
Yumi masih terus berusaha mencegah Inka yang bersikeras untuk turun dari atas tempat tidurnya.
"Nona jangan turun dulu nona, nona masih sangat lemah!" kata Yumi yang susah payah mencegah Inka yang bersikeras untuk turun dari tempat tidur pasien.
"Lepaskan aku Yumi, lepaskan!"
"Nona!"
"Aku mau menemui bi Mulya, Yumi. Aku mau minta penjelasannya. Gara-gara dia ayah dan ibu meninggalkan aku hiks... hiks.. aku sudah kehilangan mas Jerry, Yumi. Aku sudah kehilangan calon anakku, sekarang aku juga harus kehilangan ayah dan ibu. Tolong aku Yumi, aku ingin ke penjara, aku mau minta penjelasan pada wanita yang telah membuat ayah dan ibu membuang ku!" Kesal Inka.
Yumi menangis melihat nona nya seperti itu. Hatinya ikut sakit dan sedih, nona nya yang dulu menjadi kebanggaan tuan Damar Adhikara dan Widya Adhikara. Apapun permintaannya sebelum dia mengatakan, baru menunjuknya saja sudah di beri oleh tuan dan nyonyanya.
Apapun yang nona nya itu inginkan, selalu di penuhi. Bahkan ketika nona nya tidak ingin menikah. Tuan dan nyonya nya itu memenuhi keinginannya itu. Membiarkan Inka menunggu Jerry Alando. Tidak tahunya semua berakhir seperti ini.
Tuan dan nyonyanya meninggalkan nona nya sendirian. Di titik terendah di dalam hidupnya.
"Nona aku mohon, nona berdiri saja tidak kuat. Aku mohon nona!" kata Yumi sambil sesekali menyeka air matanya karena terasa perih.
"Inka!"
Yumi langsung menoleh ke arah pintu, begitu dia mendengar suara seorang pria memanggil nama Inka.
"Tuan Raes!" kata Yumi.
Raes yang baru datang dari luar kota, begitu terkejut mendengar apa yang terjadi di kediaman Kusuma Wijaya.
Raes langsung ke rumah Inka begitu mendengar bahwa wanita yang dia cintai itu di usir dan di talak oleh Jerry Alando. Begitu Raes sampai di rumah Adhikara, dia juga mendengar Inka berada di rumah sakit.
Raes langsung berlari menghampiri Inka dan memeluk Inka yang terlihat sangat menyedihkan.
"Inka, apa yang terjadi?" tanya Raes terlihat sangat sedih.
"Raes, antar aku ke penjara Raes, antara aku!" kata Inka yang melepaskan pelukan Raes darinya.
__ADS_1
"Penjara?" tanya Raes bingung.
Inka langsung mengangguk cepat berkali-kali.
"Iya, antarkan aku!" kata Inka.
"Tapi untuk apa?" tanya Raes bingung.
Kenapa dia harus mengantar Inka ke penjara? memangnya siapa yang ada di penjara dan kenapa Inka harus kesana? Raes bingung pada semua itu.
"Inka jelaskan padaku, kenapa kamu mau ke penjara?" tanya Raes.
"Ayah dan ibu membuang ku Raes, mereka meninggalkan ku. Aku mau penjelasan dari bi Mulya, Raes bawa aku ke penjara!" kata Inka sambil terisak.
"Tuan, tuan Raes. Jika mungkin tolong bawa nona Inka ke penjara untuk menemui bi Mulya. Nanti saya akan jelaskan di jalan, apa yang sebenarnya terjadi!" kata Yumi yang tak tahan lagi melihat nona nya terus histeris seperti itu.
Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Yumi. Raes yang juga tak mau melihat Inka terus memohon padanya langsung meminta mereka menunggu sebentar.
Setidaknya Raes harus ijin pada dokter di ruang sakit itu. Setelah mengurus ijinnya, Raes membawa sebuah kursi roda ke dalam ruangan Inka.
Saat Inka pergi, salah seorang perawat yang juga adalah orang yang diminta mengawasi Inka di rumah sakit melapor pada Baim, pengacara Damar Adhikara.
Baim langsung menghubungi salah satu temannya yang bekerja di penjara. Agar menyiapkan semuanya. Yang akan bisa menjadi petunjuk bagi Damar Adhikara dan Widya mencari keberadaan Tari, anak kandung mereka.
Sementara itu di dalam perjalan ke penjara, Yumi menceritakan apa saja yang dia lihat di kediaman Kusuma Wijaya. Tentang apa yang dilakukan Jerry Alando pada Inka.
Tangan Raes mengepal kuat, dia begitu emosi mendengar apa yang sudah terjadi pada wanita yang dia sangat cintai. Raes bahkan sudah mengatakan pada Jerry Alando Agara menjaga dan mencintai Inka. Kalau tidak Raes akan membawanya pergi. Tapi dia terlambat, Inka sudah mengalami banyak penderitaan karena Jerry Alando.
Yumi juga mengatakan kalau Inka keguguran.
"Keguguran?" tanya Raes yang langsung menatap Inka dengan tatapan sedih.
"Iya tuan, itulah yang membuat nona depresi. Dia kehilangan suami, calon bayinya dan kedua orang tuanya dalam waktu yang bersamaan!"
__ADS_1
"Tapi bagaimana bisa, om Damar Adhikara dan tante Widya bukan orang tua kandung Inka?" tanya Raes.
"Benar tuan, dari tes DNA menunjukkan kalau nona Inka bukan anak kandung tuan dan nyonya, melainkan anak kandung bi Mulya. Bi Mulya mengakuinya, dia menukar nona Inka dan putri kandung Tuan dan nyonya di rumah sakit, saat semua orang panik kala itu karena nyonya pendarahan setelah melahirkan!" jelas Yumi.
"Astaga, kenapa bi Mulya melakukan semua itu?" tanya Raes bingung.
"Itu.. itu agar nona hidup dengan bahagia, kata bi Mulya!" jelas Yumi.
Raes sampai geleng-geleng kepala, masih ada orang yang pikirannya picik seperti itu. Tapi seperti apapun seseorang menyimpan bangkai, baunya itu pasti akan tercium juga lama-lama. Dan kalau sudah begini, Inka di tinggalkan keluarganya. Maka dia akan kemana? kenapa ibu kandungnya tidak berpikir sampai ke sana. Padahal setahu Raes pelayan yang bernama Mulya itu di perlakukan layaknya saudara, layaknya keluarga oleh Widya.
Sementara Yumi menjelaskan panjang lebar, Inka hanya diam dan menatap nanar ke arah jendela mobil.
'Kasihan kamu Inka!' batin Raes.
Tak lama kemudian, mereka sampai di penjara. Raes juga turun terlebih dahulu dari dalam mobil. Lalu mengurus perijinan. Setelah itu dia membantu Inka dengan kursi rodanya. Dengan hati-hati Raes membawa Inka masuk ke penjara.
Petugas memanggil Mulya dan mengatakan ada yang mau menjenguknya. Tapi Mulya menolak, seperti biasanya dia selalu menolak kunjungan. Apalagi dari para penyidik dan pengacara Damar Adhikara.
Tapi begitu petugas penjara mengatakan nama orang yang menjenguk itu adalah Inka. Mulya langsung ingin bertemu dengannya.
Dari jauh saja, Mulya langsung berlari begitu melihat Inka duduk di kursi roda di ruang besuk tahanan.
"Inka!"
Mulya baru saja akan memeluk Inka, tapi Inka menatapnya dengan tajam. Tatapan yang di tunjukan oleh seseorang yang sedang marah, kesal, emosi pada orang yang sedang di tatapnya.
"Inka, ini ibu nak!" kata Mulya.
Mulya pikir sudah tidak ada lagi yang perlu di tutupi.
"Kenapa bi Mulya, kenapa melakukan ini padaku? kenapa bibi menghancurkan hidupku... hiks.. hiks... ayah dan ibu membuang ku, mereka meninggalkan aku. Semua ini gara-gara bibi, aku benci bi Mulya. Aku benci!!" pekik Inka membuat air mata Mulya mengalir deras, dan terduduk lemas di lantai.
***
__ADS_1
Bersambung...