
Arumi tiba di sebuah rumah yang sangat besar dan luas. Untuk sampai di rumah utama saja, dari pintu gerbang itu sekitar 600 meter. Karena dari gerbang, banyak sekali taman, air mancur, pohon kurma, taman bunga dan beberapa kandang burung kakak tua yang menyambut orang-orang yang akan datang ke rumah Chandra Wijaya.
Cittt
Arumi sengaja menginjak pedal gas dengan mendadak. Dia memang melakukan itu untuk mengejutkan dan mencelakai anak buah papinya itu.
Melihat salah satu anak buah yang duduk di sampingnya terbentur dashboard dan keningnya benjol segede biji lato-lato. Arumi tampak tersenyum puas.
'Rasakan itu!' pekik Arumi dalam hatinya.
Arumi langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya dengan cepat. Dia tadi benar-benar pergi tanpa membawa apapun. Ponselnya bahkan masih ada di atas meja kerjanya di kantor tadi.
Begitu Arumi masuk ke dalam rumahnya, dia tidak tahu kalau ternyata semua anggota keluarganya sudah ada di ruang keluarga. Arumi yang merasakan suasana mencekam dan membuatnya merinding. Memilih berjalan perlahan sambil menundukkan kepalanya ke arah Arista. Kakak keduanya. Sebab sang mami sedang duduk di samping ayahnya yang tengah berdiri dengan posisi membelakangi Arumi.
Begitu semua orang melihat ke arah yang sama, Chandra Wijaya langsung berbalik dan menatap tajam ke arah Arumi.
"Bagus kamu ya? pergi dari rumah bertahun-tahun, lalu di luar sana membuat skand4l! apa seperti ini yang kamu bilang akan membuat kami keluarga Hutama membanggakan mu suatu saat nanti?" tanya Candra Wijaya dengan suara tinggi pria yang dia miliki. Oktafnya pun sangat tinggi, tapi sepertinya dia baru pemanasan. Mungkin kalau Chandra Wijaya lebih serius. Suaranya akan benar-benar membuat telinga beberapa orang di tempat ini berdenging.
Sementara Arumi hanya diam sambil terus menundukkan kepalanya. Meski di luar Arumi terlihat keras dan mandiri. Tapi di dalam rumah ini, dia tidak lebih dari seorang anak perempuan bungsu keluarga ini. Yang hanya dengan di pelototi oleh sang papi. Arumi bahkan tak akan sanggup berkata-kata dan berbuat apa-apa.
"Mas, sabar!" kata Yuliana, mami Arumi.
"Kamu lihat sendiri kan, dia sudah membuat keluarga kita malu. Videonya sudah tersebar, mungkin sudah ada yang menyimpannya sebelum Arista take down semua itu. Jika kamu di luar sana membuat kami malu. Maka lebih baik kamu tidak perlu keluar rumah lagi selamanya!" tegas Candra Wijaya.
Arista yang ada di sebelah Arumi terlihat menatap kasihan pada adiknya itu. Tapi mau bagaimana lagi. Di rumah ini, keputusan Chandra Wijaya adalah hal yang mutlak. Tidak bisa di ganggu gugat.
__ADS_1
Lalu jangan tanya seperti apa ekspresi Renata. Kakak pertamanya itu malah terlihat senang jika Arumi di marahi papinya.
"Kalian semua dengar. Mulai hari ini, Arumi Syakila Wijaya tidak boleh melangkah satu langkah pun dari rumah ini!" tegas Chandra Wijaya yang suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Mata Arumi langsung melihat ke arah sang papi.
"Tapi pi, aku punya pekerjaan. Rumah dan cicilan. Bagaimana aku melunasi semuanya. Aku bisa di tuntut pi!" kata Arumi yang sama sekali tidak mau di kurung di dalam rumah.
Selain pekerja dan rumah sederhana miliknya, Arumi juga tidak mau kalau sampai tidak bisa bertemu Rendra. Dia baru saja jadian dan punya pacar setelah 27 tahun menjomblo. Masak iya harus di kurung di rumah dan tak bisa kemana-mana.
"Semua itu, Arista yang akan mengurusnya. Kalau sampai kamu keluar dari rumah ini, papi pastikan kamu akan menyesalinya. Karena kamu yang akan menjadi penyebab keluarga Hutama dan seluruh karyawannya yang jumlahnya ribuan orang itu kehilangan pekerjaan mereka!" seru Chandra Wijaya lantas meninggalkan ruangan itu.
Arumi hanya berpikir, papinya marah karena dia mencium Rendra di pesta ulang tahun Hera. Dan videonya tersebar. Padahal masalahnya tidaklah sekecil itu.
Ada dendam lama antara Chandra Wijaya dan Arya Hutama. Dulu karir Chandra Wijaya pernah hampir hancur gara-gara Arya Hutama dan istrinya yang bernama Melati.
Melati hampir menang, sayangnya semua di gagalkan dengan licik oleh antek-antek Chandra Wijaya. Tapi saat semua ketahuan, Chandra Wijaya malah menyalahkan Melati, almarhumah ibunya Rendra dan Tristan. Dendam itu terbawa sampai sekarang, persaingan bisnis menambah dalam dan runyam dendam antara Chandra Wijaya dan Arya Hutama.
Meski Arya Hutama sudah berusaha melupakan dendam lama itu sejak kepergian Melati. Tapi sepertinya tidak bagi Chandra Wijaya. Sebisa mungkin bahkan Chandra Wijaya ingin menghancurkan Arya Hutama.
Jika saja Chandra Wijaya tahu kalau Arumi bekerja di perusahaan saingannya itu. Pasti sudah sejak lama, Arumi di minta pulang oleh sang papi. Sayangnya usaha Arumi bersembunyi dari sang papi pun ketahuan gara-gara video malam itu. Jika tidak mungkin hanya sang mami saja yang tahu keberadaan Arumi. Dan sebenarnya Yuliana juga yang selalu menutup akses anak buah suaminya tiap akan menemukan Arumi.
Tapi begitu melihat video Arumi yang viral itu, Yuliana juga cemas. Dan. akhirnya membuka akses bagi anak buah suaminya untuk mengetahui keberadaan Arumi.
Setelah kepergian Chandra Wijaya, Arista langsung merangkul Arumi.
__ADS_1
"Sudahlah.. di rumah ini juga tidak buruk. Semua fasilitas ada, kolam renang, minimarket, butik pribadi, lapangan golf. Semua ada. Kamu tidak akan bosan, ada Raja dan Ratu juga kan?" tanya Arista mencoba menghibur adiknya.
"Ya ampun Rista, kamu bilang kayak gitu sama dia mana mempan. Dia pasti kangen lah sama pacarnya yang duda itu. Lihat aja video waktu itu, gimana dia cium Arumi. Benar-benar gak punya malu!" kata Renata ketus.
"Apasih! kamu tuh yang gak tahu malu. Sudah hampir sepuluh tahun pacaran gak nikah-nikah juga. Jangan-jangan mas Nathan itu sudah punya istri!" kata Arumi tak mau kalah dari Renata.
"Jaga ya mulut kamu!"
"Kamu tuh yang jaga mulut, dasar mulut bau bawang...!"
"Apa kamu bilang!"
"Stop!"
Setalah mendengar Yuliana berteriak, keduanya baru diam. Yuliana yang tadi duduk dengan tenang, langsung berdiri dan menghampiri ketiga anaknya. Yang dua sedang saling tatap dengan tajam, kalau di visualisasikan seperti ada kilatan cahaya berbentuk kilatan petir antara mata Arumi dan Renata.
Sedangkan Arista hanya memijit pelipisnya yang terasa pening melihat kakak dan adiknya yang memang sejak kecil tidak bisa akur itu.
"Renata kamu masuk kamar!" kata Yuliana tegas.
Dan tanpa bicara lagi. Renata pun menurut pada apa yang dikatakan maminya.
"Mami bilang apa tentang syarat kebebasan kamu?" tanya Yuliana.
Arumi pun menunduk merasa bersalah, dia lupa akan hal itu. Maminya memberinya kebebasan asalkan dia menjaga dirinya dengan baik. Karena itu selama ini Arumi jomblo, tak di sangka pesona Rendra membuatnya lupa pada janji. Kalau dia tidak akan mencium pria sebelum pria itu datang pada kedua orang tuanya dan meminta ijin menjalin hubungan yang serius.
__ADS_1
***
Bersambung...