
Karena merasa film yang di putar oleh Tristan itu meresahkan. Sarah memilih untuk tidur saja dan menutup dirinya dengan selimut tebal. Meskipun mereka tidur satu kamar, namun mereka tetap tidur terpisah. Sarah memilih tidur di bawah beralaskan karpet tebal.
Beberapa jam kemudian, karena hari mulai malam Tristan yang awalnya sibuk menonton saja, kini mulai merasa lapar. Tristan melihat Sarah yang tertidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hanya menyisakan wajahnya saja.
Tristan pun berjalan mendekati Sarah, namun sepertinya ombak semakin malam semakin tinggi. Jadi laju kapal yang tadinya tenang pun mendadak jadi tidak tenang lagi. Kapal mulai agak oleng ke kanan dan ke kiri mengikuti aliran ombak yang semakin kuat menerjang.
Tristan bahkan harus berpegang di dinding kapal ketika akan membangunkan Sarah. Dari jauh Tristan sudah mengeluh.
"Wanita freak ini benar-benar ya, dia tidur benar-benar seperti orang mati. Kapal bergoncang seperti ini saja, dia tidak bangun. Astaga!" gerutu Tristan yang masih akan mendekati Sarah.
Namun begitu dia berada di dekat Sarah, kapal mendadak oleng lagi. Dan...
Brukkk
Tristan pun terjatuh tepat di atas tubuh Sarah.
"Aughk!" pekik Sarah yang berusaha membuka selimutnya.
Tristan yang menyadari hal itu lantas langsung bangkit berdiri dengan cepat dan menjatuhkan bantal serta guling dari atas tempat tidur ke atas tubuh Sarah.
Sarah yang membuka matanya lantas menyingkirkan bantal dan guling itu dari atas tubuhnya lalu terduduk.
"Aduh, ternyata bantal dan guling. Tapi kenapa rasanya tadi sakit sekali, seperti tertimpa gajah!" gerutu Sarah yang belum menyadari Tristan sedang duduk di tepi tempat tidur yang ada di sebelah Sarah.
'Apa dia bilang? gajah?' tanya Tristan dalam hatinya lalu memperhatikan badannya dari kanan ke kiri.
"Hei, apa maksud mu dengan gajah?" tanya Tristan kesal yang mendengar Sarah tadi mengatainya dengan gajah.
Karena jelas dia yang jatuh di atas tubuh Sarah tadi.
Sarah yang masih mengusap wajahnya pun menoleh ke arah Tristan.
"Hah, apa?" tanya Sarah yang sepertinya nyawanya belum terkumpul semua.
"Ck... sudahlah. Aku lapar. Siapkan makanan dan bawa kemari!" seru Tristan menyudahi perdebatan tentang gajah.
__ADS_1
"Kan tinggal telepon saja koki di dapur, nanti mereka akan antarkan kemari!" kata Sarah yang masih mengantuk.
Mendengar penolakan dari Sarah, Tristan pun mendengus kesal.
"Aku meminta mu yang memasak dan mengambilnya. Ingat tidak poin ketiga perjanjian kita?" tanya Tristan dengan raut wajah serius.
Sarah pun hanya bisa menghela nafasnya lagi dan lagi, dia pun langsung berusaha untuk berdiri karena tidak ingin membuat Tristan panjang lebar mengingatkan dirinya tentang surat perjanjian mereka. Karena dendanya ternyata sangat besar. Saat ini Sarah tidak mungkin bisa membayarnya.
Karena masih mengantuk, Sarah pun sedikit sempoyongan. Di tambah kapal yang lagi-lagi terguncang.
Brukkk
Sarah pun terjatuh ke pangkuan Tristan. Dahi Sarah bahkan menyentuh bibir Tristan.
Menyadari kesalahannya, Sarah dengan cepat berdiri dan berlari menuju ke arah pintu keluar kamar itu. Dengan cepat Sarah membuka pintu dan keluar dari kamar itu lalu menutupnya dengan cepat.
Sarah memegang dahinya yang tadi tidak sengaja tercium oleh Tristan.
"Mampus aku, pasti manusia batu itu akan marah lagi. Mengomel lagi, ya ampun ini jidat kenapa mengarahnya ke sana sih?" gumam Sarah yang menyalahkan jidatnya yang mengarah ke tempat yang salah.
Sedangkan Tristan, saat ini dia tengah menyentuh bibirnya yang tadi tidak sengaja mencium kening Sarah. Saat hal itu terjadi, dia merasakan hal yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Dan saat Sarah terburu-buru pergi menghindarinya bahkan keluar dari kamar tadi. Tristan bahkan merasa ada sesuatu yang hilang dan dia tidak menyukai itu.
Tristan masih terdiam selama beberapa saat sebelum dia mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar.
"Sialll, tidak mungkin aku mulai menyukainya kan? ini tidak mungkin!" gumam Tristan kesal.
Beberapa lama kemudian, Sarah mengetuk pintu kamar dan membukanya.
"Di luar sedang ada badai. Tapi kata kapten kapal, masih badai ringan. Jadi tidak apa-apa!" ucap Sarah yang sengaja mengalihkan pembicaraan agar Tristan tidak mempermasalahkan kejadian sebelum Sarah keluar dari kamar tadi.
Tristan yang masih berdiri dekat jendela pun menoleh ke arah Sarah, yang sedang meletakkan nampan di atas meja.
"Itu makan malam nya. Aku akan makan malam dengan yang lain di lantai dua!" kata Sarah yang ingin berjalan keluar.
Namun saat Sarah akan keluar dari kamar itu. Tristan memanggilnya.
__ADS_1
"Tunggu, makanan itu cukup banyak. Kenapa tidak makan di sini bersama ku?" tanya Tristan.
Sarah yang punya firasat tidak baik pun memejamkan matanya dan berbalik menghadap ke arah Tristan.
"Tristan dengar, aku tidak sengaja. Aku tadi terjatuh begitu saja karena guncangan kapal. Kalau harus bayar denda, aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang!" ucap Sarah yang mengira kalau Tristan mengajaknya makan bersama untuk membahas masalah itu.
Tristan bahkan tertegun mendengar apa yang Sarah katakan. Karena dia memang tidak berniat untuk membahas hal itu lagi.
"Baiklah, begini saja. Karena aku tidak sengaja melakukan kontak fisik denganmu, baiklah... begini saja. Aku kan tidak sengaja, jadi.. kamu juga tidak harus bayar denda kalau tidak sengaja melalukan kontak fisik denganku nanti. Bagaimana? cukup adil kan?" tanya Sarah yang memang ingin jalan damai saja.
Tristan baru aja akan bicara, tapi Sarah kembali bicara karena dia terlewat over thinking.
"Ya, aku tahu kamu pasti tidak akan melakukannya. Aku tahu, aku bukan levelmu. Tapi kita tidak tahu kan, ketidaksengajaan itu bisa terjadi kapan saja kan? bagaimana?" tanya Sarah lagi.
Rasanya Tristan ingin tertawa, sepertinya dia sudah tahu seperti apa Sarah itu. Sarah itu adalah orang yang sangat khawatir dan over thinking kalau sudah melakukan sebuah kesalahan.
"Baiklah, kali ini begitu juga boleh!" kata Tristan membuat Sarah menghela nafasnya lega.
"Baiklah kalau begitu selamat makan, aku akan makan dengan Mbak Sartika dan mbak Diah di lantai bawah!" kata Sarah.
"Siapa mereka itu?" tanya Tristan yang baru mendengar kedua nama itu.
"Para koki kita, yang memasak makan malam ini!" jelas Sarah.
"Jadi ini bukan masakanmu?" tanya Tristan dan Sarah menggelengkan kepalanya perlahan.
"Ck... bawa turun lagi, aku cuma mau makan masakanmu. Siapa yang tahu mereka memasukkan sesuatu ke dalam makanan ku ini kan?" tanya Tristan kesal.
Sarah pun hanya bisa menghela nafasnya lagi dan lagi. Sambil meraih nampan itu dan membawanya keluar Sarah berpikir.
'Satu-satunya orang yang ingin memasukkan sianida ke dalam makanan mu itu cuma aku, dasar manusia batu!' geram Sarah dalam hatinya.
***
Bersambung...
__ADS_1