
Sarah sedang duduk bersantai di balkon sambil menikmati udara dan pemandangan sore matahari yang sudah nyaris tenggelam. Sampai tiba-tiba Widya mendekatinya dengan cepat dan memeriksa Sarah dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ibu, ibu kenapa?" tanya Sarah bingung.
"Sarah, nak. Kata Tika kamu hampir jatuh, eh sudah jatuh tapi di tolong orang?" tanya Widya panik.
"Huh... si Tika. Ceritanya pasti di tambahin bumbu-bumbu gak asik ya Bu? aku gak papa kok, Alhamdulillah! untung ada Tano yang nolongin aku!" kata Sarah sambil tersenyum.
"Iya kata Tika teman kerja kamu yang istrinya sedang pms dan minta suaminya beli pemb4lut ya?" tanya Widya lagi.
"Ya ampun, Tika ceritanya detail banget ya Bu!" kata Sarah terkekeh kecil.
"Nak, tapi kata Tika. Tika tuh lihat orang itu sengaja buat kamu jatuh. Mulai besok, ibu minta ayah kamu kirim bodyguard ya buat jagain kamu. Ibu jadi was-was!" kata Widya cemas pada keselamatan Sarah.
"Gak susah Bu, lagian aku gak akan kemana-mana kok kalau gak kepengen!" kata Sarah.
"Makanya itu, nurutin pengennya ibu hamil itu agak repot nak. Pokoknya ibu akan langsung telepon ayah minta kirimin bodyguard kepercayaan nya, dia atau tiga orang!" kata Widya yang sudah bersiap masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya.
"Gak usah Bu, ayah Arya juga ada kok kalau bodyguard. Gak usah jauh-jauh impor dari kita batu!" kata Sarah menggoda ibunya sambil terkekeh.
"Kamu ini, dari kota batu mana di impor. Masih satu negara tahu!" kata Widya yang ikut terkekeh bersama Sarah.
"Ya sudah, sudah mau petang. Kalau ngidam pengen lihat sunset nya sudah keturutan, cepat masuk ya!" kata Widya.
"Iya Bu!" jawab Sarah yang lantas membuat Widya tersenyum dan kembali masuk ke dalam apartemen.
Sarah lantas terdiam sambil melihat matahari terbenam.
"Nak, kita berdua harus selalu kuat. Papa kamu memang sangat pintar, dan hebat. Dia sudah jadi pengusaha sukses, akan banyak yang ingin menjatuhkan papa lewat kita. Tapi kita berdua tidak boleh jadi kelemahan papa. Kita harus jadi kekuatan papa, oke!" kata Sarah yang bicara pada calon jagoannya dan Tristan.
***
Sementara itu di apartemen sebelah. Terlihat seseorang sedang mengacak-acak barang-barangnya karena tak bisa melampiaskan kekesalannya pada orang yang sedang bicara padanya melalui panggilan telepon.
"Maafkan aku bos, tadi katanya dorong. Jadi aku pikir..!"
__ADS_1
"Diam bodoh!" pekik Brian Kim alias Jerry Alando.
"Bagaimana kalau Sarah terluka, aku bilang dorong, bukan dari atas tangga. Bagaimana kalau kepala Sarah terbentur, aku akan menghabisi mu!" bentak Brian Kim pada anak buahnya.
"Maafkan aku bos, tidak akan ku ulangi. Maafkan aku bos!"
"Sudahlah, beruntung Sarah tidak terluka. Tetap awasi terus kemanapun dia pergi. Jika kamu kemarin jadi orang tua, besok jadilah seseorang yang berbeda. Jangan sampai Sarah curiga ada yang mengawasinya!" kata Brian Kim pada anak buahnya.
"Baik bos!"
Brian Kim lantas meletakkan ponselnya, masih ada hal lain yang harus dia kerjakan malam ini. Dia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk mengakhiri kebebasan dan hidup nyaman Hera.
Malam ini mereka punya janji temu di sebuah yacht di dermaga. Brian Kim sudah menyiapkan rencana istimewa yang akan membuat Hera menyesal pernah mendekatinya.
***
Sementara itu Hera sendiri sudah berdandan sejak setengah jam yang lalu. Dia menggunakan mantel tebal, dan di dalam mantel tebal tersebut. Hera sudah mengenakan dress paling tipis dan paling minim bahan yang dia punya.
Dia sengaja melakukan itu untuk merayu Brian Kim. Hera selama ini tidak pernah kalah taruhan. Dan Hera pun kali ini optimis tidak akan kalah, dan pasti menang.
Dan Hera sudah menyiapkan mental untuk menjadi pacar dengan cara backstreet dengan Brian Kim. Kepercayaan diri Hera begitu tinggi, padahal kalau dia tahu pria yang sedang ingin dia rayu itu adalah Jerry Alando. Hera pasti sangat menyesal mendekati pria tersebut.
"Sempurna, Hera.. kamu memang seperti seorang bidadari! sangat cantik dan menawan!" ucap Hera memuji kecantikannya sendiri di depan cermin.
Hera juga sudah menyiapkan senjata andalannya. Obat yang biasa dia pakai untuk cara terakhirnya merayu seorang pria agar jatuh pada perangkapnya.
Hera memasukkan dua buah tablet obat ke dalam plastik kecil dan memasukkannya ke dalam dompetnya bersama dengan ponselnya.
Hera bersiap pergi ke tempat yang sudah di share lokasinya oleh Brian Kim. Hera juga merasa senang, karena tempat yang di tentukan oleh Brian Kim adalah sebuah dermaga tempat bersandarnya yacht pada pebisnis terkenal.
Hera pergi dengan mobilnya, meninggalkan rumah besar kediaman Ricardo itu. Sampai saat ini Ari Ricardo dan Fitria belum kembali. Karena mereka juga punya urusan bisnis selain check up kesehatan Fitria di Singapura.
Tak berapa lama kemudian, Hera sudah sampai di dermaga. Tampaknya masih sangat ramai.
Sepertinya tempat itu baru saja selesai di jadikan tempat syuting.
__ADS_1
Hera langsung menghubungi kembali Brian Kim untuk mengetahui kemana dia harus pergi selanjutnya.
"Halo Brian, aku sudah sampai di dermaga. Kamu dimana?" tanya Hera.
"Oh iya Hera, aku masih ada dua scene lagi syuting. Maafkan aku, biasanya anginnya kencang. Para kru agak kesulitan mengambil gambar!" kata Brian Kim beralasan.
"Tidak apa-apa, aku tahu kesalahan pasti ada para kru. Tidak mungkin darimu. Baiklah, dimana aku harus menunggu mu?" tanya Hera.
"Tunggu saja di yacht milikku...!"
"Apa?? kamu punya yacht?" tanya Hera menyela Brian Kim.
Hera terlalu terkejut, kalau sudah punya yacht, artinya Brian Kim itu kaya raya. Hera jadi semakin bersemangat untuk mendapatkan pria itu, sudah tampan, terkenal, kata raya lagi. Sungguh tipikal pria sempurna untuk Hera.
"Kenapa? kamu terkejut?" tanya Brian Kim.
"Ah tidak juga, aku tahu kamu memang sangat kaya. Dimana yacht milikmu?" tanya Hera.
"Kamu datang saja ke dermaga, di sana ada yang menjaga. Tanya saja, dimana yacht milik Brian Kim?" kata Brian Kim.
"Oke baiklah, aku akan menunggu mu di sana!" kata Hera.
Brian Kim memutuskan panggilan telepon, Hera langsung menyimpan kembali ponselnya dan menuju ke dermaga. Benar saja ada seorang penjaga berpakaian hitam-hitam menghampiri Hera.
"Selamat malam nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga berkacamata itu.
"Dimana yacht milik Brian Kim?" tanya Hera.
Penjaga itu langsung mengangguk paham.
"Mari saya antarkan anda kesana nona!" kata penjaga itu mempersilahkan Hera.
Hera tampak senang, tanpa dia menaruh curiga sama sekali. Kalau kejutan yang tidak menyenangkan sedang menunggunya.
***
__ADS_1
Bersambung...