Tega

Tega
Bab 156


__ADS_3

Rendra mengajak Tristan untuk bicara di luar kafe itu. Sementara Sarah masih duduk diam di kursinya. Rasanya sangat sulit untuk bisa Sarah percaya apa yang dia lihat barusan. Suaminya, seorang Tristan Maulana Hutama. Anak konglomerat terpandang dan ternama di kota ini, yang sejak kecil sampai dewasa selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Hidup dengan bergelimang harta.


Hari ini Sarah melihat pria yang biasa memakai setelan jas mahal dan kemana-mana naik mobil mewah itu, menjadi seorang pelayan kafe. Pakaiannya, seragam pelayan yang harganya pasti tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah. Lalu dia memakai celemek di pinggangnya, Sarah benar-benar tak bisa percaya itu. Sarah mengusap wajahnya kasar beberapa kali.


Sarah merasa ikut andil pada apa yang telah terjadi pada Tristan itu. Sarah terus berusaha menghela nafasnya yang terasa sesak setelah melihat apa yang Tristan lakukan.


(Padahal sebenarnya menjadi pelayan kafe itu sama sekali tidak buruk, sekarang bahkan pria paling tampan di dunia yang bersertifikat kan jadi pelayan di kafe. Jinny's Kitchen. ARMY pasti tahu dong siapa pria tampan bersertifikat itu? Pria tampan nomor satu itu bahkan mencuci piring di kafe itu, bahkan tiap malam dia makan dua sampai tiga ramen untuk mengusir penatnya)


Tapi tetap saja Sarah merasa apa yang menimpa Tristan ini, ada andil Sarah disana. Dan hal itu membuat Sarah seperti merasa bersalah pada Tristan.


Di sebelah kafe, Rendra masih diam dan menunggu adiknya menjawab pertanyaan nya, kenapa Tristan bisa bekerja di kafe itu.


"Aku tadi pagi keluar mencari pekerjaan, saat aku baru membaca kertas lowongan kerja di salah satu kafe yang belum buka. Pemilik kafe ini langsung mendatangiku, di bertanya apa aku sedang butuh pekerjaan. Dan aku jawab iya, dia langsung mengajakku kemari dan memberiku pekerjaan, ini tidak buruk kak. Aku bahkan di gaji di atas rata-rata pekerja di sini!" kata Tristan menjelaskan pada Rendra apa yang terjadi sampai dia bisa bekerja di kafe dekat rumah sakit tempat ayahnya di rawat itu.


"Berapa gajimu?" tanya Rendra yang langsung tertarik pada kalimat terakhir Tristan yang mengatakan tentang gajinya.


"Lima juta!" kata Tristan.


Rendra sampai terdiam, sepertinya dia sangat yakin kalau adiknya itu memang saat ini sudah berubah menjadi lebih baik. Tristan yang bahkan dulu tidak menghargai uang sebanyak 500 juta sekali pun. Dari apa yang Rendra dengar barusan itu adiknya sangat menghargai gaji yang hanya 5 juta saja dari cafe tersebut.


Ada rasa iba pada Tristan dalam hati Rendra. Tapi lebih dari itu, Rendra merasa bangga pada Tristan karena saat terpuruk sendirian seperti itu, Tristan mana bisa berubah menjadi lebih baik. Dia tidak menyerah, dia tidak meratapi nasibnya yang di coret dari kartu keluarga Hutama. Tristan langsung bangkit dan mencari pekerjaan. Itu benar-benar membuat Rendra bangga.

__ADS_1


"Lalu kamu tinggal dimana?" tanya Rendra.


"Aku tinggal sementara di apartemen Richard, tapi kalau aku sudah gajian. Aku pikir aku akan pindah dari sana, mungkin menyewa sebuah rumah kos kecil yang ada di belakang kafe ini. Kata pemilik kafe, kebanyakan yang bekerja di cafe ini memang menyewa tempat kost di sana, karena selain dekat, tempatnya juga aman dan murah."


Lagi-lagi Rendra di buat tak percaya pada apa yang ia baru saja dengar dari mulut Tristan. Adiknya yang tadinya begitu arogan kini berubah menjadi seseorang yang sepertinya mensyukuri segala apa yang dia punya saat ini. Gaji lima juta saja dia senang, dan bahkan dia berpikir sampai menunggu gajian, itu artinya dia memang serius bekerja dan akan menunggu 1 bulan untuk menunggu sampai dia bisa gajian pertamanya. Belum lagi tentang rumah kost yang tadi Tristan katakan. Rumah yang katanya murah. Rendra benar-benar tak bisa berkata-kata lagi.


Tapi saat melihat Rendra terdiam, Tristan pun jadi penasaran apa yang membuat Rendra dan Sarah berada di kafe ini berdua.


"Apa kakak memang menjemput Sarah untuk sarapan bersama?" tanya Tristan penasaran.


Rendra terdiam, tapi Rendra rasa dia memang seharusnya mengatakan tentang keadaan sang ayah pada Tristan.


"Setelah mengusir mu, ayah sakit. Di ada di ruang kenanga di lantai enam rumah sakit yang ada di sebelah kafe ini!" kata Rendra mengatakan ruangan dimana sang ayah di rawat.


"Kakak aku sangat minta maaf, seandainya sejak dulu aku mendengarkan kalian. Maaf kak!" lirih Tristan yang terlihat sangat sedih.


Rendra pun menepuk bahu Tristan.


"Tidak apa-apa. Aku rasa siang nanti ayah pasti belum sadar, dia sedang di beri obat agar bisa beristirahat. Kalau kamu istirahat siang nanti, kamu bisa menjenguk ayah. Pak Samsudin pasti akan tutup mulut masalah ini!"


Tristan langsung memeluk sang Kakak, setidaknya dia tahu kalau Rendra sangat perduli padanya.

__ADS_1


Sarah yang merasa Rendra sudah cukup lama keluar bersama Tristan pun ikut keluar. Dari jauh, Sarah melihat Tristan memeluk sang kakak. Sarah pun langsung berbalik dan memejamkan matanya sekejap. Dia benar-benar merasa sangat tidak enak hati pada semuanya, meskipun ini bukan sepenuhnya kesalahannya dan memang benar-benar bukan salahnya sama sekali.


***


Sementara itu di sebuah apartemen mewah di kota Paris. Seorang wanita sedang mengacak-acak semua barang yang ada di dalam kamarnya.


Brakkkk


Brukkkk


Benda-benda yang tadinya tertata rapi di atas meja hancur berantakan di lantai. Dan barang-barang yang tertata rapi di dinding kamar apartemen itu pun dijatuhkan semuanya ke lantai.


"Kak, kak Shanum sudah kak...!" kata Leni yang mencoba menghentikan Shanum merusak semua barang-barangnya.


Shanum pun langsung terduduk di lantai sambil menangis terisak.


"Semua sudah hancur Leni, semua sudah hancur... hiks... kenapa semua ini terjadi padaku. Padahal selangkah lagi aku mendapatkan semuanya, tapi kini aku kehilangan semuanya!" kata Shanum meratapi nasibnya.


Dalam beberapa hari, semua yang dilakukan Shanum selama ini hancur tak bersisa. Dua butiknya yang dia bangun susah payah di kota mode ini bangkrut. Dalam beberapa hari satu butiknya kebakaran dan satu butiknya lagi di rampok dan semua barang-barangnya di rusak. Dia lapor pada pihak berwajib pun, sepertinya tak begitu di tanggapi. Tidak ada bukti, tidak ada rekaman CCtv bahkan Shanum di tuduh sengaja menghancurkan butiknya sendiri demi mendapatkan klaim asuransi. Itu sangat menyakitkan bagi Shanum, bahkan klaim asuransi pun tidak bisa juga dia dapatkan karena semua syarat bahkan tidak memenuhi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2