
Di kapal dimana Sarah masih di tahan kedua lengannya oleh dua orang yang berbadan besar dengan wajah menyeramkan. Tapi untungnya mulutnya tidak di bekap oleh apapun, sehingga dia masih bisa terus meneriaki orang-orang itu untuk melepaskannya.
Meski sebenarnya hal itu adalah perbuatan yang sia-sia saja. Seperti dia hanya buang-buang tenaga saja melakukan itu. Mereka ada di atas kapal yang berlayar di laut lepas. Lantas siapa yang akan mendengar teriakan-teriakan Sarah itu.
"Kalian lepaskan aku!" pekik Sarah lagi.
Tak hanya sekedar berteriak, Sarah juga terlihat mencoba untuk memberontak, mencoba untuk melepaskan tangannya yang di cekal oleh dua orang itu. Tapi semua itu juga percuma, malah tangannya rasanya bertambah sakit saja.
'Ya Tuhan, selamatkan aku. Bunda Tiara dan adik-adik di panti masih membutuhkan aku!' batin Sarah yang sudah mulai lelah.
Melihat Sarah mulai diam dan tidak lagi berteriak-teriak. Salah satu pengawal yang memegang lengan Sarah malah terkekeh.
"Ha ha ha, sudah habis tenagamu? suaramu habis hah?" tanyanya mengejek Sarah.
Sarah hanya diam menunduk melihat ke arah lantai. Apa yang dikatakan pengawal itu memang benar. Sarah sudah sangat lelah. Tenggorokannya bahkan sepertinya sudah kering.
"Lagian, buang-buang tenaga saja. Kalau kamu tidak macam-macam. Bos kami juga tidak akan menyakitimu. Bos kamu itu orang baik!" kata pengawal yang menahan Sarah itu.
Mendengar apa yang dikatakan salah satu pengawal itu rasanya Sarah benar-benar ingin terkekeh sekencang-kencangnya. Sayangnya dia sudah tak punya tenaga lagi. Sarah hanya mengangkat kepalanya dan menoleh ke orang-orang yang ada di dalam ruangan itu satu persatu.
"Orang baik kau bilang? memangnya ada orang baik yang melakukan hal seperti ini, menculik seseorang? hah?" balas Sarah bertanya pada pengawal itu.
Tapi baru pengawal itu akan membalas ucapan Sarah. Terdengar suara tepuk tangan dari aran pintu masuk yang memang terlihat sangat gelap.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan itu terdengar lambat namun teratur. Yang pertama dahulu terdengar memang adalah suara tepuk tangan itu. Karena wajah pelakunya memang belum terlihat, di susul langkah kaki yang jelas Sarah tahu kalau itu adalah langkah kaki seorang pria. Terlihat dari sepatu dan celana panjang yang sepertinya terbuat dari bahan yang begitu mahal.
Karena bahan celana orang itu sama dengan milik Tristan yang satu setel saja bisa di pakai untuk uang makan anak-anak di panti selama dua sampai tiga bulan.
__ADS_1
Semakin orang itu melangkah maju, suara tepuk tangan itu perlahan menghilang. Karena memang orang itu tidak lagi tepuk tangan.
Saat wajahnya tersorot lampu, baru Sarah bisa melihat sesosok pria dengan rambut agak gondrong. Penampilannya cukup nyentrik, tapi meskipun begitu wajahnya tidak jelek. Bahkan bisa di kategorikan charming.
"Ternyata yang aku dengar itu benar ya? istri Tristan Hutama memang seorang wanita yang galak! apa kamu tahu? aku pernah melihat video mu ketika menampar pria arogan itu... Jujur saja, aku ikut memberikan like di video itu!" kata pria yang umurnya mungkin sama dengan Tristan itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, Sarah mengernyitkan keningnya.
Tapi saat pria itu melihat Sarah mengernyitkan keningnya, tangan pria itu terangkat dan ingin menyentuh kening Sarah itu.
Dengan cepat Sarah menoleh ke arah lain. Dan sedikit menggerakkan kepalanya ke belakang, hingga pria itu tidak bisa menyentuh keningnya.
Tapi apa yang dilakukan Sarah itu malah membuat pria itu terkekeh.
"Ha ha ha, benar-benar galak! sayang sekali kamu sudah di pakai Tristan. Aku tidak suka barang bekas Tristan. Kalau tidak mungkin aku akan mengejar mu!" kata pria itu.
Dan lagi-lagi, mendengar pria itu bicara seperti itu. Sarah malah ingin munt4h mendengarnya. Ekspresi wajah tidak suka dan kesal jelas tergambar di wajah Sarah.
Sarah yang memang penasaran siapa orang-orang ini juga ingin tahu. Tapi dia tidak mau kalau pria itu menganggap dirinya penting. Sarah hanya diam dengan masih menatap kesal pada pria itu.
Pria itu nampaknya mengerti, dia bahkan menganggap kalau Sarah memang tidak tertarik untuk mengetahui siapa mereka.
"Siapapun kalian, kalian akan menyesal telah melakukan ini. Aku ini menantu kesayangan ayah Arya Hutama. Kalian akan celaka nanti, lihat saja!" gertak Sarah yang memang hanya berani menggunakan nama Arya Hutama.
Tapi setelah mendengar Sarah menggertak nya, pria itu malah terkekeh lebih keras lagi.
"Ha ha ha, kamu sungguh humoris. Kenapa aku tidak bertemu denganmu lebih dulu ya? seharusnya aku bisa menjadikan mu salah satu simpanan ku!"
Wajah Sarah benar-benar tak bisa di selamatkan lagi dari ekspresi j1jik mendengar apa yang dikatakan pria di depannya itu.
__ADS_1
'Situ oke? simpanan? yang benar saja! Tristan seratus kali lebih tampan dari pria ini. Astaga!' gerutu Sarah dalam hatinya.
Bahkan tanpa Sarah sadari, ternyata dia sudah menuju ketampanan Tristan. Meski secara tidak sadar.
"Bukankah seharusnya kamu menggertakku memakai nama suamimu? kenapa malah nama mertuamu?" tanya pria itu.
"Bukan urusan mu!" pekik Sarah dengan mata melotot pada pria itu.
Melihat wajah Sarah yang menunjukkan ketidaktertarikan sama sekali padanya. Pria itu mulai kesal. Tangannya mencengkram rahang Sarah dengan kencang.
"Jangan meremehkan aku, aku paling tidak suka di remehkan. Aku tidak suka berbasa-basi. Kau adalah jalanku mendapatkan tender ratusan juta dolar, jika tidak. Aku akan meminta anak buahku melemparkan mu ke tengah laut. Biar kamu jadi makanan hiu!" kata pria itu yang langsung pergi dari ruangan itu dengan kesal.
***
Sementara itu, Tristan yang sudah ikut ke kapal ke salah satu pulau yang merupakan pusat kota langsung menghubungi ayahnya lagi yang ternyata sudah mengirimkan Rendra ke tempat Tristan berada.
Dua jam kemudian Rendra menemui Tristan di kantor polisi kota tersebut.
"Bagaimana?" tanya Rendra.
"Polisi sudah mencatat laporannya. Mereka sedang memeriksa kapal darimana saja yang mendapatkan ijin berlayar hari ini!" jawab Tristan.
Rendra terlihat mengusap kepalanya gusar.
"Baiklah kita tunggu dulu hasilnya, setelah itu kita baru bergerak mencari. Ayah sudah mengerahkan semua anak buahnya ikut bersamaku. Semoga Sarah baik-baik saja, semoga mereka hanya minta tebusan dan tidak melukai Sarah!" kata Rendra yang begitu mengkhawatirkan adik iparnya itu.
Sementara Tristan terdiam sambil menatap nanar ke depan.
'Tapi bagaimana kalau mereka menyakiti Sarah?' batinnya khawatir.
__ADS_1
***
Bersambung...