
Tawa Tristan langsung menghilang dari wajahnya yang tadinya sangat cerah. Wajah Tristan mendadak muram, namun ketika dia melihat ke arah Sarah. Dia berusaha untuk tetap tersenyum.
"Oh, jadi sudah di daftarkan ya? baiklah. Kita besok akan pengadilan. Hem... tapi sebelum itu, kita makan dulu ya Sarah. Sup nya sangat enak kalau di makan saat masih hangat!" kata Tristan berusaha untuk tegar menghadapi apa selanjutnya yang akan terjadi di hadapannya nanti.
Dirinya sadar, dia adalah seorang pria. Seorang pria sejati akan menghadapi apapun akibat dari perbuatannya.
Tristan menyendok sedikit daging dan kuah sup, lalu meniupnya sedikit lalu menyodorkannya pada Sarah.
"Sarah, cobalah! ini sudah tidak panas!" kata Tristan masih dengan senyumnya.
Sarah tahu kalau senyum kayu terlihat sangat tulus. Sarah juga ikut tersenyum dan membuka mulutnya.
Sarah makan daging dan kuah sup yang Tristan suapkan padanya.
"Em... kamu benar. Ini enak di makan saat hangat!" kata Sarah.
Mereka terlihat akrab dan menikmati makan siang berdua mereka. Dengan senyum dan sesekali Tristan menyeka sudut bibir Sarah yang belepotan kuah atau terkena bumbu dari daging yang dia makan.
Tristan melakukan nya sambil memandang wajah Sarah. Wajah wanita yang sudah beberapa bulan menjadi istrinya, tapi sebentar lagi. Tristan juga tidak tahu, apakah mereka akan tetap menjadi suami istri atau tidak nantinya.
Setelah selesai makan. Tristan pun bicara pada Sarah.
"Sarah, bolehkah besok kita berangkat bersama saat kita akan ke pengadilan?" tanya Tristan pada Sarah.
Sarah pun mengangguk setuju.
"Iya, tentu saja!" jawab Sarah.
"Aku akan menjemputmu di apartemen kita!" kata Tristan lagi.
Meskipun sebenarnya Sarah lebih nyaman tinggal di rumah sewa panti sementara. Tapi Sarah merasa kalau tidak ada salahnya dia malam ini tinggal di apartemen agar Tristan bisa menjemputnya besok dan mereka bisa pergi berangkat ke pengadilan bersama-sama.
Sarah mengangguk sekali lagi.
"Iya, aku akan menunggumu. Jam sembilan kurang ya, karena jam sembilan tiga puluh kita sudah harus berada di sana!" kata Sarah.
__ADS_1
"Baiklah!" sahut Tristan sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah itu mereka kembali dalam situasi canggung, keduanya sama-sama diam. Tapi kemudian Sarah pamit pada Tristan, karena memang dia harus kembali ke kantor.
"Aku harus kembali ke kantor, terimakasih untuk makan siangnya Tristan!" kata Sarah yang lantas berdiri dan berjalan ke arah pintu kafe.
"Sarah!" panggil Tristan.
Sarah pun berbalik lagi ketika mendengar Tristan memanggilnya.
"Bolehkah, nanti malam aku pulang ke apartemen?" tanya Tristan.
Deg
Jantung Sarah berdetak begitu kencang dalam satu detik.
Sarah terdiam, rasanya dia benar-benar ingin menangis dan pergi dengan cepat dari tempat ini. Perasaannya sekarang benar-benar sangat tidak karuan. Kenapa semuanya jadi begini. Itulah yang ada di pikiran Sarah.
Tristan yang melihat Sarah terdiam, masih berusaha mendekat ke arah Sarah. Tristan meraih tangan Sarah dan menggenggam nya dengan erat.
Sarah menarik tangannya dari genggaman Tristan, Tristan sudah berpikir kalau memang sudah tidak ada kesempatan lagi baginya. Tristan menundukkan kepalanya menyadari kalau memang semua ini pantas untuknya. Tapi dia tidak bohong, kalau hatinya memang saat ini benar-benar hanya terisi oleh Sarah saja.
Dan apa yang Tristan sangka ternyata salah.
"Pulanglah, aku pergi dulu!" kata Sarah yang langsung meninggalkan Tristan yang masih diam mematung di tempatnya.
Tristan mengerjapkan matanya, tapi kemudian dia bersorak senang. Tristan benar-benar senang mendengar jawaban Sarah. Dia boleh pulang ke apartemen, setidaknya Tristan merasa tenang, karena Sarah mau bicara padanya.
Tristan terus bersorak senang, dia melanjutkan pekerjaannya dengan begitu bersemangat. Sementara Sarah sudah berada di dalam taksi menuju ke perusahaan. Dia terus melihat ke arah jendela kaca mobil taksi tersebut.
'Entah ini benar atau salah, tapi aku harap apapun yang terjadi besok, adalah yang terbaik untuk semuanya!' batin Sarah terus berharap yang terbaik.
***
Sementara itu, Arumi yang telah tiba di kantor Rendra langsung berlari ke arah lift. Dia menyerobot antrian dan membuat banyak orang menyoraki nya. Masalahnya ini adalah jam masuk kerja setelah istirahat usai. Tentu saja banyak karyawan yang akan masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Namun dengan santainya, Arumi berkata pada mereka.
"Aduh, sorry. Urgent nih guys.... sorry ya!" kata Arumi sambil menutup pintu lift dan menekan angka dimana kantor rendra ada di lantai itu.
Ting
Pintu lift terbuka, Arumi bergegas menuju ke ruangan Rendra, bahkan tanpa mengetuk pintu. Karena kebetulan sekertaris Rendra juga tidak ada di mejanya, di depan ruangan Rendra.
Ceklek
Rendra terlihat menatap Arumi dengan serius. Pandangan Arumi lantas beralih pada seorang wanita yang memakai mini dress ketat, tapi bukan sembarang mini dress. Mini dress itu dari merek yang baru saja mengontrak Park Jimin sebagai brand ambassador nya.
"Bagus, jadi benar kamu ada hubungan dengan pria ini?" tanya wanita berambut merah gelap itu.
"Ck... kakak ngapain sih kesini? jangan bilang kakak bikin ribut ya di sini?" tanya Arumi menghampiri Renata.
"Jadi benar dia kakak kamu, dia mengaku anak Candra Wijaya, apa itu juga benar?" tanya Rendra yang menunjukkan wajah yang tidak terlalu terkejut.
Masalahnya Rendra sudah mencurigai tentang Arumi itu sejak dia memakai jam tangan yang harganya bisa seharga satu buah apartemen di kawasan elit. Belum lagi kemarin lalu, kalung yang dipakai Arumi juga limited edition di negara ini. Rendra sudah bisa menduga, Arumi memang bukan wanita dari kalangan rakyat jelata.
"Jika kamu tidak mengakui papi, artinya kamu anak durhaka Arumi. Sudah mengaku saja, lagian kenapa sih kamu tetap ingin mandiri. Kenapa juga kamu memblokir nomer ku dan Arista, apa maksud nya kamu begitu? kami kakak mu Arumi?" tanya Renata yang cukup kesal karena Arumi tidak mengijinkan kedua kakaknya memantau Arumi.
Tapi fokus Arumi bukan pada Renata yang sedang bicara panjang lebar. Dia sedang melihat ke arah Rendra yang sedang menatapnya.
'Jadi itu alasannya, kenapa kamu mengatakan padaku untuk melupakan apa yang terjadi di antara kita di pesta ulang tahun Hera waktu itu? Jadi karena kamu memang bukan wanita sembarangan, kamu menganggap aku tidak pantas?' batin Rendra berspekulasi sendiri.
Arumi yang tidak tahu apa yang sedang Rendra pikirkan, hanya berharap Rendra tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Tapi kenapa kakak kemari?" tanya Arumi yang mengalihkan pandangannya pada Renata.
Renata terlihat kesal, karena Arumi malah berkata seperti itu.
"Kamu masih tanya kenapa? video kamu berciuman dengan duda ini sudah vir4l dimana-mana. Kamu masih tanya kenapa kakak kemari?" tanya Renata kesal pada Arumi.
***
__ADS_1
Bersambung...