Tega

Tega
Bab 124


__ADS_3

Inka masih menangis di dalam kamar hotel, sampai menjelang sore. Karena sampai saat itu, Jerry Alando tak kunjung kembali ke kamar hotel tersebut. Inka bahkan belum makan. Jangankan makan, beranjak dari tempatnya duduk dan menangis sejak Jerry Alando meninggalkannya tadi.


Bukan karena dia tidak tahu cara pesan makanan. Tapi dia begitu shock. Bagaimana tidak, semenjak Alan kembali semuanya masih berjalan begitu baik. Alan dan keluarganya datang ke rumah Inka, ke kediaman Adhikara dengan baik-baik. Kala itu bahkan Alan terlihat sangat sopan. Setelah empat tahun tidak bertemu, Alan menyapa Inka dengan senyuman dan mengatakan.


"Apa kabar Inka?"


Sapaan Alan kala itu membuat hati Inka berbunga-bunga. Hanya di sapa begitu saja rasanya Inka sudah bisa melupakan semua kesedihannya selama empat tahun terakhir, yang bahkan di tinggalkan pergi oleh Alan setelah tanggal pertunangan mereka di tetapkan.


Semenjak saat itu sampai acara lamaran, pernikahan. Dan malam pernikahan, Alan masih sangat baik dan romantis pada Inka. Mereka bahkan juga sudah menghabiskan malam pertama mereka di kediaman Adhikara, lalu di lanjutkan acara ngunduh mantu di kediaman Kusuma Wijaya.


Bahkan malam panjang juga mereka sudah habiskan berdua. Lalu bagaimana Inka bisa mengira kalau semuanya akan berubah seperti ini. Bahkan Alan kerap kali memanggilnya sayang ketika mereka melakukan penyatuan bersama.


Inka benar-benar patah hati, tapi bagaimana mungkin dia menceritakan semua ini pada ayah dan ibunya. Bagaimana pun dia telah menikah, bagaimanapun dia juga sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Alan.


Inka benar-benar hanya bisa menangis, meratapi kesedihannya. Dan kebingungannya terhadap sikap Alan padanya.


Sementara itu di luar hotel, di sebuah bar. Alan sedang bertemu dengan seorang temannya yang adalah seorang pengacara. Kebetulan temannya itu sedang liburan untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang kedua.


Teman Alan itu adalah Hilman, salah satu pengacara muda terbaik di negara mereka. Alan sengaja mengajak Inka ke Maldives, karena melihat postingan media sosial Hilman yang mengatakan libur dulu menerima semua kasus karena ingin menyenangkan istrinya. Sungguh suami yang sayang istri.


"Jadi kenapa kamu sampai menyusul ku kemari?" tanya Hilman pada Alan.


"Langsung saja ya, aku ingin hak paten untuk pabrik tekstil milik dua keluarga itu menjadi atas namaku. Aku yakin kamu bisa membuat dokumennya bukan?" kata Alan pada Hilman.


"Wah, Alan. Bukankah itu memang akan jadi milikmu. Setelah kamu punya anak dengan istrimu yang anak tunggal keluarga Adhikara itu?" tanya Hilman lagi.


"Itu sangat lama Hilman, satu tahun bahkan bisa lebih. Saat itu mungkin Sarah sudah punya anak juga, akan sulit memisahkan Sarah dengan suaminya saat itu!" kata Alan pada Hilman.


Hilman pun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar rencana Alan tersebut.

__ADS_1


"Kalau aku jadi kamu, aku akan berusaha mencintai istriku. Aku akan berusaha melupakan Sarah. Kalian sudah sama-sama memiliki pasangan hidup!" kata Hilman berusaha menasehati sahabatnya itu.


Alan malah langsung menenggak minuman yang tersisa di gelas yang dia pegang dengan satu kali tenggak. Setelah itu Alan meletakkan gelas itu dia atas meja bar dengan lumayan keras sampai berbunyi.


Takk


"Tidak bisa Hilman, setelah aku kehilangan Sarah. Aku baru benar-benar merasa aku tidak bisa hidup tanpa dia, benar-benar tak bisa terlalu lama tanpa dia. Aku harus mendapatkannya kembali, aku sangat mencintainya!" kata Alan jujur tentang perasaannya pada Sarah.


"Lalu kenapa kalian putus? bukankah saat kalian berdua menghadiri pernikahan ku dengan Tami, kalian masih baik-baik saja. Kalian begitu mesra?" tanya Hilman.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Hilman. Alan langsung mengusap wajahnya kasar.


"Itu semua salahku, Hera.. wanita ular itu. Terus merayuku, menggodaku dengan segala cara. Sarah menemukan kami di dalam kamar hotel dan...!"


"Wah, kamu keterlaluan Alan. Kurang apa Sarah padamu? untung Tami tidak mendengar hal ini, kalau dia tahu. Dia juga pasti akan membencimu. Dia tidak akan memperbolehkan aku membantumu!" tegas Hilman.


Alan pun memasang ekspresi menyesal dan sedih di depan Hilman.


"Karena kebodohanku itu aku kehilangan Sarah, dan karena dia marah, dia sakit hati padaku. Dia malah menikah dengan orang lain!"


Ungkap Alan yang membuat Hilman serius memperhatikannya.


"Tapi aku sangat menyesal Hilman, aku bahkan menangis dan bersujud di depan Sarah. Hanya saja saat itu calon suaminya adalah bos ku, aku tak bisa berbuat banyak!"


Hilman terlihat menghela nafas panjang. Dia juga adalah saksi cinta Sarah pada Alan saat mereka sesekali bertemu dulu. Saat reuni, atau saat mereka tidak sengaja bertemu lalu makan dan jalan-jalan bersama. Sarah begitu mencintai Alan, Sarah bahkan akan makan setelah Alan mulai makan, dan Sarah bahkan tak jarang memberi hadiah Alan, ini dan itu agar kekasihnya itu senang saat Alan mengalami masa lelah, atau bosan bekerja. Sarah akan menyemangati Alan dengan banyak hal.


Hilman pun mulai merasa kalau mereka memang pantas mendapatkan kesempatan kedua. Meski kesalahan Alan memang fatal, tapi di lihat dari perjuangan Alan yang sampai menyusul Hilman keluar negeri. Hilman merasa kalau Alan benar-benar serius ingin memperbaiki hubungannya dengan Sarah.


Mereka sama-sama pria, jadi pemikiran mereka bisa se-frekwensi sepertinya.

__ADS_1


"Makanya sekarang aku minta kamu membantuku! tolong aku, kalau aku bisa mengalahkan kekuasaan dan kekayaan suami Sarah, aku yakin dia akan kembali padaku. Kamu tahu kan betapa dia mencintai aku, dia tidak mungkin bisa dengan mudah mencintai suaminya itu. Aku yakin saat inipun hidup Sarah pasti tidak bahagia. Bantu aku Hilman!"


Alan masih terus mencoba meyakinkan sahabatnya itu, Alan masih terus berusaha membujuk Hilman agar mau membantu rencananya menguasai semua pabrik milik ayahnya dan ayah mertuanya tanpa harus menunggu Inka melahirkan seorang cucu untuk mereka.


Hilman pun kembali terdiam, cukup lama dia berpikir.


"Tapi bagaimana dengan istrimu?" tanya Hilman yang juga masih menimbang bagaimana perasaan istri Alan.


"Kamu kenal Raes kan? dia sangat mencintai Inka. Setelah bercerai denganku, aku yakin Raes akan menerima Inka. Dan aku juga akan memberikan kompensasi yang pantas untuk Inka. Aku tidak akan membuatnya hidup susah, lagipula aku sudah jelaskan padanya. Dan dia...!"


Alan menjeda kalimatnya, dia berpikir kalau dia harus sedikit mendramatisir keadaan agar Hilman yang notabene nya adalah pengacara yang baik itu mau membantunya.


"Dia sudah tahu semuanya, dia bilang jika Sarah mau menerimaku kembali nanti. Dia akan dengan ikhlas melepaskan aku. Kami sama-sama menyadari kalau semua ini adalah kehendak kedua orang tua kami, kami sebagai anak berusaha memenuhinya. Tapi kalau kami tidak bahagia. Kami harus bagaimana? Hilman, kamu mau membantu ku kan?" tanya Alan terlihat begitu berharap.


Sebagai pengacara, Hilman memang tidak terbiasa mendengar dari salah satu orang saja. Tapi karena yang bicara padanya itu adalah teman lamanya, sudah berteman dengan dirinya sangat lama. Bahkan dia juga tahu seperti apa dulunya Sarah mencintai Alan. Maka Hilman pun berkata.


"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi tidak dalam waktu dekat. Aku masih punya janji dua minggu dengan Tami di sini. Aku kembali dulu ke hotel. Tami pasti belum makan, dia akan makan jika aku sudah pulang!" kata Hilman yang di angguki Alan.


Setelah Hilman pergi, Alan nampak tersenyum penuh kemenangan. Dia berpikir, kalau tidak lama lagi rencananya pasti akan berhasil. Tidak perlu menunggu satu tahun, dia akan menjadi Jerry Alando Kusuma Wijaya yang kaya raya. Bahkan melebihi kekayaan tuan Arya Hutama.


Jerry memesan satu gelas minuman lagi, dia ingin merayakan keberhasilannya membujuk Hilman. Dia bahkan tidak perduli, kalau istrinya tengah kelaparan dan sedih di kamar hotel.


Seseorang yang matanya juga mata hatinya sudah di butakan oleh obsesi. Memang tidak akan mampu melihat mana yang baik dan yang buruk, mana yang benar dan yang tidak. Saat ini Jerry Alando sedang berada dalam fase itu.


"Aku akan segera datang padamu Sarah, tunggu saja!" gumam Jerry Alando yang kembali menenggak minumannya dalam sekali teguk.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2