
Sarah berada di luar hingga hari menjelang siang. Posisinya masih sama, duduk di pasir yang kering sambil memandang kencangnya ombak yang menerjang sebuah batu karang yang cukup besar dekat pantai.
Sarah hanya bingung, kenapa hatinya terasa sedih saat Tristan bicara seperti itu padanya. Mungkin karena Sarah sudah terlanjur menganggap Tristan seseorang yang telah berjasa padanya karena telah menyelamatkan nyawanya ketika dia hampir tenggelam. Atau karena perkataan Tristan itu memang terlalu menusuk ke dalam hatinya.
Setelah tawaran pertemanan sehari sebelumnya, kini Tristan malah mengatakan kalau mereka harus mengurus diri mereka masing-masing. Tidak bicara jika tidak ada orang lain di sekitar mereka. Sarah berpikir mungkin kata-kata itulah yang terlalu menusuk hatinya, sehingga saat ini dia merasa sedih.
Butuh dua jam untuk Sarah bisa menerima semua perkataan Tristan tadi dalam diam. Namun sekarang Sarah sudah bisa menerimanya.
"Aku yakin, sedihku ini karena kata-katanya memang terlalu kejam, pasti karena itu. Bukan karena hal lain!" gumam Sarah.
Tak lama berselang setelah itu, terlihat sebuah kapal yang terlihat semakin lama mendekat ke arah dermaga. Sarah yang yakin kalau itu adalah kru kapal merasa sangat senang. Dia bahkan berdiri lalu berlari menuju ke dermaga.
Tapi setelah kapal itu mendekat, sepertinya dia tidak mengenal seorang pria yang berkacamata yang berdiri di haluan kapal. Dan tak berapa lama terlihat beberapa orang turun dari kapal, dengan kaos hitam dan celana panjang dengan warna senada.
Sarah tidak pernah melihat mereka sebelumnya, kalaupun mereka adalah kru pengganti, itu sama sekali tidak mungkin. Sarah ingat kapten kapal sebelumnya pernah bilang kalau mereka sendiri yang akan datang. Bukan orang lain, karena Arya Hutama memang sudah menyewa mereka selama liburan Sarah dan Tristan di pulau tersebut.
Setelah Sarah semakin merasa ada yang tidak beres. Sarah langsung berlari meninggalkan dermaga dan berteriak memanggil nama Tristan.
"Tristan... Tristan... lari!" kata Sarah yang malah berteriak agar Tristan melarikan diri dan bukannya malah menolongnya.
Sarah beberapa kali berteriak, namun Sarah sendiri tahu mungkin jarak dari dermaga ke bungalow terlalu jauh bagi Tristan bisa mendengar teriakannya itu.
Sementara empat orang berpakaian kaos hitam dengan wajah yang tak di kenali Sarah semakin dekat dengannya. Karena meskipun Sarah itu suka berlari, juga larinya cukup kencang. Tapi sepertinya orang-orang yang mengejarnya itu lebih terlatih daripada Sarah.
Dengan segenap tenaga yang tersisa di tubuhnya, karena memang dia habis sakit pinggang juga. Sarah tak mampu berlari lebih cepat lagi, Sarah tak mampu menambah kecepatan larinya.
Hingga dia hanya bisa terus berteriak, berharap Tristan mendengarnya.
"Tristan... Tristan!"
Sarah terus berteriak, dan Tristan yang berada di kamarnya pun samar-samar mendengar suara teriakan Sarah itu.
__ADS_1
Tristan lalu keluar dari kamarnya, setelah mendengar Sarah berteriak terus menerus. Wajah Tristan juga terlihat panik, dia tahu Sarah bukan wanita yang suka bercanda dengan cara seperti ini. Tristan langsung membuka pintu.
Tristan langsung berlari menuruni, tidak, bukan menuruni tapi dia lompat dari teras bungalow ke bawah. Ke tanah berpasir di bawah bungalow.
"Tristan lari, lari... !" teriak Sarah yang terus meminta Tristan lari meskipun dirinya sudah di tangkap oleh orang-orang tadi.
"Siapa kalian? lepaskan dia!" teriak Tristan.
Tristan berteriak sambil berlari dengan sekuat tenaga ke arah Sarah yang sedang berusaha dinaikkan ke bahu dari salah seorang yang berusaha membawa Sarah tersebut.
Namun sekencang apa Tristan berlari, Sarah sudah berhasil di bawa ke atas kapal oleh para penjahat itu. Dan kapal itu langsung berlayar lagi dengan cepat meninggalkan dermaga. Kapal itu ukurannya sedang. Jadi dengan cepat bisa berlayar meninggalkan pulau tersebut.
"Pergi Tristan, selamatkan dirimu!" teriak Sarah terakhir kalinya yang bisa di dengar oleh Sarah.
Tristan terus berlari hingga saat di tepi dermaga dirinya pun tidak dapat mengendalikan larinya itu dan tercebur ke laut.
Tristan tampak begitu kesal Bahkan dia memukul-mukul air laut di permukaan dengan kedua tangannya Setelah dia bisa muncul ke permukaan tentunya.
Tristan yang penya dari kalau dirinya tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Sarah saat ini, memutuskan untuk naik ke atas dermaga dan menunggu kru kapal sewaan ayahnya yang seharusnya datang hari ini.
Dengan pakaian yang basah kuyup dan mata merah karena terkena air laut dan juga memang sangat kesal. Tristan tertunduk lesu di tepi dermaga. Rasa kecewa pada dirinya sendiri membuat Tristan merasa sangat menyesal. Seandainya dirinya tadi tidak meninggalkan Sarah sendirian di pinggir pantai. Mungkin Sarah tidak akan di culik.
Dan Tristan bertambah kesal lagi, karena tidak tahu siapa orang-orang itu. Dia merasa tidak punya musuh yang punya kemampuan untuk melakukan semua itu. Bagaimana tidak, memangnya siapa yang mengetahui kalau Tristan dan Sarah berada di sebuah pulau yang begitu terpencil yang hanya bisa didatangi dengan kapal.
Tristan lalu mengangkat wajahnya saat dia bahkan berpikir kalau mungkin saja semua ini termasuk dalam rencana ayahnya.
"Ayah, jika ini rencanamu. Kamu benar-benar sudah keterlaluan!" gumam Tristan.
Tristan bahkan bisa melihat dengan jelas mata Sarah saat berteriak memanggil namanya dan menyuruhnya untuk lari menjauh, mata itu adalah mata seseorang yang merasa sangat ketakutan namun masih ingin menyelamatkan orang lain.
Dan Tristan sangat yakin kalau Sarah tidak terlibat, seandainya benar semua ini adalah rencana ayahnya sendiri. Tristan benar-benar mencemaskan Sarah.
__ADS_1
Jengah hanya bisa menunggu kapal yang datang dengan posisi duduk, Tristan sampai berdiri mondar-mandir dengan perasaan sangat kesal.
Hingga tak lama kemudian kapal yang ditunggu-tunggu oleh Tristan akhirnya merapat ke dermaga. Kapten kapal itu langsung turun dari kapal dan menghampiri Tristan yang juga sedang berlari ke arahnya.
"Tuan...!"
"Kapten, cepat sambungkan telepon dengan ayahku!" seru Tristan membuat kapten kapal terdiam.
"Cepat!" pekik Tristan.
Kapten kapal tersebut langsung meminta anak buahnya untuk menuruti kemauan Tristan. Setelah sambungan telepon dengan sambungan khusus itu terhubung. Tristan langsung merebut gagang telepon dari tangan kru kapal.
"Ayah...!"
"Tuan muda, ini pak Sam...!"
"Mana ayah?" tanya Tristan emosi.
Beberapa saat kemudian.
"Tristan, apa semuanya baik-baik saja...!"
"Ayah, jangan bercanda denganku. Ini sama sekali tidak lucu. Drama penculikan ini akan membuat Sarah trauma dan ketakutan!" sela Tristan yang begitu emosional.
Kapten kapal dan para anak buahnya begitu terkejut mendengar ada kata penculikan yang terlontar dari mulut Tristan.
"Penculikan apa? ayah tidak mengerti? semuanya baik-baik saja kan? mana Sarah?" tanya Arya Hutama yang terdengar panik.
Tristan langsung membelalakkan matanya, kalau ini bukan ulah ayahnya. Artinya Sarah benar-benar di culik.
***
__ADS_1
Bersambung...