Tega

Tega
Bab 169


__ADS_3

Inka bahkan bergerak mundur ketika Alan bergerak maju mendekatinya.


Yumi yang merasa ada yang tidak beres dengan ndoro putri nya itu langsung menggenggam tangan Inka.


Dan ternyata benar, tangan ndoro putri nya itu sangat dingin.


'Ada apa ini? kenapa ndoro terlihat sangat takut pada aden Jerry?' tanya Yumi dalam hatinya.


Inka pun menggenggam erat tangan Yumi.


Brak


Alan melemparkan sebuah dokumen di atas meja yang letaknya tak jauh dari posisi Inka berdiri.


"Tanda tangani itu!" kata Alan begitu enteng.


Setelah mengatakan itu Alan bahkan langsung duduk di kursi taman yang terbuat dari besi berukiran antik berwarna hijau tua di dekat meja tersebut.


"Ap... apa ini mas?" yang Inka takut.


Meskipun takut, Inka juga harus tahu tentunya. Dokumen apa yang ada di hadapannya itu.


"Itu dokumen yang isinya kamu akan patuh padaku kalau masih mau jadi istriku. Kalau tidak mau lagi, silahkan tidak usah tanda tangan dan pergi saja dari rumah ini!" kata Alan begitu santai seolah menyuruh istrinya pergi itu bukan sebuah masalah besar.


Yumi saja yang mendengarnya ikut kesal, tapi karena Yumi merasa dirinya hanya sebatas pembantu saja. Yumi tetap diam, sambil menggenggam erat tangan Inka yang semakin lama terasa semakin dingin.


"Cepat!"


Alan memekik dengan nada tinggi, Inka dan Yumi bahkan sama-sama terjingkat mendengar bentakan Alan tersebut.

__ADS_1


"I...iya mas!" kata Inka yang kemudian menandatangani dokumen itu dengan cepat.


Alan langsung meraih dokumen itu dan berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah Alan pergi, Inka pun duduk di kursi yang ada di sebelah meja. Tapi bukan kursi yang tadi bekas di duduki Alan. Tapi di sisi lain meja.


Inka yang terbiasa hidup di manja, dan semua orang bicara padanya dengan tutur kata halus. Begitu terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh suaminya sendiri itu. Inka memejamkan mata dan memegang dadanya yang akhir-akhir terasa sakit. Tapi Inka tak pernah mengatakan itu pada siapapun, termasuk pada Yumi.


"Yumi, tolong ambilkan aku air hangat ya!" kata Inka.


Yumi langsung mengangguk, dan kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Inka terus memegang dadanya yang semakin lama semakin terasa sakit.


"Aduh, kenapa sakit sekali ya. Mas Jerry benar-benar bisa membuatku jantungan kalau begini terus. Tapi aku harus bagaimana, aku tidak bisa mengatakan pada ayah dan ibu, mereka pasti akan membawaku pergi dari sini, dan perceraian akan membuat dua keluarga malu, aku juga masih sangat mencintai mas Jerry. Aku harus apa sekarang?" gumam Inka yang merasa begitu dilema paska menikah dengan Alan.


Tak lama setelah itu, Yumi datang dengan segelas air hangat. Setelah minum air hangat yang tadi di bawakan Yumi. Keadaan Inka membaik, Inka merasa nyeri di dadanya perlahan hilang.


Yumi pun berdiri lebih dekat lagi pada Inka.


"Ndoro putri, sebenarnya ada apa? apa ndoro putri dan aden Jerry bertengkar?" tanya Yumi penasaran.


Inka ragu untuk menjawab jujur atau tidak pada Yumi. Tapi Inka merasa kalau Yumi tahu masalah ini, dia tidak mungkin diam. Yumi pasti mengadu pada ayah dan ibu Inka. Dan Inka tak ingin hal itu terjadi, perjuangan Inka untuk bisa menjadi nyonya Jerry Alando itu sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Rasanya Inka tidak ingin mengakhirinya seperti ini. Dia masih berharap kalian sebenarnya Jerry Alando itu sedang menguji kesetiaan cintanya. Apakah Inka akan terus mencintainya, kalau Jerry Alando berbuat seperti itu pada Inka. Tapi sesungguhnya Inka hanya berharap harapan yang semu. Karena semua itu tidak benar.


Jerry Alando tak akan pernah berubah, karena sejak awal niatnya kembali ke keluarganya dan menikahi Inka adalah untuk harta dan kekuasaan saja.


"Tidak apa-apa. Sudah siang, ayo kita masuk. Ibu mertua pasti sedang menyiapkan makan siang. Ayo kita bantu!" ajak Inka pada Yumi dan langsung di balas anggukan kepala oleh Yumi.


Di ruangannya, Tristan sedang melihat ke arah wanita yang duduk di hadapannya. Wanita itu sedang melaporkan tentang laporan keuangan bulan ini pada Tristan.


Sebenarnya tugas seperti ini, seharusnya menjadi tugas Bu Sisilia. Tapi karena Tristan sudah kembali di angkat menjadi CEO PT Arya Hutama. Maka dia bebas memberi perintah bukan, pada karyawan di perusahaan nya.


Dan Tristan minta pada Sisilia agar Sarah yang melaporkan tentang laporan keuangan bulan ini padanya.

__ADS_1


"Tanggal 19, pengeluaran sangat signifikan. Berlangsung lebih dari dua hari sampai tanggal 21. Meski tidak mempengaruhi keuangan perusahaan, namun bantuan yang digulirkan untuk proyek dengan perusahaan Timur terlalu besar...!"


Plak


Sarah menutup map laporan keuangan yang dia pegang dan meletakkan nya dengan tidak lembut di atas meja di hadapan Tristan.


"Kamu dengar tidak sih aku dari tadi bicara panjang lebar, membaca dua halaman laporan keuangan bulan ini, Tristan?" tanya Sarah ketus.


Masalahnya sejak tadi, tatapan Tristan terus tertuju pada Sarah. Tapi malah senyum-senyum sendiri dan membuat Sarah kesal. Karena Sarah yakin, pria yang baru saja mendapatkan kembali semua fasilitas mewah dari ayahnya itu mendengarkan apa yang sedang dia jelaskan.


"Aku dengar sayang!"


"Panggil sayang lagi di kantor, aku tidak mau tidur dengan mu satu kamar!" gertak Sarah.


Tristan malah terkekeh.


"Sarah, apa salahnya aku panggil kamu sayang? tidak ada yang aneh dengan hal itu kan? kalau aku panggil Richard sayang, itu baru aneh, Sarah!" protes Tristan yang ingin sekali memanggil Sarah dengan kata sayang.


"Ck.. hentikan Tristan. Ini kantor, profesional dong. Ya sudah aku mau kembali ke ruangan ku!" kata Sarah lalu berbalik dan melangkah maju hendak menuju pintu keluar ruangan CEO.


Namun sebelum Sarah berjalan lebih jauh, Tristan sudah berdiri dari kursinya dan mengejar Sarah. Tristan bahkan sudah memeluk perut Sarah denhan erat dari arah belakang.


Dagu Tristan sengaja dia letakkan di bahu Sarah.


"Jangan pergi, aku belum puas melihatmu. Aku akan sangat rindu padamu, dan aku tidak akan bisa bekerja!"


Sarah hanya menghela nafas panjang.


"Lalu kalau kamu seperti ini apa kamu juga bisa bekerja?" tanya Sarah membuat Tristan tersenyum malu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2