
Sarah masih menunggu Arumi yang belum sampai ke mall tersebut. Di depan mejanya, ada sepasang muda-mudi yang sepertinya adalah pasangan baru. Entah mereka sudah menikah atau pasangan kekasih baru. Keduanya tampak mesra. Si pria bahkan tak membiarkan si wanita memotong steak-nya sendiri.
Si pria terus memotong daging berukuran lumayan besar itu menjadi ukuran yang lebih kecil-kecil. Bahkan tak jarang si pria meniup makanan yang masih terlihat berasap itu sebelum menyuapi si wanita.
Sarah hanya tersenyum kecil sambil kembali melihat ke layar ponselnya. Karena dia berusaha menghubungi Richard.
"Halo nona Sarah!"
"Halo Richard!"
"Halo... halo... ya ampun, aku sedang ada di speed boat nona. Anginnya kencang, oh emji... ada apa nona?" tanya Richard yang suaranya sangat tidak jelas menurut pendengaran Sarah.
"Halo Richard, suaramu tidak jelas. Aku ingin meminta kamu membawakan...!"
"Oh emji, nona baterai ku lowbat. Ada apa?" tanya Richard.
"Richard, aku ingin memintamu membawakan dokumen perjanjian...!"
Tut Tut Tut
Sarah langsung melihat ke layar ponselnya setelah mendengar nada notifikasi kalau telepon nya telah di putuskan dari pihak Richard.
"Loh, kok mati?" tanaya Sarah bingung.
Karena komunikasi Sarah dan Richard tadi benar-benar sangat chaos. Richard tak bisa mendengar suara Sarah karena dia sedang ada di speed boat yang melaju sangat kencang. Begitu pula Sarah, yang tak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan Richard karena yang dia dengar malah suara gemerusuk tak jelas. Seperti televisi yang kehilangan sinyalnya, dan banyak semut di layar televisi tersebut sedangkan volumenya masih di atas 30.
Sarah yang belum selesai mengatakan apa yang dia butuhkan dari Richard. Lantas mencoba untuk menghubungi Richard lagi. Tapi kali ini malah terdengar suara operator yang berkata.
*Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan coba beberapa saat lagi.
"Kenapa malah gak aktif? apa tadi dia bilang baterainya habis ya. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ah... aku kirim pesan saja!" gumam Sarah.
Sarah lalu kembali mengirimkan pesan pada Richard. Agar kalau pekerjanya sudah selesai, Richard segera membawa dokumen perjanjian pernikahan antara Sarah dan Tristan ke apartemen Tristan. Secepatnya, itulah pesan yang langsung di kirimkan Sarah.
Dan ternyata, memang hanya conteng satu saja dengan warna abu-abu.
"Sepertinya tidak aktif!" gumam Sarah.
"Apa yang tidak aktif?" sebuah suara yang sangat familiar membuat Sarah langsung menoleh ke sumber suara.
"Arumi!" sapa Sarah yang langsung berdiri dan memeluk Arumi.
Setelah berpelukan, mereka pun duduk lagi di kursi masing-masing.
__ADS_1
"Ini, aku telepon Richard. Tapi sepertinya ponselnya tidak aktif. Aku kirim pesan dan hanya centang satu saja!" jelas Sarah.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Arumi.
Karena tujuannya kemari kan mau minta bantuan pada Sarah. Tapi kalau Sarah sedang ada masalah, maka dia akan lebih baik tidak jadi menceritakan masalahnya.
Namun Sarah pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak Arumi, tidak ada masalah. Oh ya, kamu mau langsung cerita masalahmu, atau mau makan dulu?" tanya Sarah.
"Makan dulu deh, aku lapar. Rasanya seperti sudah dua belas jam tidak makan!" kata Arumi sedikit membuat mimik wajah lucu di depan Sarah.
Sarah pun terkekeh melihat tingkah Arumi dan apa yang di katakan sahabatnya itu. Arumi memang tidak pernah gagal menjadi penghibur bagi Sarah.
Mereka lalu memesan makanan, mereka mengobrol ringan sambil menghabiskan makanan mereka. Banyak yang Arumi ceritakan pada Sarah.
Dari mulai pekerjaan dan juga masalah Tano yang akan menikah sebentar lagi.
"Benarkah?" tanya Sarah dengan wajah terkejut dan bertanya dengan mulut penuh.
Membuat Arumi mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Sarah itu.
"Kenapa sih? cuma Tano loh yang mau menikah? bukan Kim Taehyung. Plis deh Sarah. Bisa biasa aja gak tuh muka? jangan shock gitu!" kata Arumi yang merupakan ARMY sejati.
"Kalau Kim Taehyung aku malah gak kaget Arumi, dia itu pria ganteng bersertifikat. Ini Tano loh! kulkas dua pintu yang kalau gak konslet gak bakalan ngomong atau ngobrol sama cewek. Serius dia mau nikah?" tanya Sarah tak percaya.
Dia baru cuti beberapa hari dan sudah ketinggalan gosip sebesar ini.
"Dia backstreet deh kayaknya, orang katanya udah tunangan juga. Dua minggu lagi dia mau nikah!" kata Arumi lagi.
"Jadi yang mau kamu omongin masalah itu? emang banyak banget ya kerjaannya?" tanya Sarah yang mengira Arumi ingin curhat masalah pekerjaan.
Arumi lantas meminum jusnya dan meletakkan sendoknya di atas piring.
"Bukan Sarah. Ini lebih serius. Jadi gini, awalnya tuh tadi pagi aku hampir telat masuk kantor. Biar gak telat, aku lewat jalan tikus, eh ada perampok yang ngikutin aku...!"
Sarah yang mendengar hal itu lantas meletakkan sendoknya dan langsung memegang tangan Arumi.
"Kamu gak apa-apa? mereka ngerampok kamu?" tanya Sarah panik.
Arumi yang tahu kalau Sarah panik, langsung menggenggam tangan Sarah.
"Aku gak apa-apa, memang mau merampokku. Tapi kamu kan tahu aku ini juara bela diri. Aku hajar mereka semua sampai babak belur!" ucap Arumi bersemangat.
__ADS_1
"Tapi, saat akan menghajar yang terakhir, tuan Rendra datang...!"
"Kak Rendra?" tanya Sarah menyela cerita Arumi.
Arumi pun langsung mengangguk
"Iya Sarah, dia di sikut salah satu perampok. Dan sepertinya dia terluka. Setelah aku mengalahkan semua penjahat di bantu tuan Rendra. Aku mengantarnya ke rumah sakit!"
Sarah masih terdiam menyimak dengan baik cerita Arumi. Karena dia belum menemukan dimana letak masalah Arumi.
"Lalu?" tanya Sarah.
"Kata dokter lambungnya kena... aduh apa ya? aku lupa. Pokoknya dia tidak boleh melakukan gerakan yang menekan otot perut. Dia langsung pergi katanya ada meeting penting. Dan obatnya tertinggal. Jadi aku memutuskan pergi ke kantornya mengantarkan obatnya. Tapi Sarah... apa kamu tahu? siapa yang aku lihat di ruangan tuan Rendra?" tanya Arumi membuat Sarah sangat penasaran.
Karena saat mengatakan hal itu ekspresi wajah Arumi benar-benar sangat horor.
"Siapa?" tanya Sarah.
Wajah Arumi dari serius. Ekspresinya langsung berubah menjadi seperti sangat kesal.
"Si wanita ular, si Hera!" kata Arumi dengan wajah yang terlihat sangat benci pada Hera.
"Hera!" ucap Sarah pelan. Dia juga bingung kenapa Hera ada di kantor Rendra.
"Untuk apa dia ada di kantor kak Rendra?" tanya Sarah bingung.
"Kata tuan Rendra, dia klien meeting nya. Tapi dia disana bukan untuk meeting. Dia malah merayu tuan Rendra!" jelas Arumi.
"Apa?" tanya Sarah tak percaya dan juga tak senang mendengarnya.
"Iya, kamu bisa bayangkan tidak, dia menggoda tuan Rendra. Aku kan jadi kesal, aku juga sayang sama Kevin seperti kamu menyayangi nya. Aku tidak mau Kevin sampai punya ibu tiri macam wanita ular itu. Jadi...!"
Sarah mulai memperhatikan gerak-gerik Arumi.
"Jadi..?" tanya Sarah sambil meraih gelas air minum dan meminum jus jeruknya.
"Jadi aku masuk dan langsung merangkul tuan Rendra, aku bilang pada si wanita ular itu, kalau aku... calon istri tuan Rendra!"
"Bhuuhhh!"
Sarah sampai menyemburkan jus jeruk yang dia minum sangking terkejutnya mendengar apa yang dikatakan Arumi.
***.
__ADS_1
Bersambung...