Tega

Tega
Bab 185


__ADS_3

Sarah lantas terkekeh melihat apa yang di lakukan oleh Arumi. Karena tak ingin kakak iparnya itu membuat kekacauan yang lebih parah di dapur dan membuat semua orang jadi terlambat makan siang, Sarah mengajak Arumi untuk pergi dari dapur.


"Sudah, sudah... Arumi ayo, kita lihat Kevin saja. Apa dia sudah ganti pakaian atau belum!" kata Sarah yang langsung mencuci tangannya sampai bersih dan menarik tangan Arumi agar Arumi juga mencuci tangannya seperti Sarah.


Arumi yang merasa dia harus pergi dari kekacauan yang dia buat pun menuruti Sarah.


"Masak yang enak ya bi!" kata Arumi yang membuat dua asisten rumah tangga yang ada di dapur itu mengangguk lemas.


Bagaimana mendeskripsikannya ya, pokoknya mereka mengangguk, tapi karena kekacauan yang di buat Arumi memang sudah sulit di perbaiki. Alhasil mereka benar-benar hanya bisa mengangguk saja, sambil berpikir mau di apakan daging sebanyak itu yang sudah tercampur dengan lada hitam satu botol ukuran 250 gram lada hitam.


Sementara meninggalkan dua menantu keluarga Hutama. Tristan dan Rendra sedang berada di dekat kolam renang. Sambil meminum segelas minuman yang cukup tinggi kadar alkoholnya, tapi tidak akan membuat mereka mabuk.


Rendra dengan agak ragu-ragu bertanya pada Tristan.


Rendra duduk di kursi santai di tepi kolam, di sebelah Tristan dan kemudian bertanya.


"Tristan, apa kamu dan Sarah sudah... sudah..!"


Rendra terlihat segan untuk menanyakan hal pribadi seperti itu pada Tristan.


"Apa maksudmu kak?" tanya Tristan.


"Sudah apa?" tanya Tristan lagi yang malah jadi penasaran dengan apa yang ingin kakaknya katakan padanya itu.


"Maksud ku, itu... !"


"Itu apa!" sela Tristan malah membuat Rendra terkejut.


"Ssstt Tristan, jangan bicara keras-keras. Apa kamu mau aku kena serangan jantung?" tanya Rendra yang membuat Tristan mengernyitkan keningnya.


"Heh, kak. Kamu baru menikah dengan wanita aneh itu sehari, kenapa kelakuan mu jadi aneh begini. Cepat sekali virus bar bar wanita itu menyebar?" tanya Tristan.


"Jangan bicara seperti itu, dia kakak iparnya!" balas Rendra yang jelas sangat membela Arumi.


Maklum pengantin baru, masih anget-angetnya. Kalau pernikahan mereka sudah lima, enam, tujuh tahun, hadeh tidak akan ada tuh bucin-bucinan (ciee, author curhat).


"Baiklah, tapi apa yang ingin kakak tanyakan?" tanya Tristan lagi.

__ADS_1


Rendra lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalian sudah unboxing?" tanya Rendra yang akhirnya memberanikan diri mengatakan hal itu pada Tristan.


Awalnya Tristan terdiam, satu detik, dua detik, tiga detik... dan


"Ha ha ha!"


Tristan tertawa sampai gelasnya hampir tumpah isi di dalamnya. Tristan lantas meletakkan gelas yang dia pegang ke atas meja yang ada di dekatnya.


Melihat Tristan tertawa, dan sangat yakin kalau adiknya itu sedang menertawakan dirinya. Rendra jadi memasang raut wajah kaku.


"Teruslah tertawa, aku serius!" kata Rendra lagi.


"Kak, kalau kamu bertanya hal seperti itu padaku itu aneh! aku bahkan belum punya pengalaman, aku hanya mengikuti alur bersama Sarah. Tapi kalau kakak? kakak sudah punya Kevin, bagaimana sih kakak ini?" tanya Tristan tak habis pikir dengan pertanyaan kakak nya.


Masalahnya menurut Rendra berbeda, dulu dia menghadapi Gisella yang lemah lembut. Dan hanya menangis saat pertama kali merasakan sakit akibat unboxing mereka. Tapi kali ini, Arumi bahkan menendang Rendra. Rendra tidak tahu kalau dia tetap berusaha melakukan itu, entah Arumi akan mematahkan tangan dan kakinya atau tidak.


Tapi Rendra juga tidak mungkin mengatakan hal ini pada Tristan kan? bisa tambah terpingkal-pingkal lagi adiknya itu. Karena saat akan unboxing, Rendra justru terkena kick boxing.


"Ikuti saja alurnya kak, just follow the flow. Rileks... ha ha ha!" Tristan lagi-lagi menertawakan kakaknya itu.


"Selamat siang tuan Rendra, tuan Tristan. Di luar ada tamu. Katanya namanya nona Renata dan nona Arista!" kata asisten rumah tangga itu.


Tristan yang memang tidak tahu siapa mereke berdua itu lantas menoleh ke arah Rendra.


"Siapa?" tanya Tristan.


"Kedua Kakak Arumi!" kata Rendra yang langsung berdiri.


"Suruh mereka masuk bi, dan setelah itu panggilkan Arumi ya. Suruh dia ke ruang tamu!" kata Rendra dengan wajah serius.


"Baik tuan!" kata asisten rumah tangga itu dan langsung pergi dari sana.


Tristan pun ikut berdiri dan menghampiri Rendra yang tengah merapikan pakaiannya.


"Yang waktu itu datang ke kantormu?" tanya Tristan.

__ADS_1


"Iya, tapi Arista yang membantu Arumi kabur dari rumahnya!" jelas Rendra agar Tristan tidak sampai emosi pada Arista.


Tristan mengangguk paham, keduanya langsung menuju ke ruang tamu.


Begitu Renata melihat Rendra keluar, tanpa basa-basi dan tanpa ba bi bu, Renata langsung berseru dengan lantang.


"Dimana Arumi?" kata Renata yang memang ingin tahu keadaan adiknya itu.


Sementara Arista, dia nampak lebih tenang. Meski dia juga tidak menghentikan apapun yang dilakukan oleh Renata.


Rendra juga tampak tenang. Dia malah mempersilahkan kedua kakak iparnya yang usianya lebih muda darinya itu untuk duduk dulu.


"Silahkan duduk dulu, kita bisa bicara baik-baik kan kakak ipar!" kata Rendra membuat Renata membelalakkan matanya tak percaya.


Sementara Arista yang sudah menduga hal itu pun hanya menghela nafas lega. Dia bersyukur, keluarga Hutama melakukan saran yang sia berikan untuk menyelamatkan Arumi dari pria playboy dan sikopet yang akan di jodohkan dengannya besok.


"Apa maksud mu menyebut kami seperti itu?" tanya Renata terkejut.


"Makanya kalian duduk dulu, marah-marah aja nanti kalian cepat keriput!" kata Tristan yang kesal melihat Renata sejak tadi terus-terusan emosi.


Tapi dasarnya Renata keras kepala, dia tetap menatap Rendra dengan tatapan tidak suka. Pasalnya bukan hanya karena perintah papinya, tapi dia juga banyak mendengar hal tidak baik tentang Rendra, duda anak satu itu dari mantan istrinya yang juga teman sosialita Renata, yaitu Gisella.


"Kamu tidak mau basa-basi lagi, kami tahu Arumi pasti berada di sini kan? dan kami kesini untuk membawa Arumi pulang!" kata Renata.


"Arumi tidak akan kemana-mana!" tegas Rendra.


Renata makin kesal dengan jawaban Rendra itu.


"Dia akan pulang bersama kami, atau kami akan laporkan kalian dengan kasus penculikan...!"


"Kakakku sayang, yang namanya penculikan itu, kalau mas Rendra yang datang ke rumah dan membawaku pergi. Kalau aku yang datang pada mas Rendra itu namanya bukan penculikan!" kata Arumi yang baru datang ke ruang tamu bersama dengan Sarah.


Mendengar Arumi berkata seperti itu. Renata langsung kesal, dia ingin menghampiri Arumi tapi di cegah oleh Arista.


Arumi malah berdiri di samping Rendra, lalu merangkul lengan Rendra.


"Dan yang harus kamu tahu lagi kakakku sayang, aku dan mas Rendra sudah menikah. Lihat ini!" kata Arumi memperlihatkan cincin mereka berdua pada Arista yang hampir kebakaran jenggot, kalau dia punya jenggot.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2