Tega

Tega
Bab 135


__ADS_3

Sementara itu, Sarah sedang dalam perjalan menuju ke kantor Rendra menaiki sebuah taksi online. Tak butuh waktu lama dari mall untuk sampai ke kantor Rendra.


Kedatangan Sarah, benar-benar hanya ingin menyampaikan apa yang tadi Arumi sampaikan padanya. Kalau Arumi tak berniat kurang ajar pada Rendra karena mengatakan hal seperti itu. Arumi benar-benar hanya berniat baik, tak ingin Kevin punya mama Tira macam buaya betina yang satu itu. Tidak ada maksud lain.


Dan Sarah pun merasa kalau dia harus menjelaskan siapa sebenarnya Hera itu pada Rendra. Karena sama halnya dengan Arumi, Sarah tak mau Rendra jatuh pada rayuan dan perangkap Hera. Meskipun sebenarnya Sarah sudah yakin kalau hal itu tidak akan terjadi. Tapi Sarah ingin memperingatkan Rendra, karena bagaimanapun Rendra sekarang adalah keluarga Sarah. Dia tak mau saja sampai Rendra nanti di jebak oleh Hera. Yang Sarah tahu, Hera benar-benar sudah tidak tertolong kelicikannya.


Sarah tiba di kantor Rendra, kebetulan saja saat Sarah datang jam makan siang para karyawan memang sudah berakhir. Dan mereka sudah kembali bekerja seperti biasa. Jadi suasana kantor tampak sepi.


Sarah yang sudah tahu dimana ruangan Rendra karena sudah pernah mengantar Kevin ke kantor ini pun langsung masuk ke dalam lift dan menuju lantai dimana terdapat ruang kantor Rendra.


Begitu Sarah tiba di depan kantor Rendra, Sarah kembali di kejutkan karena dia mendengar suara perempuan yang sudah menusuknya dari belakang beberapa kali. Yang pertama, Hera mengatakan sesuatu yang membuat Sarah tidak bisa meninggalkan panti asuhan, hingga menolak untuk di adopsi hingga orang tua angkat yang seharusnya mengadopsi Sarah, malah harus mengadopsi Hera.


Yang kedua, Hera merayu kekasih Sarah yang bahkan sudah empat tahun berhubungan dengan Sarah. Dia menjerat Alan dalam perangkapnya. Hingga membuat Alan mengkhianati Sarah.


Sarah benar-benar geram ketika mendengar Hera memang seperti apa yang diceritakan Arumi tadi. Berusaha menggoda Rendra.


"Mas Rendra, ini aku yang masak sendiri loh. Mau ya mas makan!"


Suara seperti itu yang Sarah dengar dari dalam. Namun belum juga Sarah mendengar jawaban Rendra. Sarah sudah kesal, dan langsung mengetuk pintu ruangan kantor Rendra.


Tok tok tok


Bahkan tanpa menunggu tanggapan dari dalam. Sarah langsung membuka pintu ruangan kerja kakak iparnya itu.


Ceklek


"Selamat siang, kak Rendra!" kata Sarah yang langsung melangkah masuk meski belum di persilahkan.


Melihat Sarah datang Rendra terlihat senang, namun sebaliknya dengan Hera. Dia sedang berusaha merayu Rendra lewat masakannya. Namun melihat sarah datang, Hera benar-benar tampak tidak senang.

__ADS_1


'Huh, ngapain sih dia datang. Tadi temannya yang kayak abang-abang preman. Sekarang dia nih, orang yang selalu mendapatkan lebih dulu apa yang aku mau. Ngapain sih dia kesini, ganggu aja!' omel Hera dalam hatinya.


"Sarah, kebetulan yang menyenangkan. Kamu sudah makan siang belum? Hera membawakan banyak makanan, kita bisa makan siang bersama!" kata Rendra yang masih berusaha bersikap baik pada Hera.


Rendra melakukan semua itu karena tidak enak hati pada tuan Ari Ricardo dan nyonya Fitria, kedua orang itu sangat baik.


"Oh tidak kak, aku sudah makan siang tadi. Hera, ngapain kamu di sini?" tanya Sarah judes pada Hera.


Rendra hanya diam, tapi dia juga agak heran. Kenapa sikap Arumi dan Sarah begitu kasar pada putri angkat tuan Ari Ricardo itu. Tapi sebenarnya Rendra senang, Sarah datang, karena dia juga tak nyaman berdua dengan Hera di ruangan itu.


"Gak lihat? aku mau ajak mas Rendra makan siang. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Hera kesal pada Sarah.


"Aku di sini bukan urusanmu. Kak Rendra, aku ingin bicara...!"


Ketika Sarah menjawab pertanyaan Hera dan langsung beralih pada Rendra. Hera langsung mendekati Sarah dan mencolek sedikit lengan Sarah dengan kesal.


"Heh, gak bisa gitu dong. Aku yang kesini duluan, aku mau ajak mas Rendra makan siang. Kata sekertaris nya mas Rendra tadi sibuk banget, dan belum makan siang!" kata Hera yang tak ingin kehilangan kesempatan mendekati Rendra.


Sudah cukup selama ini Sarah diam, dan berusaha untuk tidak membuat keributan. Mengingat tuan Ari Ricardo dan nyonya Fitria adalah donatur tetap di panti asuhan. Tapi kali ini Sarah benar-benar tak mau diam lagi. Karena selain Hera memang sudah mengambil uang yang seharusnya milik adik-adik pantinya. Hera juga terlihat sangat ambisius mendapatkan Rendra. Sarah juga tak mau sampai Kevin punya mama tiri yang pastinya licik seperti Hera.


"Kamu...!" Hera masih berusaha melawan.


Namun Rendra yang tak ingin ada keributan di ruangannya langsung menengahi mereka.


"Sudah... sudah... Sarah, nona Hera. Tolong hentikan!" kata Rendra masih dalam tutur kata ramah dan sopan.


Terlihat sekali Rendra bahkan tidak menunjukkan kalau dia membela salah satu dari Sarah maupun Hera. Dia terlihat bersikap netral menghadapi situasi ini.


"Nona Hera..!" Rendra lantas menoleh ke arah Hera.

__ADS_1


"Aku memang belum makan siang, tapi aku juga sudah pesan makanan. Jadi tolong bawa saja makanan mu dari sini. Tadi pagi aku baru dari dokter, itu obatnya. Dan kata dokter aku tidak bisa makan makanan pedas!" jelas Rendra dengan sopan.


Hera pun menoleh ke arah meja, dan benar ada beberapa obat disana. Sedangkan makanan yang dia bawa memang makanan pedas. Tapi kalau Rendra tidak bermasalah dengan lambungnya, makanan itu memang akan sangat enak di santap di siang hari yang panas seperti itu.


"Masalah undangan ulang tahun nona Hera. Saya pasti datang, karena tuan Ari Ricardo sendiri tadi yang menghubungi saya!"


Mendengar perkataan Rendra seperti itu. Hera tampak begitu senang. Sebaliknya Sarah malah tak percaya apa yang dikatakan kakak iparnya itu.


"Oh, kalau begitu baiklah. Dan lain kali aku akan bawakan masakan yang sehat saja, bukan masakan seperti ini. Aku senang mas Rendra akan datang, aku pulang dulu kalau begitu. Sampai bertemu nanti malam mas Rendra!" kata Hera yang lanjut mengemasi barang-barangnya dan langsung keluar dari ruangan itu.


Setelah Hera pergi, Rendra bertanya pada Sarah.


"Sarah, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Rendra sambil mempersilahkan Sarah duduk.


"Kak, aku akan katakan hal ini padamu. Hera itu tidak baik, dia itu...!"


"Aku tahu, tapi aku sedang mencari cara untuk menghindarinya, aku akan pikirkan baik-baik caranya. Karena aku juga merasa tidak enak hati pada tuan Ari Ricardo dan istrinya!" jelas Rendra.


Sarah pun mengangguk paham.


"Oh ya, ada satu hal lagi kak!"


"Tentang apa?" tanya Rendra.


"Tentang Arumi, sebenarnya dia ingin minta maaf pada kak Rendra. Sesungguhnya dia tidak punya niat bicara lancang atau kurang ajar seperti itu di depan kak Rendra, niatnya hanya ingin menyelamatkan kak Rendra dari jeratan Hera!" jelas Sarah.


Dari penjelasan Sarah itu, Rendra malah punya ide bagaimana cara menghindar Hera. Tanpa menyakiti hati tuan Ari Ricardo dan istrinya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2