Tega

Tega
Bab 26


__ADS_3

Sarah sedang berjalan masuk ke arah kantornya setelah turun dari taksi online yang dia tumpangi tadi setelah semua urusannya tentang lamaran dari tuan Arya Hutama selesai.


Saat Sarah mengatakan dia bersedia tadi pada tuan Arya Hutama, pria tua itu terlihat sangat senang. Dia bahkan memeluk putra sulungnya Rendra dan terus mengulas senyum bahagia. Dia juga kembali mengusap wajah dan kepala Sarah sebagai tanda kasihnya pada calon menantunya itu. Harapan jelas terpancar begitu besar dari pria tua itu.


Tapi Sarah jadi sangat sedih saat tuan Arya Hutama berkata.


"Aku percaya anakku akan lebih baik saat dia bersamamu!"


Kata-kata itu seolah menjadi beban untuk Sarah. Dia sampai lupa kalau Tristan itu sangat arogan karena memikirkan harapan bunda Tiara dan tuan Arya Hutama.


"Hais, kenapa aku terima lamarannya ya tadi? ck... ini sama saja bunuh diri kan? sama saja aku menyerahkan diriku masuk ke kandang singa yang sedang lapar. Aku pasti akan di c4bik-c4bik sampai habis tak tersisa!" sesal Sarah sambil berjalan gontai masuk ke perusahaan.


Di saat Sarah sedang menggalau tentang keputusan nya menerima lamaran tuan Arya Hutama untuk Tristan. Sarah malah di kejutkan dengan kehadiran seorang pria yang saat ini tengah menghadang jalannya bahkan tengah berlutut di depan Sarah.


Mata Sarah terbuka lebar, dia langsung mendekati Alan dan meminta pria itu untuk segera bangkit berdiri.


"Mas Alan, apa yang kamu lakukan? cepat berdiri!" pinta Sarah yang sudah panik.


Masalahnya ini di kantor, dan ini sudah waktunya yang istirahat siang kembali ke kantor. Suasana kantor pasti akan segera sangat ramai. Bagaimana mungkin dia membiarkan Alan bersikap seperti itu.


"Sarah, aku benar-benar menyesali perbuatan bodohku. Tolong maafkan aku Sarah, aku sungguh tersiksa beberapa hari ini tak bisa menghubungi mu, tak bisa bicara dengan mu...!"


Alan mencoba untuk mengatakan apa yang terjadi padanya selama beberapa hari ini pada Sarah. Dan kenyataannya memang seperti itu, Alan beberapa hari setelah putus dari Sarah. Hidupnya benar-benar terombang-ambing tak karuan. Biasanya ada yang setiap malam mendengarkan semua keluh kesah Alan. Sekarang tidak ada lagi.


Biasanya tiap hari ada yang mengantarkan sarapan juga makan malam kalau sedang weekend, sekarang tidak ada. Dan biasanya akan ada yang mengurusnya dan memberikan perhatian saat Alan mengalami kesulitan dalam pekerjaannya. Kini sosok itu benar-benar sudah tidak ada. Dan Alan sangat menyesalinya.


Ucapan Alan terbata-bata karena matanya sudah berkaca-kaca. Sarah pun bisa merasakan penyesalan Alan itu. Tapi seperti yang selalu dia lihat selama ini terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya selama ini. Pria yang melakukan pengkhianatan maka jika pria itu di beri kesempatan kedua. Bukan mustahil pria itu akan mengulangi perbuatannya itu lagi.


Lagipula sejak awal mereka membina hubungan, keduanya sudah sepakat tentang kesetiaan dan kejujuran dalam hubungan mereka.


"Mas, hentikan sikap konyol mu ini...!" kesal Sarah.

__ADS_1


Sarah sampai dia berseru seperti itu dengan nada yang sedikit tinggi. Karena saat dia melihat ke kanan dan ke kiri tidak ada karyawan lain di sekitar sana.


Tapi ternyata Sarah salah, harusnya dia juga melihat ke arah belakang sebelum dia berteriak pada Alan karena kesal.


Prok prok prok


Suara tepukan tangan terdengar dari arah belakang Sarah. Sarah langsung melihat ke arah belakang. Rasanya Sarah ingin menghilang saja dari sana kalau ada pintu ajaib Doraemon.


"Pertunjukan bagus! tapi sayangnya kalian berdua tidak tahu tempat!" ujar Tristan dengan ekspresi wajah mencibir.


Richard yang baru datang dari arah belakang, kembali menepuk dahinya.


'Ya Tuhan, nona Sarah lagi. Habis sudah dia kali ini!' batin Richard cemas.


Tristan lalu berdiri di depan Sarah. Alan yang sudah kepalang tanggung merasa kalau dirinya harus memperlihatkan kesungguhan nya meminta maaf pada Sarah di depan Tristan.


Alan berdiri dan memasang wajah sedih dan berjalan ke dekat Sarah dan kembali berusaha meraih tangan Sarah.


"Cih... kalian berdua benar-benar menjijikan!" cibir Tristan.


Sarah yang tak ingin menambah masalah dalam hidupnya pun mencoba untuk terus melepaskan tangan Alan. Karena tak kunjung bisa melepaskan tangannya meski terus menghentak dan menarik tangannya dari genggaman Alan. Akhirnya Sarah pun mencoba untuk menggunakan cara terakhirnya.


Jekkk


"Aughk!" pekik Alan yang pada akhirnya melepaskan tangannya dari Sarah dan memilih memegang kakinya yang di injak oleh Sarah.


Mata Tristan sedikit melebar, dia lumayan kaget dengan cara Sarah melepaskan diri dari Alan.


Richard bahkan sudah meniru ekspresi wajah Alan yang meringis kesakitan.


'Sakit gak? sakit gak? sakit lah, masak enggak!' batin Richard mengejek Alan yang memang menurutnya kurang ajar pada Sarah.

__ADS_1


Meski Richard tidak tahu apa masalah yang terjadi pada Alan dan sarah. Tapi cara Alan itu memegang Sarah meski sudah minta di lepaskan menyiratkan kalau Alan itu egois.


Setelah berhasil lepas dari Alan, Sarah memilih langsung pergi meninggalkan tempat itu menuju lift dan dengan cepat menekan tombol agar pintu lift segera tertutup sebelum Tristan atau Alan bisa mengejarnya.


Sementara Alan terlihat sangat mengenaskan, ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bagaimana tidak, Tristan yang tak terima Sarah pergi begitu saja menghindarinya sudah terlanjur sangat marah dan kesal. Alhasil, Alan yang jadi pelampiasan kekesalan Tristan.


"Bagaimana kalau karyawan lain melihat dan mencontoh perbuatan mu ini?" bentak Tristan yang bertanya pada Alan yang kakinya masih terasa, ngilu, panas dan sangat sakit karena tertusuk hak sepatu Sarah yang lumayan runcing ujungnya.


Sambil meringis kesakitan, Alan pun berusaha menjawab meskipun agak terbata-bata.


"Maaf tuan, saya...!"


"Richard!" panggil Tristan.


Richard pun langsung mendekat ke arah Tristan.


"Siap bos!" kata Richard cepat.


"Catat orang ini karyawan dari divisi mana, skors dia dan atasannya selama satu minggu!" perintah Tristan yang langsung beranjak dari tempat itu.


"Tuan, tuan Tristan... saya minta maaf... saya...!"


"Eh... eh... !" Richard menahan langkah Alan yang ingin mengejar Tristan.


"Sudah kamu terima saja, daripada kamu protes lagi. Bisa-bisa kamu di skors satu bulan!" ucap Richard mencoba menakuti Alan.


Wajah Alan langsung pucat, dia benar-benar banyak tertimpa masalah karena dia sudah salah langkah. Hidupnya yang dulu tenang dan menyenangkan bersama Sarah, kini berganti jadi hari-hari kelam. Semenjak dia tergoda dengan Hera, dan memutuskan selingkuh dengan wanita itu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2