
Tepat pada pukul 9.30 pagi. Arumi langsung bergegas membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan menurunkan tirai jendela yang sudah dia ikat panjang ke luar. Setelah itu Arumi berjalan ke belakang pintu kamarnya dan bersembunyi di sana. Dan saat itu, Arista benar-benar membuka pintu kamar Arumi.
"Penjaga! Arumi tidak ada!" teriak Arista yang memang di lihat oleh penjahat yang selalu standby di depan kamar Arumi.
"Apa nona, nona Arumi tidak ada?" tanya penjaga itu terkejut. Masalahnya sejak tadi dia tidak melihat Arumi keluar dari kamar.
"Kamu kemari dan lihat sendiri!" kata Arista dengan wajah serius.
Penjaga itu dan rekannya langsung bergegas mengikuti Arista yang masuk ke dalam kamar Arumi. Arista langsung berlari ke arah jendela yang terbuka.
"Lihat, dia kabur! cepat!! papi bisa marah besar!" teriak Arista yang membuat dua penjaga itu semakin panik.
Mereka berpikir pasti Arumi sudah kabur seperti dulu, lompat dari jendela menggunakan sprei yang di ikat panjang sama seperti saat ini. Lalu melompat pagar saat penjaga tidak waspada dan kabur dengan truk pasir yang ada di dekat gerbang itu.
Para penjaga semuanya langsung menyisir sekitar rumah, saat itulah Arista mematikan semua kamera CCtv. Lebih tepatnya menghentikan proses perekaman, dan mengganti dengan rekaman yang sama hingga tidak terjadi perbedaan waktu. Arista terus memantau dari Smartphone nya pergerakan Arumi. Dia akan menghentikan perekaman kamera di ruangan yang akan di lalui oleh Arumi.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya seseorang dari arah belakang Arista.
Arista mendengus kesal lalu berbalik ke arah belakang. Dan benar saja, kakaknya sedang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Jangan ganggu aku kali ini saja, bisa kan?" tanya Arista.
"Aku akan hubungi papi!" gertak Renata.
"Hubungi saja, toh sekarang Arumi juga sudah pergi dari tempat ini. Papi sedang berada di luar kota, saat ini papi dan mami pasti sedang berada di penerbangan mereka. Butuh waktu dua jam sampai mereka sampai di sini. Saat itu Arumi sudah menjadi nyonya Rendra Hutama!" kata Arista dengan mimik wajah serius.
Mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, mata Renata membelalak lebar.
"Kamu gila Arista!" pekik Renata tak percaya adiknya melakukan semua itu.
__ADS_1
"Anggap saja itu benar, aku memang sudah gila. Aku yakin kamu juga sama Renata. Tapi aku tidak akan biarkan Arumi ikut gila seperti aku dan juga kamu!" tegas Arista dengan mata yang sudah merah dan berkaca-kaca.
"Papi bisa menghabisi mu! kamu sadar itu Arista?" tanya Renata yang memegang kedua bahu adiknya itu.
"Jika kamu tidak melapor pada papi, maka papi tidak akan menghabisi ku!" kata Arista yang memang sudah tidak takut akan apapun lagi.
Hatinya sudah mati sejak kekasihnya, ayah kandung Raja dan Ratu meninggal karena kecelakaan. Tapi Arista tahu, itu bukan kecelakaan. Raul di celakai oleh papinya sendiri. Dan saat dia sedang mengandung, papinya membuat skenario agar dia tidur dengan suaminya yang sekarang, padahal suaminya itu sudah punya istri. Hingga akhirnya, Arista dan keluarganya meminta pertanggung jawaban pria itu hingga di jadikan istri kedua.
Lima tahun Arista bertahan dan pura-pura tersenyum di depan semua orang. Itu sangat menyakitkan bagi Arista. Dan Arista tak ingin hal seperti itu terjadi pada Arumi.
Renata melepaskan tangannya dari bahu Arumi.
"Arista, kita tidak mungkin bisa melawan papi. Aku juga tidak mau Arumi celaka, setidaknya dia lebih baik dari kita. Dia akan menikah dengan pria yang masih muda dan kaya raya. Hidupnya akan bahagia...!"
"Pria itu punya kelainan Renata, aku sudah mencari tahu. Pria yang akan menikahi Arumi itu dia punya kelainan, banyak wanita yang di laporkan hang saat berkencan dengannya! pria itu playboy Renata, Arumi bahkan akan lebih menderita dari kita!" jelas Arista.
Renata lantas terdiam mematung, dia tak percaya papinya selalu membuat anak-anaknya menjadi alat untuk mencapai semua tujuannya. Tanpa perduli akan seperti apa nanti anaknya itu.
Renata menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kalian akan celaka nanti!"
"Kami tidak akan celaka, aku punya Raja dan Ratu, papi tidak akan mencelakai ku setidaknya sampai Raja dan Ratu mendapatkan hak waris dari Daddy mereka!" kata Arista menjelaskan.
Renata tak percaya Arista sudah memikirkan semua ini. Tapi tiba-tiba alarm di ponsel Arista berbunyi.
"Kita hanya buang-buang waktu di sini. Aku sudah minta pada penjaga mencari Arumi. Meski aku yakin Arumi sudah di bawa Rendra pergi jauh dari sini. Aku harus pergi, Raja dan Ratu mendapatkan undangan dari Tuan Shen untuk datang ke ulang tahun putrinya Meiling!" kata Arista yang lantas melewati Renata.
Tapi saya Arista lewat, Renata mencekal lengan Arista.
__ADS_1
"Jangan katakan kamu yang menghubungi Rendra, agar duda tua itu membantu Arumi kabur?" tanya Renata.
Arista menepis tangan Renata dan menatap dengan tatapan datar pada Renata.
"Itu benar! aku yang menghubungi Rendra!" kata Arista jujur.
"Kamu gila Arista, kita bisa celaka!"
"Maka pura-pura lah tidak tahu apapun, biar aku saja yang celaka!" kata Arista lalu pergi meninggalkan Renata yang tak mengerti jalan pikiran Arista yang begitu berani melawan papi mereka yang terkenal kejam.
Seperti rencana, saat semua orang mencari Arumi di luar, Arumi dengan leluasa mengendap-endap sampai masuk ke bagasi mobil Arista yang ada di garasi.
Tak lama Arista membawa Raja dan Ratu ke dalam mobil. Arista sangat berharap rencananya ini berhasil dan Renata tidak melakukan apapun. Karena sebenarnya dia juga masih bertahan hidup sampai sekarang demi kedua anak kembarnya itu. Kalau terjadi apa-apa padanya, di tidak tahu apa yang akan terjadi pada Raja dan Ratu. Karena yang tahu kalau mereka bukan anak suami Arista, hanya Arista, papi dan maminya saja.
Mobil Arista sudah keluar dari gerbang, dan menjauh dari ruang besar kediaman Wijaya itu. Sampai di rumah tuan Shen, Arista menurunkan Raja dan Ratu lalu menitipkan pada nanny mereka yang tadi memang ikut.
Arista mengatakan dia akan isi bensin dulu. Tapi Arista sebenarnya mengantarkan Arumi pada Rendra yang menunggu tak jauh dari pom bensin.
Begitu Arista melihat Rendra, Arista menepikan mobilnya. Rendra juga langsung menghampiri Arista.
"Buka bagasi, Arumi ada di bagasi!" kata Arista.
Rendra langsung bergegas membuka bagasi.
"Arumi!" kata Rendra terkejut melihat Arumi yang nyaris pingsan setelah setengah jam berada di bagasi.
"Keluarkan aku dari sini mas Rendra!" kata Arumi yang sudah lemas sambil mengulurkan kedua tangannya pada Rendra.
Arista yang melihat dari spion bagian dalam mobilnya hanya bisa berharap, kalau adiknya akan bahagia bersama Rendra. Dia percaya, keluarga Hutama punya kekuatan untuk melawan keluarga Wijaya.
__ADS_1
***
Bersambung...