
Sepanjang perjalanan menuju panti asuhan bunda Tiara, Sarah hanya diam dan melihat ke arah jendela. Masalahnya, dia sudah mengatai adik dari pria yang ada di sebelahnya ini, yang telah menolongnya ini dengan kata-kata yang sangat kasar sepertinya. Untung saja Sarah tidak menyebutkan nama Tristan. Jika tidak, Sarah mungkin tidak akan berada di dalam mobil Rendra dan di antarkan pulang saat ini. Mungkin Rendra akan segera meninggalkan Sarah begitu saja, meskipun Sarah sedang tanpa alas kaki saat ini. Itulah yang setidaknya ada di pikiran Sarah.
Tapi sebenarnya, tidak akan seperti itu sama sekali. Rendra adalah orang yang benar-benar baik. Sifatnya 180 derajat berbeda dari Tristan. Sangat berbeda jauh, meski ketampanan mereka nyaris sama. Anggap saja seperti Kim SeokJin dan Jeon Jungkook. Kembar yang beda lima tahun itu. Anggap saja begitu, meskipun tidak seperti itu juga sebenarnya.
Beberapa lama kemudian mereka tiba di panti asuhan bunda Tiara. Dari dalam pagar terlihat seorang wanita paruh baya, bahkan lebih dari paruh baya tengah berdiri sambil memakai syal tebal dan terus mondar-mandir di depan gerbang.
Rendra yang melihat hal itu juga merasa sangat iba pada bunda Tiara. Ada keinginan di hatinya untuk ikut menjelaskan pada bunda Tiara tentang apa yang terjadi pada Sarah. Oleh karena itu Rendra pun ikut turun dari dalam mobil.
Sarah yang juga sudah turun dari mobil Rendra langsung bergegas menghampiri bunda Tiara setelah satpam membuka pintu gerbang begitu melihat kedatangan Sarah.
"Bunda, sudah malam! kok bunda masih di luar?" tanya Sarah yang langsung merangkul kedua lengan bunda Tiara dan mengusapnya perlahan.
Udara malam itu terasa dingin sekali, mungkin akan turun hujan lagi. Tapi bukannya langsung menjawab pertanyaan Sarah. Bunda Tiara langsung melihat ke arah kaki Sarah. Pandangan bunda Tiara itu langsung terlihat oleh Rendra. Meskipun bukan ibu kandungnya, dari cara bunda Tiara menatap Sarah, Rendra tahu kalau bunda Tiara sangat menyayangi Sarah. Dan hal kecil itu juga tak luput dari pandangan mata renta bunda Tiara.
"Sepatu kamu mana Sarah? kenapa tidak pakai sepatu?" tanya bunda Tiara yang bahkan langsung melepas sandal nya.
"Pakai punya bunda, nak!"
Tapi Sarah langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak bunda, ayo kita masuk!" ajak Sarah pada bunda Tiara.
Tapi saat akan mengajak bunda Tiara masuk, Sarah menoleh karena menyadari Rendra juga ikut turun. Sarah berbalik dan membungkukkan sedikit badannya.
"Tuan Rendra, terimakasih...!"
__ADS_1
"Panggil Rendra saja!" sela Rendra sambil tersenyum.
"Siapa dia nak?" tanya bunda Tiara.
"Saya Rendra bunda, kebetulan tadi saya bertemu dengan Sarah di jalan. Baiklah, saya permisi dulu!" ucap Rendra sangat sopan lalu mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu pria tampan itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Sementara bunda Tiara terus bertanya pada Sarah kenapa dia pulang selarut ini.
"Kenapa baru pulang nak? bunda cemas sekali? ponselmu tidak aktif!" kata bunda Tiara yang masih terlihat kalau dia tengah cemas bukan main tadi.
"Maaf ya Bun, tadi itu aku lembur. Nah ponselku mati. Rencananya mau naik angkutan umum, eh sepatunya rusak. Untung ketemu sama tuan Rendra, kalau gak Sarah jalan sampai pangkalan ojek kayaknya Bun!" jelas Sarah sambil terkekeh.
Jelas apa yang disampaikan Sarah itu tidak sepenuhnya benar, bahkan tidak benar sama sekali. Hanya bagian lemburnya saja yang benar dan itupun tidak dihitung dalam tambahan gaji. Itu sudah di katakan bagian personalia sebelum salah satu karyawan personalia pulang tadi.
Bunda Tiara pun masuk ke dalam kamarnya setelah memastikan semua anak-anak penghuni pantinya sudah ada di dalam panti asuhan. Tak lama hujan pun turun, setelah Sarah mengisi daya baterai nya, dia menghidupkan kembali ponselnya.
Banyak sekali pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab dari Arumi dan Alan. Tapi Sarah hanya membuka pesan dari Arumi. Tapi saat akan membalas, Sarah melihat ke bagian atas kiri ponselnya. Jam di sana menunjukkan pukul 23.30 malam. Sarah memutuskan untuk mengirim pesan besok saja. Dan pesan dari Alan, dia hanya membacanya di bagian atas saja, dan tak lain hanya permintaan maaf terus dan terus isinya. Sarah pun menghela nafas panjang dan menyimpan ponselnya untuk kemudian dia beristirahat.
Sementara itu di perjalanan, ketika Rendra kembali melihat baliho dan poster besar Gisella, Rendra kembali menepikan mobilnya dan melihat ke arah gambar besar mantan istrinya itu.
'Kenapa kamu mengkhianati aku Gisel? aku bahkan tak bisa bernafas tanpamu!' lirih Rendra dalam hatinya.
Dan di tempat lain, Hera sudah tak sabar menunggu dengan seorang teman wanitanya di sebuah hotel kecil di pinggiran kota.
__ADS_1
"Lama banget sih, harusnya dia kan sudah sampai. Tuh om om juga udah nunggu di kamar dari tadi!" keluh Hera yang mulai kesal menunggu kedatangan supir bayarannya itu membawa Sarah ke tempat itu.
Hera merencanakan untuk menjebak Sarah, setelah membawa Sarah ke hotel itu. Dia akan membuat Sarah pingsan, dan membawanya pada pria hidung bel4ng yang sudah dia bayar untuk melecehk4n Sarah dan juga sudah menyiapkan orang untuk merekam kejadian itu agar bisa dia sebarkan untuk merusak nama baik Sarah. Dan juga membuat Alan illfeel pada Sarah.
"Iya, udah malam banget nih. Telepon aja deh Ra!" seru Tina teman Hera itu.
"Iya deh, kesasar kemana sih tuh supir. Perasaan udah dua kali di share located ini tempat!" keluh Hera lagi.
Tapi beberapa kali di hubungi oleh Hera. Supir bayaran yang di minta oleh Hera membawa Sarah ke hotel itu tak kunjung mengangkat telepon dari Hera.
Bahkan beberapa saat kemudian ketika nomernya di hubungi, malah tidak bisa, tidak aktif.
"Wah, kurang ajarrr ini supir. Dia udah terima duit tapi gak ngerjain tugasnya!" kesal Hera.
"Ck... jadi gimana dong. Udah malem nih Ra! balik aja yuk!" ajak Tina yang sudah merasa lelah dan mengantuk.
"Ck... gimana sih? jelas-jelas tadi dia naik mobil itu kan?"
Hera masih terus bertanya-tanya, dia masih geran kenapa Sarah tadi sudah naik mobil supir bayarannya tapi malah sudah sangat lama tidak sampai di tempat yang sudah dia tentukan.
Dengan kesal, Hera pun harus mengalami kegagalan lagi pada rencananya untuk mencelakai Sarah. Sebenarnya bukan hanya kali ini saja, tapi karena biasanya ada Arumi. Sarah selalu selamat dari para preman bayaran Hera.
"Sudahlah Hera, lain kali masih bisa kita ngerjain dia. Uang ayah angkat kamu kan banyak banget, jadi masih banyak kesempatan, yuk!" ajak Tina yang langsung mengajak Hera masuk ke dalam mobilnya dan langsung meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
Bersambung...