
Di sebuah klinik di luar negeri, terlihat seorang pasien klinik tersebut yang baru saja menjalani operasi. Wajahnya sampai semua kepalanya tertutup perban. Bahkan hanya terlihat ujung hidungnya dan kedua matanya yang tampak bengkak.
Pasien itu seorang pria, dia sedang duduk sambil melihat sebuah berita di tablet yang dia pegang. Tak terlihat ekspresi wajahnya seperti apa karena memang wajahnya tertutup perban. Mulutnya bahkan sepertinya tak bisa terbuka karena memang perban itu membuat mulutnya ikut tertutup, benar-benar hanya terlihat bibirnya saja yang mengatup.
Tapi setelah melihat berita di tabletnya itu, pria itu langsung membanting tabletnya itu ke lantai.
Brakkkkk
Dua anak buahnya yang sedang berdiri di samping tempat tidur pasien nya pun mundur beberapa langkah ke arah belakang. Setelah itu keduanya saling pandang dan wajah mereka terlihat ketakutan.
***
Sementara itu Sarah dan Tristan baru kembali dari kantor. Mereka tiba di apartemen mereka sekitar pukul 6 petang.
Sarah langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera menyiapkan makan malam untuk Tristan.
Setelah selesai, dia langsung ke dapur untuk memasak.
Tapi baru masuk ke dapur, perutnya sudah terasa mual.
Sarah rasanya bahkan ingin muntah, dia lantas mengambil air minum dan duduk sebentar di kursi. Tapi saat dia bangun dan akan menghidupkan kompor, dia kembali mual dan ingin muntah.
"Huekk!"
Tapi saat dia ke wastafel, malah tidak ingin muntah lagi. Sarah sampai memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Aduh, ini kenapa ya?" tanya Sarah sambil bergumam.
Tristan yang juga sudah selesai mandi dan ganti pakaian lantas menghampiri Sarah di dapur. Melihat istrinya memijit keningnya, Tristan bergegas mendekati Sarah.
"Sayang, kamu kenapa? pusing?" tanya Tristan.
"Tidak tahu, kepalaku pusing! saat aku berdiri di sini. Tapi kalau aku duduk di kursi itu tidak!" kata Sarah menjelaskan.
Tristan yang baru mendengar tentang hal itu lantas mengernyitkan keningnya. Tapi Tristan langsung melihat semua barang yang ada di dekat kompor.
__ADS_1
Sebotol minyak membuat pandangan Tristan tertuju padanya. Tristan lantas meraih botol minyak itu dan mendekatkannya lagi pada Sarah. Dan benar saja, Sarah langsung kembali mual dan ingin muntah.
"Tristan, apa yang kamu lakukan?" tanya Sarah protes.
Tristan kemudian meletakkan kembali botol minyak goreng itu.
"Sayang, ini artinya kamu mual kalau mencium bau minyak. Ya sudah, kamu duduk manis saja di kursi. Biar aku yang membuat makan malam!" kata Tristan.
"Maaf ya Tristan!" kata Sarah tak enak hati karena suaminya yang harus membuat makan malam.
Tapi hal itu bukan masalah bagi Tristan yang memang pandai juga memasak. Tristan membuat masakan dengan cepat. Setelah itu dia menghidangkannya di depan Sarah.
Tapi baru satu suap, Sarah langsung kembali mual.
"Tristan, aku tidak bisa makan. Aku ke kamar saja, kamu lanjutkan makannya!" kata Sarah yang langsung berdiri dan hendak meninggalkan Tristan.
Karena Sarah tak enak kalau dia terus seperti itu, Tristan juga akan kehilangan selera makannya.
"Sayang, sebaiknya kita ke dokter! setelah makan siang kita tadi kamu makan sesuatu lagi tidak?" tanya Tristan yang khawatir pada Sarah.
"Aku tidak makan apapun, aku hanya minum jus saja jam 3 sore" jawab Sarah.
"Sayang, atau mungkin kamu kelelahan. Tadi kan waktu kita pulang kamu juga tidur di mobil selama perjalanan pulang. Atau lebih baik kamu tidak usah bekerja lagi ya sayang!" kata Tristan.
Sarah terdiam, dia tidak merasa kelelahan.
"Aku pikir aku tidak kelelahan, entahlah Tristan!" kata Sarah bingung sendiri.
"Ya sudah, aku ambil jaket dulu ya untukmu. Kita ke rumah sakit saja. Takutnya jus yang kamu minum tadi bermasalah!" kata Tristan yang langsung di angguki oleh Sarah.
Setelah mengambil jaket untuk istrinya. Tristan membawa Sarah dengan hati-hati menuju basemen. Tristan terus memegang kedua lengan Sarah, benar-benar menjaganya dan takut istrinya itu tiba-tiba jatuh. Padahal Sarah belum selemah itu. Dia hanya mual dan pusing saja.
Begitu masuk ke dalam mobil, Sarah kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dan mereka langsung menuju ke rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari apartemen Tristan.
Begitu sampai di rumah sakit, Tristan memperlakukan Sarah seperti saat di apartemen tadi.
__ADS_1
"Tristan, aku tidak apa-apa. Aku bisa jalan sendiri dengan baik!" kata Sarah yang tak enak banyak yang memperhatikannya.
Sarah malah takut orang-orang salah paham dan menganggap Sarah punya penyakit parah karena Tristan yang terlihat begitu cemas dan sangat hati-hati menjaganya.
"Tidak apa-apa sayang, aku takut kamu tiba-tiba terjatuh. Duduklah, aku akan ambil nomer antrian!" kata Tristan yang membantu Sarah untuk duduk lalu dia mengambil nomer antrian di dokter umum.
Begitu sampai giliran Sarah, Tristan juga ikut masuk, saat Sarah di periksa tensi darahnya oleh seorang perawat di ruangan berbeda dari ruang periksa juga sampai ruang periksa.
"Nyonya Sarah, 26 tahun, tensi 110/70. Baik, silahkan berbaring di tempat periksa!" kata dokter pria itu sambil memasang stetoskop di telinganya.
Setelah Sarah berbaring di bantu Tristan, dokter muda itu lantas memeriksa detak jantung Sarah. Dan juga nadinya.
"Saya pikir, tuan dan nyonya sebaiknya pergi ke poli ibu dan anak, ke dokter kandungan!" kata dokter muda itu setelah memeriksa Sarah.
Mata Tristan langsung membulat sempurna, begitu dia mendengar kata dokter kandungan di ucapkan oleh dokter itu.
Sarah juga langsung bangun begitu dokter itu memintanya untuk bangun.
"Dokter kandungan?" tanya Tristan bingung, tapi dalam hatinya dia juga excited.
"Benar, sepertinya nyonya Sarah hamil. Tapi untuk lebih jelasnya, tuan dan nyonya bisa memeriksa ke dokter kandungan di rumah sakit ini!" kata dokter muda itu sambil tersenyum.
Dia memang sering mendapati pasangan muda yang seperti ini. Tidak sadar kalau istrinya sedang hamil.
"Sayang, kamu hamil!" kata Tristan memeluk Sarah dengan wajah yang sangat bahagia.
Dokter muda itu ikut tersenyum melihat kebahagiaan Sarah dan Tristan.
Tristan lantas pergi bersama Sarah ke dokter kandungan yang ada di satu lantai setelah lantai dokter umum ini.
Dokter kandungannya seorang wanita, dia meminta Sarah untuk melakukan tes urine. Dan setelah melihat hasilnya, dokter itu lantas berkata.
"Selamat tuan Tristan dan nyonya Sarah, kalian akan menjadi orang tua! Nyonya Sarah hamil. Dan usia kehamilannya sudah masuk trisemester pertama akhir, sekitar 7 minggu!" kata dokter itu membuat Tristan sampai bersorak karena sangat senang dan langsung memeluk Sarah, dan membuat air mata bahagia Sarah menetes begitu saja karena dia akan menjadi seorang ibu.
***
__ADS_1
Bersambung...