
Tristan mengajak perawat yang memeriksa dirinya tadi mengendap-endap keluar dari ruang rawatnya.
Tapi sebelum keluar Tristan bertanya pada perawat itu.
"Di luar ada yang menjaga lagi tidak?" tanya Tristan.
Perawat itupun segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Tristan lalu lanjut melangkah lagi bersama perawat itu keluar ruang rawat nya. Sampai di depan ruangan dokter Alam. Perawat itu meninggalkan Tristan. Tapi sebelumnya Tristan sudah minta pada perawat itu untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun. Tristan bahkan mengatakan akan memberikan imbalan yang sepadan untuk perawat tersebut kalau dia sudah keluar dan sehat kembali nanti.
Setelah mengetuk pintu ruangan dokter Alam, dan mendapatkan sahutan untuk masuk ke dalam. Tristan pun masuk ke dalam ruangan dokter Alam tersebut.
"Tuan Tristan!" seru sang dokter yang senang karena pasien yang dia tangani sudah sadar.
Dokter Alam begitu takjub karena Tristan bahkan sudah bisa berdiri di depannya. Padahal kan beberapa saat yang lalu Tristan masih terbaring tak sadarkan diri saat dia memeriksanya.
"Dokter, aku ingin bicara padamu. Ini penting!" kata Tristan yang terkesan terburu-buru.
Tentu saja, karena sekarang dirinya tengah berada di ruangan dokter. Sedangkan Rendra dan Kevin bisa kapan saja terbangun. Kalau mereka menyadari Tristan tidak ada di ruangan tersebut, di atas tempat tidurnya pastinya mereka akan panik bukan. Dan rencana Tristan juga akan berantakan.
Tanpa di persilahkan oleh dokter Alam, Tristan langsung duduk di kursi. Karena meskipun dia sudah sadar dan sudah bisa berjalan. Kakinya yang sempat terluka masih sedikit sakit jika di pakai berdiri terlalu lama.
"Dokter, bisakah jika kamu mengatakan pada keluarga ku kalau aku amnesia?" tanya Tristan pada dokter Alam.
Dokter Alam langsung duduk di sebelah Tristan, di kursi satu lagi yang biasanya di pakai untuk tamu dan bukan di kursinya sendiri.
"Apa maksud anda tuan Tristan?" tanya dokter Alam.
"Aku sudah melakukan sebuah kesalahan dokter, aku ingin memperbaikinya. Tapi semua itu tidak bisa aku lakukan jika aku sadar sebagai Tristan yang ingat semuanya, sadar akan semuanya. Aku akan kehilangan istriku dokter. Tolong bantu aku, aku hanya ingin menunjukkan pada istriku dan juga ayahku. Kalau aku benar-benar telah menyesal atas apa yang aku lakukan. Tolong bantu aku mendapatkan kesempatan itu dokter!" kata Tristan panjang lebar.
Dokter Alam bahkan belum merespon apapun ketika Tristan melanjutkan lagi semua yang ingin dia katakan.
"Tolong bantu aku dokter. Aku tahu ayahku sangat menyayangi menantunya, aku ingin memperbaiki segalanya dokter!" ujar Tristan lagi.
Mendengar semua yang dikatakan Tristan, dokter Alam pun merasa iba. Dia juga sudah beberapa hari bersama dengan keluarga Hutama. Dan dokter alam juga sangat bisa merasakan hubungan dekat uang terjalin antara Sarah dengan tuan Arya Hutama dan juga Kevin.
Dokter Alam pun mengangguk.
"Tapi aku tidak bisa buat laporan nya. Itu menyalahi kredibilitas ku. Saat kamu sadar, kamu bisa memulai rencana mu. Saat aku di sana, aku hanya akan menjawab saja. Tidak bisa aku tuliskan dalam laporan. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantumu!" kata dokter Alam yang sudah mengupayakan apa yang bisa dia upayakan.
Tristan langsung berdiri dan menjabat tangan dokter Alam.
"Terimakasih banyak dokter, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan dokter!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Tristan pun kembali ke ruang rawatnya. Sama seperti saat dia pergi tadi. Tristan juga masuk ke dalam ruang rawatnya dengan mengendap-endap. Dia bahkan meminta dokter alam memanggil perawat yang tadi mengantarnya. Dan setelah memastikan Kevin dan Rendra masih tidur. Tristan kemudian kembali ke ranjang pasiennya dan kembali berbaring seperti semula. Dan perawat itu pun kembali memasang semua alat medis di tubuh Tristan.
Mendengar penjelasan dokter, perawat itu merasa sangat terharu pada apa yang di lakukan Tristan.
'Beruntung sekali istrinya, demi mereka tidak berpisah tuan tampan itu rela pura-pura amnesia!' batin si perawat meninggalkan ruang rawat Tristan.
Dia bisa membatin seperti itu tentu saja, karena dia tidak tahu apa yang sudah Tristan lakukan. Dan bagaimana sebenarnya Sarah dan Tristan bisa menikah.
Keesokan paginya...
Sarah dan tuan Arya Hutama datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Karena Kevin menginap di rumah sakit. Sarah akan menyiapkan Kevin di rumah sakit, dan mengantarkan Kevin ke sekolah dari rumah sakit juga.
Ceklek
Sarah membuka pintu kamar rawat Tristan, dan saat dia dan ayah mertuanya masuk ke dalam ruang rawat tersebut. Ruangan itu masih temaram, karena Rendra dan Kevin belum bangun.
"Mereka terlihat sangat lelah!" kata tuan Arya Hutama.
"Iya ayah, tapi aku harus bangunkan Kevin. Jika tidak, dia bisa terlambat ke sekolah!" kata Sarah yang langsung di balas anggukan kepala oleh tuan Arya Hutama.
Sarah menghampiri Kevin, dan sedikit mengganggu nya agar Kevin bangun. Dan tuan Arya Hutama menghampiri tempat tidur pasien Tristan.
Pria tua itu menghela nafasnya panjang, ketika yang dia lihat masih sama seperti semalam saat dia meninggalkan Tristan. Anak bungsunya itu masih tak ada tanda-tanda akan segera sadar.
Tuan Arya Hutama mengusap dahi Tristan perlahan.
Hingga apa yang tadi di ucapkan oleh tuan Arya Hutama itu, hanya dirinya dan Tristan saja yang bisa mendengarnya.
Sementara Kevin saat ini sudah berada di gendongan Sarah.
"Mama Sarah, aku mau sarapan roti bakar!" kata Kevin sambil menyandarkan kepalanya di dada Sarah karena sepertinya masih sangat mengantuk.
"Mandi dulu dong, mama Sarah akan pesankan roti bakar. Saat Kevin selesai mandi, roti bakar itu pasti...!"
"Pasti sudah datang!" sela Kevin mengangkat kepalanya karena merasa sangat senang.
"Pasti belum!" sahut Sarah sambil terkekeh.
Tuan Arya Hutama yang melihat Kevin cemberut pun ikut terkekeh.
"Mandi dulu deh, kan nanti kita bisa sarapan di mobil. Nanti mama Sarah suapi Kevin!" kata Sarah.
"Asik, mama Sarah akan mengantarkan aku ke sekolah!" seru Kevin sambil berlari menuju kamar mandi setelah turun dari gendongan Sarah.
__ADS_1
Sarah lanjut menyiapkan semua keperluan Kevin. Mendengar keributan di ruangan itu, Rendra pun jadi terbangun.
"Ayah, Sarah.. kalian sudah datang?" tanya Rendra sambil mengucek matanya dan mengusap wajahnya kasar.
Rambut panjang Rendra acak-acakan karena memang baru bangun tidur.
"Kalau lelah, tidur saja di rumah Rendra. Biar ayah dan Samsudin saja yang bergantian menjaga Tristan!" kata tuan Arya Hutama yang terus terang saja kasihan melihat Rendra yang tampak begitu lelah.
"Tidak apa-apa ayah. Sarah, pesan apa untuk sarapan Kevin?" tanya Rendra yang memang sudah hafal betul kalau di rumah sakit, Sarah akan memesan makanan agar lebih praktis untuk sarapan.
"Roti bakar kak, kak Rendra mau apa?" tanya Sarah.
"Aku American breakfast saja, sepertinya aku butuh banyak kalori!" jawab Rendra.
"Baiklah!" kata Sarah.
"Ayah sudah sarapan?" tanya Rendra.
"Sudah, dengan Sarah di rumah tadi!" kata tuan Arya Hutama.
Sedangkan si pangeran tidur, yang memang sedang berpura-pura tidur saat ini malah sedang mengomel dalam hatinya karena merasa kesal Rendra terdengar sangat akrab dengan Sarah.
'Sejak kapan mereka akrab begitu, menyebalkan. Kenapa kak Rendra meminta Sarah memesan makanan untuknya. Memangnya di tidak bisa pesan makanan sendiri. Dasar manja!' batin Tristan yang begitu kesal dengan Rendra dan Sarah yang terdengar akrab.
Setelah Kevin selesai mandi, Sarah mengurus Kevin dengan penuh perhatian. Rendra yang juga baru selesai mandi, melihat betapa Sarah menyayangi Kevin. Dirinya begitu terharu, dan sekaligus sedih. Rendra menundukkan kepalanya, mengingat hanya dua bulan saja Kevin merasakan sentuhan tangan ibunya, itupun tidak sering. Hanya beberapa kali dalam sehari. Itu juga kalau ayahnya yang meminta Gisella mengurus Kevin, jika tidak, maka Gisella akan menyerahkan semua urusan Kevin pada pengasuhnya.
Mengingat semua itu Rendra benar-benar merasa sedih, dia merasa gagal menjadi seorang suami yang seharusnya bisa mengarahkan dan memimpin istrinya. Karena itulah Rendra akhirnya menyerah dan melepas Gisella.
"Sudah siap! ya ampun... lihatlah siapa anak kecil tampan di depan mama Sarah ini?" tanya Sarah pada Kevin.
Kevin pun terkekeh mendengar apa yang Sarah katakan.
"Ayo mama Sarah, kita berangkat!" ajak Kevin sangat bersemangat.
Sarah dan Kevin membawa sarapan mereka, dan akan makan di mobil saja. Sedangkan Rendra juga sudah bersiap, Sarah juga membawakan baju ganti untuknya.
"Ayah, ini pilihan Sarah? lumayan juga!" kata Rendra yang merasa setelah pakaian kerjanya lumayan.
Dan si pangeran tidur pun kembali menggerutu dalam hati karena mendengar Sarah memilih baju kerja untuk Rendra.
'Sudah tidak bisa di biarkan ini, tadi sarapan, sekarang baju kerja. Dia pikir Sarah itu benar-benar mamanya Kevin apa?' kesal Tristan dalam hatinya.
'Tidak bisa di biarkan lagi!' lanjut Tristan membatin.
__ADS_1
***
Bersambung...