
Sepanjang perjalanan menuju makam ibunya, Tristan hanya diam. Begitu pula Sarah. Selama hampir satu jam perjalanan, mereka lalui dengan keheningan. Bahkan Sarah sangat enggan menoleh ke arah Tristan. Begitu pula Tristan yang memilih terus fokus mengemudi.
Menurut Sarah, pemandangan di luar jendela lebih menyenangkan dan menghibur untuk di lihat, daripada wajah Tristan yang meskipun tampan tapi membuatnya jadi darah tinggi. Di luar Sarah sesekali tersenyum melihat beberapa hal menarik, seperti penjual eskrim keliling yang dagangannya ramai di serbu pembeli, atau toko kecil di pinggir jalan yang banyak sekali motor terparkir di depannya. Menurut Sarah sudah pasti toko itu banyak pembelinya.
Dan sesekali wajah Sarah juga suram, melihat seorang pedagang balon tua yang hanya mengayuh sepedanya pelan. Atau melihat seekor kucing yang terlihat kurus kering sedang berjalan di pinggir jalan dengan kasihannya.
Dan ketika mobil yang di kemudikan oleh Tristan itu melewati perumahan elite yang artinya sebentar lagi sampai di pemakaman ibunya Tristan. Tiba-tiba ponsel Tristan berdering. Sebenarnya bukan kali ini saja.ponsel Tristan berdering, tapi Tristan mengabaikannya setelah melihat layar ponselnya dan mengetahui nama pemanggilnya. Padahal ibu nomer pribadi, sudah pasti kalia tidak ayahnya, Richard, Rendra, atau sekertaris lainnya di perusahaan.
Tapi kali ini Tristan menepikan mobilnya. Hal ini tentu saja membuat Sarah refleks menoleh ke arah Tristan. Dan ternyata Tristan juga refleks menoleh ke arah Sarah. Alih-alih terjadi drama saling memandang yang menggugah hati, Tristan malah melotot ke arah Sarah.
"Kau diam ya, jangan bicara! kalau perlu jangan bernafas!" seru Tristan sebelum menerima panggilan telepon nya.
Sarah yang mendengar hal itu langsung mengepalkan tangannya, namun dia tidak perduli dan langsung melengos lagi mengalihkan pandangannya dari Tristan. Sarah lebih senang melihat baru kerikil yang tersusun.m tapi sebagai lantai trotoar yang ada di samping mobil Tristan yang sedang berhenti di tepi jalan itu.
"Halo sayang!"
Tanpa melihat pun Sarah sudah tahu siapa yang sudah menghubungi Tristan itu. Tapi Sarah sama sekali tidak perduli, menurutnya lebih menyenangkan menghitung semut yang lewat di dahan pohon pinang yang ada di tepi jalan dekat kaca jendelanya.
Tristan malah sengaja menghidupkan speaker ponselnya, entah apa niatnya. Ingin agar Sarah mendengar semua pembicaraan nya mungkin. Padahal Sarah tidak perduli sama sekali.
"Halo Tristan sayang, kamu tidak marah padaku kan. Maafkan aku ya, aku baru menghubungi mu sekarang. Aku sangat sibuk, kau tahu besok adalah pembukaan butik baru ku di sini. Kau tahu berapa senangnya aku, akhirnya impian ku terwujud Tristan. Aku punya butik di Paris! ini sangat luar biasa bukan?" tanya Shanum dari seberang sana.
__ADS_1
Mendengar Shanum membuka butik baru justru tidak ada senyuman sama sekali di wajah Tristan.
"Itu artinya kamu akan semakin lama di sana. Dan tidak akan menemui ku?" tanya Tristan yang terdengar sangat sedih.
Mendengar nada bicara Tristan yang lembut dan sedih, Sarah langsung melirik sedikit dari kaca spion ke arah Tristan yang ternyata memang wajahnya sedang terlihat sedih saat ini.
"Sayang, ayolah. Kita sudah bahas ini ratusan kali. Begitu aku sukses, aku pasti kembali padamu! kamu harus mendukungku dong, kamu tidak bangga apa? punya kekasih seorang wanita yang cantik, dan juga pebisnis dan designer yang sukses juga terkenal taraf internasional?" tanya Shanum yang membuat Tristan tersenyum lirih.
"Kalau begitu selamat untuk butik barumu, tapi apa kamu ingat kalau akhir bulan ini aku akan menikah?" tanya Tristan yang berharap Shanum bersimpati tentang hal itu meskipun sedikit saja.
"Aku tahu, tapi apa daya. Daripada kamu di coret dari kartu keluarga kan? Tidak apa-apa sayang, toh aku masih akan dua atau tiga tahun lagi kembali ke sana. Kamu menikah saja dengan pilihan ayahmu itu. Nanti kamu tinggal cari masalah saja kan dengan istrimu itu untuk menceraikan nya!" ucap Shanum dengan begitu santainya.
Sebagai seorang wanita, Sarah merasa kalau Shanum itu sama sekali tidak punya perasaan dan rasa empati. Kini dia tahu kalau kedua orang yang sedang berbicara di telepon itu memang satu server. Mungkin karena itu mereka bisa menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Benar-benar sama-sama egois dan hanya memikirkan diri mereka sendiri.
"Baiklah, jaga kesehatan mu dengan baik ya, jangan lupa makan. Aku akan menghubungi mu lagi nanti, love you Tristan!"
"Love you too!"
Sarah sampai bergidik mendengar kalimat manis yang di ucapkan Tristan untuk Shanum.
'Ternyata lebih mengerikan mendengar pria ini bicara manis daripada marah-marah!' batin Sarah.
__ADS_1
Tristan lalu menyimpan ponselnya kembali, sebenarnya dia sedikit menyesal juga menyalakan speaker ponselnya tadi. Maksudnya ingin pamer kemesraan bersama Shanum pada Sarah agar Sarah sadar kalau dia itu memang tidak berarti apa-apa untuk Tristan. Tapi malah semua tidak sesuai dengan harapan Tristan.
Sarah kembali melengos ke arah jendela, Tristan juga langsung kembali melajukan kendaraannya.
Setibanya mereka berdua di pemakaman, bahkan tuan Arya Hutama lebih dulu memeluk Sarah daripada Tristan. Dan hal itu membuat Tristan yang masih badmood karena telepon Shanum tadi bertambah badmood saja.
Saat Arya Hutama mengajak Sarah untuk mendekat ke makam ibunya Tristan, Sarah pun di berikan sebuah scraft oleh Samsudin. Sarah memakainya untuk kerudung dan berjalan bersama Arya Hutama ke makam Melati.
Makam itu begitu indah, dengan bunga melati di sisi kanan dan kiri. Bahkan bunga-bunga itu begitu bersih dan putih, juga sangat wangi. Dari sini saja Sarah bisa melihat betapa tuan Arya Hutama sangat mencintai mendiang istrinya.
"Mel, ini adalah Sarah. Calon menantu kedua kita. Aku sendiri yang memilihnya untuk Tristan, dia gadis yang sederhana, pekerja keras, jujur, sopan dan sangat mandiri. Dia wanita hebat Mel, dia mengasuh 24 adik-adiknya di panti, hanya dibantu tiga orang wanita yang sudah paruh baya. Meskipun dia bisa meninggalkan panti itu untuk hidup mandiri, dia memilih tetap tinggal disana untuk mengurus dan merawat adik-adiknya. Pilihan ku tidak salah kan Mel?" tanya tuan Arya Hutama dengan suara yang semakin lama semakin parau.
Sarah bisa melihat kalau tuan Arya Hutama matanya mulai berkaca-kaca. Sarah mengerti, pasti tuan Arya Hutama ingin menangis, tapi masih enggan dan menahannya karena masih menganggap Sarah tak perlu melihat hal itu. Sarah pun memikirkan sesuatu, kalau dia menganggap Arya Hutama sebagai ayahnya dan menganggap Melati sebagai ibunya, tentu Arya Hutama tak akan sungkan lagi bukan untuk menangis. Karena itu Sarah pun berkata.
"Assalamualaikum Bu!" ucap Sarah yang membuat Arya Hutama begitu terharu.
Arya Hutama bahkan langsung memeluk Sarah dan menumpahkan tangisnya karena kerinduannya pada Melati. Samsudin yang menyaksikan itu sampai ikut meneteskan air mata di sudut matanya. Tapi pria yang duduk di dekat Arya Hutama malah terlihat semakin kesal saja. Siapa lagi, kalau bukan Tristan.
***
Bersambung...
__ADS_1