
Arumi dan Sarah tiba di rumah sakit sudah sore, untung saja dokter Magdalena adalah dokter pribadi Sarah. Jadi setelah Sarah menghubunginya, meski dia sudah akan pulang dari rumah sakit karena jam kerjanya sudah selesai. Dokter Magdalena masih mau menunggu kedatangan Sarah dan Arumi.
Kevin yang tidak mengerti kenapa mereka harus ke rumah sakit pun menjadi bosan dan terus bertanya pada Sarah.
"Mama Sarah, Kevin mau mandi. Kevin cape, kenapa kita harus ke rumah sakit?" tanya Kevin pada Sarah.
Sarah dengan sabar mengusap kepala Kevin dengan lembut dan menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh keponakan tersayangnya itu.
"Sayang, kita kesini untuk memeriksa apakah mama Arumi akan punya adik bayi di dalam perutnya atau tidak!" jawab Sarah menjelaskan pada Kevin.
Wajah Kevin lantas menunjukkan ekspresi yang begitu antusias. Sepertinya dia juga menunggu hal tersebut.
"Benarkah?" tanya Kevin dan Sarah menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, jadi Kevin sabar ya. Kalau hasilnya sudah keluar, Kevin bisa langsung pulang ke apartemen mama Sarah dan mandi!" kata Sarah selanjutnya.
"Iya mama Sarah, tapi kenapa kita tidak ikut ke dalam?" tanya Kevin yang sangat bersemangat untuk mengetahui apakah dia akan punya adik atau tidak.
"Anak kecil tidak di perbolehkan masuk ke dalam, karena dokter sedang memeriksa mama Arumi. Kita di sini saja ya, kan ada mama Sarah di sini!" kata Sarah mencoba menjelaskan pada Kevin.
Arumi memang akan menjalani serangkaian pemeriksaan. Dan rasanya akan sangat tidak nyaman kalau di lihat oleh Kevin. Jadi Sarah menunggu di ruang tunggu dokter Magdalena. Ruang tunggu yang memang khusus untuk pasien yang sudah membuat janji terlebih dahulu agar terpisah dengan para pasien lain, demi kenyamanan pasien VIP tersebut.
Arumi keluar dari ruang periksa, bersama dengan dokter Magdalena. Mereka lantas menghampiri Arumi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Sarah yang juga begitu antusias.
Kevin yang ikut menghampiri Arumi juga terlihat antusias. Tapi Sarah melihat wajah Arumi sangat tidak bersemangat. Sarah pikir mungkin hasilnya negatif.
"Selamat ya Kevin, kamu akan menjadi seorang kakak!" kata dokter Magdalena.
"Yey!" Kevin langsung melompat-lompat kegirangan.
Kevin bahkan langsung memeluk Arumi ketika mengetahui kalau dirinya akan punya adik dan adik sepupu sebentar lagi.
"Bunda!" kata Kevin sambil memeluk Arumi.
Tanpa Arumi sadari air mata menetes di pipi Arumi ketika mendengar Kevin memanggilnya Bunda sambil memeluknya.
Sarah juga sama, dia terlihat sangat terharu sampai matanya berkaca-kaca.
'Akhirnya kamu di panggil bunda oleh Kevin, Arumi. Selamat ya!' batin Sarah.
"Selamat Arumi, selamat!" kata Sarah sangat ikut senang.
__ADS_1
"Kevin, terimakasih!" kata Arumi lirih.
Dokter Magdalena begitu senang sekaligus haru melihat pemandangan di depan matanya itu. Setelah meresepkan beberapa vitamin. Sarah dan Arumi pulang ke apartemen Sarah.
Kevin tampak sangat lelah, dia tertidur di pangkuan Arumi. Tak seperti saat pulang sekolah dan pulang dari taman bermain, Kevin selalu ingin di dekat Sarah. Tapi begitu dia tahu kalau Arumi akan memberinya adik, Kevin sepertinya tak mau jauh-jauh dari Arumi.
Tapi Sarah melihat Arumi bukannya senang tapi terlihat seperti punya beban pikiran.
"Sudah hubungi ayah dan bilang kalau kamu dan Kevin akan menginap di rumah?" tanya Sarah pada Arumi.
"Sudah!" jawab Arumi, singkat, padat dan jelas.
Tak biasanya Sarah mendapati Arumi yang seperti itu. Sarah yakin kalau Arumi pasti sedang memikirkan sesuatu yang berat dan perasaannya pasti saat ini sedang tidak menentu.
"Ada apa?" tanya Sarah menepuk punggung tangan Arumi yang mengusap lembut lengan Kevin.
Arumi lantas menoleh ke arah Sarah.
"Aku hanya merasa bingung Sarah, kenapa aku hamil di sata hubunganku dengan mas Rendra begini?" tanya Arumi.
"Begini, bagaimana maksud mu?" tanya Sarah yang merasa ada hal lain dalam kalimat yang Arumi ucapkan.
"Ya, kamu lihat saja mas Rendra. Dia tidak mengejar kita saat menjemput Kevin tadi, dia begitu perduli pada mantan istrinya itu. Kalau begini, aku pesimis kalau dia benar-benar mencintai aku. Mungkin aku sebenarnya hanya pelariannya saja. Mungkin setelah dia selesai bersenang-senang denganku, lalu soang betina itu datang dan minta balikan. Maka dia akan meninggalkan aku dan kembali pada soang betina itu!" kata Arumi yang terlihat sangat kesal.
Sarah tahu seperti apa emosinya Arumi saat ini. Dia juga kesal pada Rendra sebenarnya. Dan dia juga yang paling mengerti seperti apa gampang dan cepat berubahnya mood seorang wanita yang sedang hamil.
Seharusnya di saat seperti ini, Rendra ada di samping Arumi. Menemaninya, merayakan kebahagiaan ini bersama. Tapi malah harus jadi seperti ini. Tentu saja Sarah mengerti apa yang di rasakan oleh sahabat baiknya itu.
"Aku pikir kita sama-sama tahu mas Rendra, hatinya terlalu lembut. Mungkin dia masih memandang wanita itu karena dia ibu kandung anaknya, yang sudah mengandung dan melahirkan anaknya. Mungkin hanya seperti itu saja Arumi. Jangan over thinking ya, kamu sedang hamil. Harus tenang. Tidak apa-apa kamu menghindar dulu dari mas Rendra. Tinggal saja di rumah ku selama yang kamu mau. Jangan di pikirkan, biar aku yang jelaskan pada ayah. Kalau perlu, aku akan bawa semua perlengkapan sekolah Kevin, supaya Kevin juga tinggal di apartemen!" kata Sarah.
Ucapan Sarah membaut Arumi sedikit tenang.
"Oh ya, kamu tidur dimana? bukannya kamar nya sudah di isi semua. Ada ibu dan Tika juga?" tanya Arumi.
"Tenang saja, masih ada kamar di lantai dua. Itu tadinya untuk anakku. Tapi kan masih lama ya, masih beberapa bulan lagi. Pakai saja dulu. Nanti aku minta maaf Tristan urus furniture nya!" kata Sarah membuat Arumi tersenyum.
Dan melihat Arumi tersenyum, Sarah malah bertambah senang. Setidaknya dia bisa sedikit menghibur Arumi yang sedang galau.
Sementara itu karena tak bisa menemukan Sarah dan Arumi dimana pun dia mencari. Rendra akhirnya pergi ke kantor Tristan. Saat itu, Tristan sudah bersiap untuk pulang.
Ceklek
Begitu mendengar ada yang membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk. Tristan sudah ambil nafas dalam-dalam, mau memarahi orang yang melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Tapi saat dia melihat Rendra yang masuk dan langsung tiduran di sofa. Tristan tidak jadi marah, lalu mendekati kakaknya itu.
Tristan duduk di kursi lain dan bertanya pada Rendra.
"Ada apa?"
"Huh... aku tidak bisa menemukan istriku di manapun! Tristan, istriku pasti bersama Sarah. Bisakah kamu telepon Sarah. Aku khawatir, Kevin juga bersama mereka. Aku ke rumah mami, mereka tidak ada. Aku ke apartemen mu, mereka tidak ada. Aku ke panti asuhan bunda Tiara, mereka juga tidak ada. Ya Tuhan..." Rendra benar-benar sudah putus asa.
Tristan malah bingung kakaknya kenapa.
"Tadi pagi Arumi memang ke apartemen, tapi dia tidak bilang apapun. Dia hanya main game di balkon, di ajak sarapan juga tidak mau. Sebenarnya ada apa dengan kalian?" tanya Tristan.
Rendra lantas bangun dari posisi tidurnya dan membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Gisella...!"
"Astaga, aku benci mendengar nama itu!" sela Tristan yang memang sangat benci pada Gisella.
"Dia datang semalam ke rumah ayah, dia bilang dia di usir oleh suaminya. Dia di usir tanpa uang. Dia pulang ke apartemen yang dulu menjadi hadiah pernikahan untuknya dariku, dia bilang kuncinya hilang. Tapi aku masih punya cadangannya. Dari situ Arumi marah, dia tidak bicara semalaman. Sampai pagi, aku bangun dia sudah tidak ada. Sialnya lagi, saat di kantor. Gisella datang lagi karena kelaparan tak punya uang untuk makan, aku hanya membelikannya nasi goreng. Tapi tak ku sangka, Arumi dan Sarah ke kafe yang sama. Arumi pasti lebih marah lagi dan tambah salah paham. Aku ingin jelaskan semuanya, tapi Arumi mematikan ponselnya!" jelas Rendra yang sudah tidak beraturan kata-katanya karena dia sangat frustasi.
Tristan hanya mendengus kesal mendengar cerita kakaknya.
"Kalau begitu, itu namanya masalah kamu cari sendiri!" kata Tristan membuat kening Rendra semakin mengkerut.
"Coba pikir, kalau memang mau niat kasih makan saja. Kakak tidak perlu mengantar sampai ke kafe. Cukup jauh uang di kantor. Beres!" kata Tristan yang sepertinya malah berada di pihak Arumi.
Rendra makin garuk-garuk kepala.
"Sekarang aku harus bagaimana? aku khawatir sekali padanya?" tanya Rendra pada Tristan.
"Kakak tenang saja, Arumi itu tipikal wanita yang unik. Kalau orang lain sedang marah atau kesal pada suaminya maka dia akan mogok makan. Arumi itu berbeda, kalau dia kesal padamu. Dia pasti akan lebih banyak makan. Jangan khawatir, aku yakin Sarah akan membawanya ke apartemen. Sarah sangat perduli pada Arumi, dia akan aman bersama kami!" kata Tristan.
"Lalu bagaimana denganku? aku harus menjelaskan semuanya pada Arumi!" kata Rendra panik.
"Sebaiknya kakak jangan ke apartemen ku, kalau kakak datang. Arumi kabur bagaimana? Sudahlah, aku dan Sarah akan bantu bujuk Arumi. Supaya dia mau bertemu dan bicara dengan kakak. Tapi kakak juga jangan bodoh...!"
"Apa katamu?" tanya Rendra terkejut.
"Ya, maksud ku. Kakak jangan bodoh dengan kembali mencari masalah dengan berhubungan lagi dengan Mantanmu itu. Dia sudah meninggalkan kakak dan Kevin, urusan dia tidak bisa makan, tidak punya pekerjaan, itu urusan dia. Kakak dan dia sudah berpisah, sudah bukan kewajiban kakak lagi membantunya untuk urusan apapun. Ingat ya, jangan berurusan lagi dengan wanita itu, kalau masih kakak lakukan. Aku juga tidak akan pernah membantu kakak lagi. Mengerti!" seru Tristan membuat Rendra menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang habis di marahi.
***
Bersambung...
__ADS_1