
"Sarah!"
Kali itu adalah kali pertama, Tristan menyebut nama Sarah dan tidak memanggilnya dengan sebutan wanita freak.
Sarah terjebur ke laut. Dan Tristan bisa melihat kalau Sarah sepertinya sangat kesulitan untuk mengarahkan kepalanya ke permukaan air. Kedua tangannya mengepak-ngepak ke atas mencari apa yang bisa dia pegang.
Tristan juga ingat kalau Rendra pernah mengatakan kalau Sarah memang tidak bisa berenang.
Byurrr
Tristan langsung menceburkan dirinya ke air tapi dia mengambil jarak dari tempat Sarah tenggelam, Tristan menyembulkan dirinya ke permukaannya lalu mencari keberadaan Sarah. Tristan terus berusaha untuk menggapai tubuh Sarah dan membawanya ke tepi, ke dekat sebuah batu.
Tristan yang sudah berhasil menarik tubuh Sarah dan mengangkatnya ke atas batu langsung ikut naik ke atas batu itu.
Tristan berusaha menggoyangkan badan Sarah, namun sepertinya Sarah sedang dalam kondisi tak sadarkan diri akibat banyak air masuk ke dalam saluran pernapasannya.
Tristan yang panik langsung menekan perut Sarah berusaha mengeluarkan air dari saluran pernapasan Sarah. Keluar air dari mulut Sarah, tapi tak membuat Sarah sadar. Dan setelah hal itu tidak membuahkan hasil dan Sarah belum sadarkan diri juga. Tristan pun menekan dada Sarah beberapa kali.
Tak ada hasil Tristan, pun memutuskan melakukan CPR. Dia membuka mulut Sarah dan menutup hidung Sarah.
Setelah dua kali Tristan melakukan CPR, Sarah pun terbatuk. Dan perlahan Sarah membuka matanya yang memerah dan berair.
"Uhukk... uhukk uhukk...!"
Tristan langsung menghela nafasnya lega melihat Sarah sadar. Tristan langsung menarik Sarah bangun dan memposisikan Sarah dengan posis duduk, lalu menepuk-nepuk punggung Sarah memastikan jalan pernafasan Sarah tidak lagi tersumbat air atau apapun yang ada di dalam air tadi.
"Uhukk!"
Tristan lantas duduk dengan mensejajarkan kakinya, Tristan terlihat sangat kelelahan tapi dia merasa sangat lega, nyawa Sarah selamat.
Sarah yang menyadari kecerobohannya dan telah di selamatkan oleh Tristan pun hanya bisa menunduk diam.
"Tristan, maaf...!"
"Apa sih yang kamu pikirkan? apa wajahku sangat mengerikan sampai kamu memilih menceburkan diri ke laut dari pada menatapku?" tanya Tristan sedikit kesal.
__ADS_1
Sarah hanya diam, Tristan juga tidak terlalu menuntut jawaban Sarah seperti biasanya. Tristan tahu kalau Sarah pasti masih shock dengan kejadian barusan. Tristan bisa melihat tangan dan kaki Sarah gemetaran. Tapi kalau mereka terus di tempat itu maka bisa saja Sarah terkena hipotermia.
Tristan lantas berdiri dan menghela nafas panjang sebelum berkata.
"Aku akan menggendong mu ke bungalow. Kita harus segera ganti baju sebelum kita berdua sakit di pulau yang tidak ada orang lain selain kita berdua ini!" kata Tristan yang sudah bersiap mengambil ancang-ancang untuk menggendong Sarah ala bridal style.
Namun Sarah yang merasa sangat canggung, berusaha untuk bangun dan berusaha berdiri. Namun ternyata kakinya yang begitu gemetaran tak sanggup menopang berat tubuhnya. Sehingga hampir saja Sarah terjatuh, untung saja Tristan sigap menahan tubuh Sarah. Jika tidak mungkin dia akan kembali jatuh ke air.
"Sudah jangan keras kepala!" kata Tristan yang langsung menggendong tubuh Sarah.
Sarah benar-benar sangat tidak nyaman, namun dia juga tidak ingin menambah ketidakberuntungannya hari ini.
"Kalungkan tanganmu di leherku!" kata Tristan yang tak ingin Sarah terjatuh akibat tangannya yang licin karena basah yang menahan tubuh Sarah.
Sarah tak banyak protes lagi, dia menyadari kalau kali ini dirinya memang harus bekerja sama dengan Tristan. Sarah pun mengalungkan kedua tangannya yang bertaut di belakang leher Tristan.
Tristan pun berusaha berjalan dengan sangat hati-hati. Dia berusaha mencari jalan yang aman untuk bisa dia lewati karena kakinya juga dalam keadaan basah.
Tak lama kemudian mereka sampai di bungalow, Tristan menurunkan Sarah di depan pintu bungalow.
Sarah pun mengangguk, kemudian mereka berdua masuk. Tristan mempersilahkan Sarah untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Sementara Tristan beranjak ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Hanya membuat teh saja, dia sudah biasa melakukannya di apartemennya.
Sarah juga tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, dia sadar kalau Tristan tadi juga dalam keadaan basah kuyup.
Setelah berganti pakaian, Sarah pun mengeringkan rambutnya dengan handuk. Namun dia langsung keluar dari kamar mandi, dia pikir akan mengeringkan rambutnya di luar saja.
Begitu Sarah keluar dari kamar mandi, Tristan memanggilnya.
"Hei, ini aku buatkan teh untukmu. Minumlah. Ini akan membuatmu hangat!" kata Tristan yang langsung meletakkan cangkir teh untuk Sarah di atas meja makan.
Sarah pun berjalan mendekati meja makan, sementara Tristan malah melewatinya menuju kamar mandi.
Sarah lalu duduk dan terus menatap ke arah teh yang masih mengepulkan asap di hadapannya itu.
'Tristan sudah menyelamatkan aku, sepertinya aku sudah salah menilainya selama ini. Mungkin benar kata ayah Arya Hutama, Tristan sebenarnya baik!' pikir Sarah sambil menatap lurus ke arah cangkir teh yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Sarah pun mengulurkan tangannya meraih pegangan cangkir teh buatan Tristan itu. Perlahan dia mengangkat nya dan meminumnya. Takaran manisnya pas.
'Apa dia sering membuat minumannya sendiri?' tanya Sarah dalam hati.
Setelah meletakkan kembali cangkir teh di hadapannya. Sarah melihat ke arah lain meja makan itu. Tapi dia tidak melihat ada cangkir teh lagi. Sementara menurut Sarah, Tristan juga butuh minuman hangat.
Karena merasa sudah baikan, Sarah pun bangun dan berjalan menuju ke dapur. Dia membuatkan teh hangat sama persis seperti yang dia minum tadi. Takaran manis yang sedang tapi tetap terasa sangat enak.
Saat Tristan keluar dari kamar mandi, dia langsung menghampiri Sarah yang sudah kembali duduk di meja makan.
"Tristan, itu untukmu!" kata Sarah yang langsung menunjuk cangkir yang ada di seberang Sarah tempat duduk Sarah.
Tristan pun duduk dan meminum teh hangat itu.
"Em, Tristan... terimakasih banyak. Aku tidak tahu apa aku masih hidup sekarang, jika tadi kamu tidak menyelamatkan aku. Aku sangat berterimakasih!" kata Sarah dengan tulus, sampai dia menganggukkan kepalanya bahkan mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Kita hanya berdua di sini, aku yakin kamu juga pasti akan melakukan apapun untuk membantuku saat aku kesulitan kan?" tanya Tristan.
Sarah langsung mengangguk paham.
"Tentu saja, asalkan kamu jangan tenggelam. Aku tidak bisa berenang, dan aku tidak tahu bagaimana cara menyadarkan orang yang pingsan karena tenggelam!" kata Sarah mulai mengakrabkan diri dengan Tristan.
"Itu mudah, kamu bisa kursus. Nanti kalau kita kembali ke kota. Kamu bisa mulia kursus. Dan untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, supaya sadar. Kita hanya perlu melakukan CPR!" jelas Tristan panjang lebar.
"CPR?" tanya Sarah.
"Iya nafas buatan?" jelas Tristan lagi.
Mata Sarah pun langsung melotot.
"Apa tadi kamu juga melakukan itu padaku?" tanya Sarah dengan wajah yang terlihat sangat terkejut.
Tristan baru sadar, kalau tadi dia memang sudah melakukan itu, memberi nafas buatan pada Sarah yang artinya...
***
__ADS_1
Bersambung...