
Sarah membawa kembali makanan itu ke dapur. Ketika Sarah membawa nampan itu kembali, Sartika dan Diah melihat Sarah dengan tatapan penuh tanya.
Sarah yang tak ingin kedua koki di kapal itu salah paham pun meletakkan nampan itu di atas meja, lalu bergegas menghampiri Sartika dan Diah.
"Mbak Tika, mbak Diah jangan salah paham dulu ya. Masakan kalian sangat enak, kru yang lain juga sangat suka. Mereka makan dengan lahap, tapi kalian tahu kan Tristan itu seperti apa?" tanya Sarah pada kedua koki kapal itu.
Sartika dan Diah yang memang tidak tahu Tristan itu seperti apa lantas menggelengkan kepala mereka dong.
Sarah hanya nyengir saat kedua wanita yang usianya jauh di atas Sarah itu menggelengkan kepalanya.
"Oh, iya aku lupa. Kita baru ketemu dan saling ngobrol tentang masakan dan bagaimana pekerjaan kalian di sini ya!" ucap Sarah kemudian.
"Apa tuan Tristan hanya mau makan masakan nona Sarah saja?" tanya Sartika yang sering mendengar tentang hal itu.
Sarah sampai melongo ketika Sartika mengatakan hal itu, dia bisa menebak dengan benar situasi yang terjadi.
"Wah, mbak Tika. Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Sarah.
Sartika lantas tersenyum.
"Itu hal biasa nona, memang ada beberapa tipe suami yang sangat mencintai istrinya itu hanya makan masakan yang di masak oleh sang istri saja, tidak mau menyentuh makanan buatan orang lain setelah menikah!" tutur Sartika.
Tapi bukannya merasa terharu, Sarah malah makin ingin terkekeh. Tapi karena tak ingin membuat Sartika dan juga Diah salah paham, Sarah menahan tawanya itu.
'Apanya yang sangat mencintai, kami berdua bahkan ingin saling mencekik kalau bisa!' batin Sarah.
"Mau kami bantu atau tidak nona?" tanya Diah.
Sebenarnya pertanyaan Diah itu tidak butuh jawaban, karena di tangan Diah sudah ada puding yang sudah terisi nasi dan segala lauk-pauk dan sayur-mayurnya.
"Enggak usah mbak Diah. Kalian lanjutkan saja makan malamnya. Aku akan menyiapkannya sendiri!" kata Sarah.
__ADS_1
Setelah Sartika dan Diah keluar dari dapur, Sarah mulai membuat makanan untuk Tristan. Hanya sarden saja dan tumis jamur dengan jagung muda. Juga ada perkedel kentang yang tadi dibuat oleh mbak Diah di bantu Sarah.
Setelah makanan itu siap, Sarah kembali membawanya ke dalam kabin kamar Tristan.
"Ini makan malam mu! agkhhh...!"
Sarah langsung berbalik ketika melihat Tristan hanya memakai handuk kecil yang bahkan tidak bisa menutupi semua kakinya. Handuk itu terbelah di kaki kanan Tristan.
'Ck... bisa bintitan aku nanti, tidak sopan sekali. Kalau mau buka-bukaan begitu kan dia bisa kunci pintunya. Dasar batu!' keluh Sarah dalam hati.
"Apa-apaan sih kamu? kenapa tidak mengunci pintunya kalau mau ganti baju?" tanya Sarah dengan nada kesal, dia memprotes Tristan yang sudah membuat matanya ternod4 dan tidak suc1 lagi.
Tristan yang mendengar kata-kata Sarah itu malah terkekeh.
"Hei, wanita freak. Harusnya kamu bersyukur bisa mendapatkan kesempatan langka begini. Dasar aneh!" balas Tristan tanpa dosa, Tristan bicara dengan sangat santai.
Sarah langsung menggembungkan kedua pipinya. Menurutnya percuma saja bicara dengan manusia batu. Sarah langsung meletakkan nampannya di atas meja dan berjalan mendekati pintu tanpa menoleh ke arah Tristan.
"Mau kemana?" tanya Tristan melihat Sarah berjalan ke arah pintu.
Setelah Sarah berada di luar dia terus menggerutu terhadap tingkah Tristan itu. Dia menghitung dengan jarinya sikap Tristan yang menurutnya bisa membuat dirinya darah tinggi lama-lama bersama dengan Tristan, si manusia batu itu.
"Sombong.. tukang marah-marah gak jelas, tukang suruh-suruh gak lihat sikon... sok ganteng, sok femous... gak peka... tonjokable, agkhhh... kenapa aku harus pergi bersama dengan manusia seperti itu selama tujuh hari. Tensiku bisa naik!" gerutu Sarah sambil berjalan menuju ke dapur untuk makan malam.
Sementara Tristan yang sudah berganti pakaian melihat hidangan yang ada di atas nampan. Tanpa pikir panjang Tristan langsung memakan semua makanan itu tanpa pilih-pilih. Setiap suapan Tristan menjedanya sebentar.
'Masakan ibu, ini persis seperti masakan ibu. Aku sangat merindukanmu Bu!' batin Tristan yang matanya sudah berkaca-kaca.
Kenapa Tristan hanya ingin makan masakan buatan Sarah, karena sama seperti Rendra. Saat pertama kali Tristan mencoba masakan buatan Sarah. Tristan juga bisa merasakan rasa yang sama seperti saat pertama Rendra makan nasi goreng buatan Sarah dulu. Bedanya Rendra langsung mengatakan kalau dia menyukai masakan Sarah, karena persis seperti buatan ibunya.
Kalau Tristan dia hanya menikmati dan mengingat semua itu dalam diam. Tristan bahkan sempat berpikir kalau dia begitu beruntung karena akan merasakan masakan yang sudah lama tidak dia rasakan itu dalam waktu yang lama ke depannya. Karena Sarah akan bersamanya kan, sebagai istrinya. Meski Tristan juga tidak tahu sampai kapan hal itu akan terjadi.
__ADS_1
Tristan melihat lagi ke makanan yang dia makan, dan senyuman terlukis di wajah pria yang terkenal galak dan dingin seperti kulkas dua pintu itu.
Sementara Sarah yang kini hanya tinggal sendirian di dapur pun merasa horor juga. Sartika dan Diah yang tadi sempat menemaninya mengobrol setelah makan malam. Mereka pamit untuk beristirahat terlebih dahulu, karena besok mereka harus menyiapkan sarapan untuk para kru kapal dan tentu saja untuk Sarah dan Tristan.
Sementara perjalanan masih sekitar enam jam lagi. Sarah pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja.
Dan begitu dia sampai di depan pintu. Sarah pun terkejut karena dia tidak bisa membuka pintunya dari luar.
"Eh kok gak bisa di buka sih?" tanya Sarah sambil mencoba membuka pintu itu lagi.
Karena sudah menyerah dan yakin tidak akan bisa di buka dari luar dan pasti di kunci dari dalam. Sarah pun menggedor pintu itu dari luar.
Dok Dok Dok
"Manusi... eh. Tristan!" pekik Sarah memanggil Tristan.
Sarah hampir saja keceplosan memanggil Tristan dengan sebutan manusia batu.
"Tristan! buka pintunya. Kenapa malah di kunci sih? terus aku tidur dimana?" tanya Sarah sambil terus berusaha menggedor pintu.
Ceklek
"Kenapa teriak-teriak, mengganggu orang tidur saja!" keluh Tristan yang membukakan pintu sambil menguap dan mengusap wajahnya. Sepertinya dia memang sudah tertidur tadi.
Mata Sarah langsung melotot dengan tangan di pinggang, Sarah berkacak pinggang di depan Tristan.
"Lalu aku harus bagaimana? kamu mengunci pintunya dari dalam? kenapa? apa aku tidak boleh masuk?" tanya Sarah kesal.
"Ck... apa kamu lupa? kamu yang tadi bilang suruh aku kunci pintu kalau ganti baju. Aku tadi ganti baju, jadi aku kunci pintunya. Jangan salahkan aku kalau aku lupa membukanya dan tertidur!" ucap Tristan dengan enteng lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya lagi dan menarik selimutnya.
Sarah masih diam di tempatnya, kalau di film kartun mungkin sudah keluar asap dari puncak kepala Sarah, sangking kesalnya pada Tristan.
__ADS_1
***
Bersambung...