, sembilan pengkolan!" kata Arumi membuat Arista terkekeh.


Inilah kenapa Arista dan Arumi begitu cocok, mereka selalu bisa menghibur satu sama lain. Mereka bisa di bilang satu frekuensi lah begitu.


"Ha ha ha, Arumi perutku sakit. Ya ampun aku belum sarapan. Kamu sudah membuatku tertawa begini! aduh!" kata Arista yang terkekeh lagi.


Arumi pun memandang sendu ketika kakak keduanya itu tertawa sampai memegangi perutnya.


'Setidaknya itu akan mengurangi beban di hatimu, kak!' batin Arumi.


"Baiklah, sekarang dengarkan aku baik-baik. Kamu harus sarapan, karena untuk melakukan apa rencanaku ini kamu harus punya cukup tenaga!" kata Arista.


Arumi lantas memperhatikan kakaknya itu dengan serius. Dulu, kakaknya itu juga yang memberinya ide untuk memohon pada mami mereka agar Arumi bisa hidup mandiri, karena di usianya yang baru 22 saat itu, Arista mendengar papinya punya rencana ingin menjodohkan Arumi dengan salah satu orang kaya dari luar negeri. Tapi Arista sudah mencari tahu tentang pria itu, dia sangat tidak baik. Arista lalu merencanakan pelarian Arumi saat itu.


Dan kali ini, Arista juga sudah mencari tahu kalau Rendra adalah pria baik. Meskipun Renata bilang dia duda yang tidak bisa tegak. Tapi bagi Arista kebahagiaan rumah tangga itu bukan hanya tentang urusan ranjang semata. Banyak hal lain, dan Arista percaya Rendra adalah pasangan terbaik bagi Arumi meskipun dia duda dengan satu anak. Dan yang paling penting menurut Arista adalah mereka saling mencintai.


"Katakan!" kata Arumi tak sabar.


"Dengar, jam sepuluh nanti aku akan mengantarkan Raja dan Ratu menghadiri pesta ulang tahun temannya, saat itu kamu sudah harus ada di bagasi mobilku. Mengerti...!"


"Kak, yang benar saja. Kemarin aku kabur lompat pagar dan masuk truk bekas tukang angkut pasir. Kenapa sekarang malah di dalam bagasi sih?" tanya Arumi.

__ADS_1


Plakkk


Arista memukul kepala Arumi dengan pelan.


"Aduh!" pekik Arumi.


"Lebai, itu tidak akan sakit!"


"Tapi kak...!"


"Coba pikir, mana ada orang yang kabur pakai cara yang sama. Bisa gampang ketahuan dong, katanya lulusan Oxford University, kok dudul sih?" tanya Arista kesal.


Arumi hanya berdecak kesal saja.


"Aku akan alihkan para penjaga dengan mengatakan kamu tidak ada di kamar tepat jam 9.30. Saat itu kamu sembunyi di belakang pintu kamarmu. Setelah aku menutup pintu dan semua orang mencari mu keluar, kamu keluar lewat pintu depan, aku akan matikan CCtv lewat ponselku. Kamu masuk ke dalam bagasi. Semua itu harus terjadi dalam 30 menit mengerti. Karena setelah itu CCtv akan kembali menyala!" Arista menjeda kalimatnya.


"Aku akan hubungi Rendra, aku akan menurunkan mu di Kantor Urusan Agama. Kalian harus menikah hari ini juga Arumi, karena besok teman papi itu akan datang dan melamar mu untuk anaknya...!" Mata Arista berkaca-kaca dan tak bisa meneruskan apa yang ingin dia katakan pada Arumi.


Arumi langsung memeluk Arista.


"Kak...!"


"Kamu harus bahagia Arumi, kamu tidak boleh seperti aku atau Renata. Kamu harus bahagia dengan orang yang kamu cintai dan mencintai kamu!" lirih Arista yang tak lagi sanggup membendung tangisnya.


"Kakak memang yang terbaik, terimakasih banyak kak!" kata Arumi.


Arista mengangguk dan mengusap wajah Arumi dengan lembut.


Tapi Arumi masih tidak habis pikir, kalau dia bisa merencanakan hal sebaik ini untuk Arumi. Kenapa dulu kakaknya itu tidak bisa membuat rencana yang baik juga untuk kebahagiaan nya. Sampai dia harus menikah dengan seorang pengusaha kaya raya tapi di jadikan istri kedua.


"Sudah, sekarang kamu harus turun. Sarapan yang baik. Jangan berdebat dengan siapapun. Mengerti!" tegas Arista yang langsung di angguki oleh Arumi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2