
Di tempat lain, tepatnya di sebuah kafe di dekat kantor Rendra. Renata sedang berada di sana, dia sedang membelikan sarapan pagi untuk Hamdan. Beberapa hari yang lalu, Renata membawakan sarapan roti panggang dengan isian daging tuna yang saute dengan daun basil. Dan Hamdan menyukai itu, padahal sebelumnya Hamdan bilang tidak pernah makan makanan seperti sebelumnya.
Pagi-pagi tadi Hamdan mengirimkan pesan pada Renata untuk membawakan dirinya sarapan seperti itu lagi. Dan Renata pun berada di kafe ini lagi, pagi ini untuk membelikan makanan pesanan Hamdan itu.
Tapi ketika Renata sedang menunggu pesanannya yang sedang di buat oleh koki kafe tersebut sambil memainkan ponselnya. Seseorang datang dan merebut ponsel Renata.
Renata yang memang punya saya respon kurang cepat sempat melihat ke arah dimana ponselnya di rampas. Tapi baru menoleh, ponselnya sudah di banting ke lantai dengan keras oleh orang yang tadi mengambil paksa ponselnya itu.
Brakk
Renata melihat ponselnya terbanting dan layarnya terlihat pecah. Ponsel itu juga langsung mati layarnya.
"Hei..!" pekik Renata marah begitu dia melihat siapa yang telah membanting ponselnya itu.
"Rasakan itu pelakor!" teriak Rani.
Tepat sekali, orang yang tadi merampas paksa ponsel Renata dan membanting ponselnya itu adalah Rani, anak sulung Hamdan.
Renata meraih ponselnya yang sudah pasti rusak itu dan menatap ke arah Rani dengan sangat kesal.
"Apa maksud kamu melakukan ini? aku sudah sabar ya selama ini menghadapi kamu! aku diam karena aku menghormati papamu. Jika tidak...!"
"Jika tidak apa?" tantang Rani yang menunjukkan wajah begitu sinis dan judes pada Renata.
"Kamu ini masih kecil ya, jangan cari masalah denganku. Dan satu lagi, jangan pernah menyebutku pelakor! karena papa kamu itu duda!" kata Renata dengan wajah yang mulai menunjukkan ekspresi serius.
"Permisi! mbak, dek.. tolong ya, masih pagi ini. Jangan bikin keributan. Itu pesanan mbaknya sudah jadi!" kata salah seorang pelayan kafe tersebut.
Renata lantas berbalik hendak menuju ke meja kasir. Namun saat dia kan jalan ke meja kasir, Rani malah meraih minuman dari salah satu meja pengunjung lain dan langsung menyiramkan minuman itu ke atas kepala Renata.
Renata terkejut, mata dan mulutnya terbuka. Tangannya juga terlihat mengepal karena sangat kesal dengan apa yang barusan di lakukan oleh Rani padanya.
Kesabaran Renata yang sangat tipis itu benar-benar sudah terkikis habis. Renata berbalik, dan ketika dia berbalik ternyata dia melihat Rani sedang tersenyum puas.
"Rasakan itu pelakor!" kata anak SMA itu sambil meninggalkan Renata dengan setengah berlari.
Renata mendengus kesal, berulang kali dia menghembuskan nafas dengan kasar. Bahunya naik turun karena sangat emosi.
__ADS_1
"Lihat saja anak nakal, apa yang akan aku lakukan untuk membalas perbuatanmu padaku ini!" kata Renata bergumam.
Setelah membayar roti panggang lapis tuna pesanannya. Renata pergi dari kafe itu tanpa membersihkan dirinya. Meskipun beberapa pelayan kafe sudah menghampiri dirinya dan berniat membantunya membersihkan diri. Renata menolak tawaran bantuan dari para pelayan kafe tersebut. Dan membiarkan dirinya dalam keadaan kuyup sedikit di kepalanya dan basah juga kotor sedikit pada pakaian kerjanya.
Sepanjang jalan menuju ke kantor Renata menjadi pusat perhatian. Tapi dia sama sekali tidak perduli akan hal itu. Ada hal yang ingin dia tunjukkan pada Hamdan. Tentang kelakuan anaknya yang semakin lama semakin membuat kesabaran Renata yang setipis kulit lapisan dalam buah salak itu habis tak bersisa.
Sampai di kantor, beberapa orang juga menegur Renata. Tapi Renata sama sekali tidak perduli juga tentang hal itu. Sampai Arista yang mendapatkan laporan dari resepsionis yang menghubunginya menunggu Renata di depan lift di mana lantai ruangan kerjanya berada.
Ting
Pintu lift terbuka, Arista yang sengaja menunggu Renata terkejut dengan penampilan kakaknya itu.
Rambut dan kepalanya lepek, sudah agak kering minuman yang tumpah itu. Lalu riasan wajahnya masih cetar, karena Renata pakai makeup waterproof. Tapi tetap saja bajunya terlihat kotor dan itu sangat tidak bagus di pandang mata.
"Renata! apa yang terjadi?" tanya Arista bingung.
Meski penampilan Renata seperti itu, tapi Arista melihat tangan Renata masih memegang sebuah paper bag kafe dekat kantor. Dan sebelahnya lagi memegang ponsel.
"Itu ponsel kamu kenapa? kenapa penampilan kamu begini?" tanya Arista cemas.
"Stop!"
Seru Renata ketika Arista akan menggandeng lengannya bermaksud membantu kakaknya itu membersihkan dirinya.
Arista lantas menarik tangannya lagi. Dan memandang heran pada saudaranya itu.
"Aku sengaja tidak membersihkan semua ini agar pak Hamdan yang terhormat itu tahu kelakuan putri kesayangannya padaku!" kata Renata menjelaskan kepada Arista dengan raut wajah serius.
Arista lantas menghela nafas berat.
"Astaga, jadi ini ulah anak SMA itu lagi. Sudahlah Renata, kalau kamu tidak bisa akur dengan anaknya, akan susah nanti kalau kalian tinggal bersama. Coba pikirkan lagi masalah hubungan mu dengan pak Hamdan itu!" kata Arista memberikan saran demi kebaikan saudaranya itu.
"Eits... kamu salah Arista. Kalau aku mundur, nanti anak abege labil itu besar kepala. Dia pasti merasa dia sudah menang, dan menyingkirkan aku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, dia sudah membuatku kesal. Dia merusak ponsel ku, dia membuat aku malu di depan orang banyak. Genderang perang telah di tabuh Arista, selangkah pun, bahkan setengah langkah pun aku tidak akan mundur!" ujar Renata dengan mata berapi-api.
Arista hanya bisa memijat kepalanya sendiri mendengar Renata berkata begitu.
"Jadi kamu mau bagaimana?" tanya Arista.
__ADS_1
"Wait and see! sudah ya, aku mau kasih sarapan ini sama pak Hamdan keburu dingin!" kata Renata yang lantas meninggalkan Arista menuju ruangan Hamdan.
Begitu Renata masuk ke ruangan Hamdan, pria itu terkejut bukan main melihat kondisi Renata.
"Renata, kamu kenapa?" tanya Hamdan panik.
Pria itu bahkan langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Renata. Tapi Renata melewatinya begitu saja dan mendekat ke meja kerja Hamdan.
"Ini sarapan mu pak Hamdan, dan ini...!" Renata meletakkan ponselnya di atas meja kerja Hamdan.
"Ini adalah ponselku yang rusak di banting oleh anak kesayangan mu. Lalu ini...!" Renata menunjuk dirinya sendiri. Lebih tepatnya ke arah kepala dan bajunya yang basah dan kotor.
"Ini adalah ulah anakmu juga, dia menuangkan es kopi kepadaku. Untung es kopi, coba kalau kopi panas. Aku tidak tahu aku harus ke Jerman atau Korea untuk operasi plastik!" lanjut kata Renata.
Hamdan terlihat menghela nafas berat, dia menyesal atas apa yang terjadi pada Renata karena ulah anaknya Rani.
"Renata, aku minta maaf atas semua ini. Aku akan menegurnya...!"
"Tidak pak, kalau kamu yang tegur dia tetap akan berbuat seperti ini di kemudian hari!" sela Renata.
"Lalu kamu maunya bagaimana, apa kamu mau hubungan kita...!"
"Iya pak!" sela Renata lagi.
Hamdan mengusap wajahnya kasar. Dia mengira Renata ingin hubungan mereka berakhir. Hamdan sangat sedih.
"Tolong jangan Renata, aku sangat menyayangi mu. Aku janji akan menegurnya dengan keras kali ini..!"
"Apanya yang jangan?" tanya Renata.
"Jangan putuskan hubungan kita Renata, aku sangat menyayangi mu. Aku akan ganti ponselmu dengan keluaran terbaru. Atau ada yang kamu inginkan lagi, liburan, perhiasan? tapi tolong jangan akhiri hubungan kita!" bujuk Hamdan pada Renata.
"Siapa yang mau putus pak Hamdan, aku justru mau kamu lamar aku secepatnya. Kalau perlu seminggu lagi kita nikah. Biar aku yang mendidik anak kamu yang labil itu!" ucap Renata membuat Hamdan tertegun.
***
Bersambung...
__ADS_1