
"Lahir aja belum? Apa mungkin dia punya musuh yang mau celakai dia?" tanya Sarah mode lemot.
Arumi menepuk dahinya sendiri.
"Gini nih kalau ngidamnya bukan naik pesawat jet, lemot kan?" tanya Arumi membuat Sarah terkekeh.
"Ngeri juga kalau ngidam naik pesawat jet, ngidam mahal tuh!" balas Sarah santai.
"Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati Sarah, untung saja kemarin ada Tano. Aku pikir saran ibu kamu itu benar juga loh. Gak ada salahnya kemana-mana bawa bodyguard. Lagian selain aman, kan kelihatan keren juga!" kata Arumi lagi.
Dan Sarah pun mengangguk patuh pada apa yang dikatakan oleh sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
"Eh, jemput Kevin jam berapa? aku ikut ya?" tanya Sarah pada Arumi.
"Eh... gak usah Sarah. Yang ada kalau kamu ikut, musnah sudah harga diriku di depan teman-temannya Kevin. Kevin pasti panggil kamu mama, terus apa kabar sama aku yang pasti di panggil Tante di depan semua orang disana nanti. Gak usah Sarah, aku saja. Nanti aku bawa dia kesini!" kata Arumi yang terlihat sangat protektif pada statusnya sebagai ibu kandung Kevin.
Sarah hanya bisa terkekeh, Arumi memang sepertinya hanya punya satu masalah itu dalam rumah tangganya. Hanya tinggal menunggu Kevin memanggilnya Bunda. Tapi kenapa cukup lama juga ya, itulah yang ada di pikiran Sarah. Sedangkan dia dan Tristan baru beberapa kali berhubungan sudah membuahkan hasil. Sarah bahkan mendengar Arumi sering mengajak Rendra kerja rodi tapi kenapa malah belum ada tanda-tanda sama sekali. Tapi Sarah tetap berharap agar secepatnya ada kabar baik dan Arumi lekas di panggil bunda oleh Kevin.
***
Di tempat lain, dugaan Sarah ternyata benar. Bunda Tiara di temani oleh Dinda, salah satu anak panti yang sudah SMA. Saat ini sudah berada di kantor polisi di mana Hera di tahan.
Seperti kata Sarah, bunda Tiara sangat sedih mendengar apa yang terjadi pada Hera. Anak itu dia temukan di dekat semak belukar di taman yang berada di dekat panti saat itu. Masih bayi, sedang menangis dengan selimut tipis tanpa alas. Benar-benar berada di atas rumput. Saat itu taman dekat panti itu masih seperti tempat yang tidak terurus. Beberapa anggota badan Hera saat itu bahkan merah karena di gigit semut.
Bunda Tiara lantas membawa Hera dan menjaganya, merawatnya dengan baik di panti asuhan. Sampai beberapa tahun kemudian Sarah datang, dia seumuran dengan Hera kala Bunda Tiara menemukannya menangis di depan pintu.
__ADS_1
Mendengar Hera di tahan di kantor polisi. Hati bunda Tiara terenyuh, anak yang sejak kecil dia besarkan hingga saat itu usianya 7 tahun saat di adopsi oleh keluarga Ricardo. Bunda Tiara masih tak percaya Hera bisa tumbuh besar seperti itu, perangainya yang semakin menjadi membuat bunda Tiara merasa sedih. Karena dia merasa dia membesarkan Sarah sama persis seperti dia membesarkan Hera. Namun kenapa dua orang itu tumbuh dengan perangai yang begitu berbeda.
Bunda Tiara dan Dinda menunggu di ruang tunggu, bunda datang terlalu pagi sebenarnya. Tapi kartan para petugas mengenal bunda Tiara dengan baik. Maka para petugas mempersilahkan bunda Tiara yang datang dengan satu buah rantang ukuran sedang yang di bawa oleh Dinda untuk bisa bertemu dengan Hera.
Di ruang tunggu, bunda terlihat duduk dengan gelisah melihat beberapa tahanan lain yang ada di sana. Bunda Tiara mengkhawatirkan Hera, kalau benar akan di penjara maka dia akan tinggal bersama orang-orang itu, yang seluruh badannya ada yang penuh dengan tattoo dan juga beberapa orang yang terlihat sangat galak wajahnya.
Hera keluar dari tahanannya dan di arahkan oleh seorang petugas untuk menemui bunda Tiara di salah satu meja dekat meja petugas.
Melihat kedatangan bunda Tiara, Hera malah berdecak kesal.
"Aku pikir mamaku, bunda Tiara ngapain sih kesini?" tanya Hera yang sudah berharap kalau Fitria yang datang.
Kalau Fitria yang datang, maka Hera akan menangis terisak dan minta agar mama angkatnya itu melepaskan, membebaskannya dari tahanan. Namun yang datang malah bunda Tiara, Hera merasa kalau tidak ada gunanya kedatangan bunda Tiara itu untuknya.
Hera bahkan tidak duduk dan hanya berdiri tanpa mau menatap bunda Tiara.
"Hera, bunda bawakan kamu makanan. Bunda yang masak. Makan dulu ya Hera!" kata bunda Tiara yang khawatir pada makanan tahanan yang dimakan Hera.
Bunda banyak mendengar kalau makanan tahanan itu porsinya sedikit. Bunda Tiara khawatir Hera tidak kenyang.
Tapi di perhatikan seperti itu oleh bunda Tiara, Hera malah seperti orang yang menunjukkan kalau dia jijik pada perhatian bunda Tiara itu.
"Gak usah sok baik deh bunda, palingan juga tempe, tahu, paling bagus juga telur. Makanan panti kan itu-itu saja!" kata Hera meremehkan.
Bunda Tiara terdiam, dulu makanan panti saat Hera masih di panti memang hanya itu-itu saja. Sebab bunda Tiara yang bekerja saat itu sendirian dan mengurus banyak anak. Tapi sekarang sudah berbeda, sekarang sudah banyak orang baik yang menjadi donatur. Makanan panti bahkan lebih enak dari makanan di restoran.
__ADS_1
"Kak Hera salah, makanan panti tidak seperti itu. Kami juga makan daging, ikan, dan ayam dalam seminggu. Lagian kak Hera pernah sekolah gak sih? tempe dan tahu itu juga banyak proteinnya!" kesal Dinda.
Mendengar Dinda bicara seperti itu padanya, Hera menjadi kesal.
"Heh, siapa kamu berani menceramahi aku?" pekik Hera.
"Sudah Dinda, Hera. Duduk dulu. Bunda mau bicara!" kata bunda Tiara.
"Duduk kamu!" kata petugas yang mengawasi Hera.
Karena petugas yang memerintahkan, akhirnya Hera duduk.
"Nak, bunda sudah dengar semuanya. Hera, masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Kamu harus belajar dari semua ini nak, jadilah wanita yang baik. Hargai diri kamu sendiri, apa yang kamu lakukan itu salah nak, tapi selalu ada kesempatan bagi yang mau berubah. Kasihan tuan Ari Ricardo dan nyonya Fitria...!"
"Bunda kalau mau ceramah gak usah di sini deh. Aku gak butuh ya ceramah bunda. Yang aku butuhkan itu aku bisa bebas dari sini. Malah ceramah! Sudah, aku malas ketemu sama bunda. Dan bawa lagi itu makanan panti, sudah bagus aku keluar dari panti. Untuk apa aku makan makanan panti lagi!" kata Hera yang langsung meninggalkan bunda Tiara dan kembali ke ruang tahanan nya.
Dinda yang mendengar dan melihat kelakuan Hera mendengus kesal.
"Dasar tidak tahu terimakasih, memangnya kalau bukan karena makanan panti memangnya dia masih hidup sampai sekarang. Menyebalkan!" kata Dinda yang kesal sekali dengan Hera.
"Sudah Dinda, kita pulang saja ya!" kata bunda Tiara lirih.
"Iya bunda!" jawab Dinda yang lantas menoleh ke arah Hera yang masuk ke ruang tahanannya.
'Aku memang tidak pernah tahu siapa kedua orang tua ku, tapi aku yakin mereka orang baik. Kak Sarah juga, dia sangat baik. Dan ternyata kedua orang tuanya memang orang baik. Sedangkan kak Hera, aku pikir mungkin dia memang sengaja di buang ibunya yang kelakuannya sama seperti dirinya, wanita yang suka merusak hubungan orang!' batin Dinda.
__ADS_1
***
Bersambung...