Tega

Tega
Bab 188


__ADS_3

Widya langsung berteriak histeris ketika hendak membantu Damar yang akan menggendong Inka ke sofa, tapi malah merasakan tangannya yang memegang paha bagian bawah Inka terasa basah.


Dengan satu tangan masih di sana, Widya melihat tangannya yang berwarna merah.


"Ayah, bawa ke rumah sakit ayah! Inka berdarah!" teriak Widya yang sudah berderaian air mata.


Damar juga panik bukan main, dia bahkan berteriak memanggil seluruh penjaga dan supir rumahnya untuk membukakan pintu lebih lebar dan juga menyiapkan mobil untuk mereka segera pergi ke rumah sakit. Saat semua kejadian itu terjadi, Mulya sedang tidak ada di rumah. Dia sedang pergi ke toko obat untuk membelikan obat untuk Inka yang tadi datang dengan wajah pucat ke rumah.


Baru melihat Inka dengan wajah pucat, Mulya berinisiatif membeli obat. Tanpa dia mendengar alasan Inka datang. Karena memang Inka tidak cerita padanya, dia menunggu Widya keluar dari kamar baru memeluk ibunya itu dan menceritakan semuanya.


"Cepat ke rumah sakit, yang paling dekat. dekat!!" pekik Damar yang menggendong Inka dan di sebelahnya Widya juga membantu menjaga agar Inka dalam posisi aman.


Pak Slamet langsung bergegas melajukan mobil yang dia kemudikan menuju rumah sakit yang paling dekat dengan kediaman Adhikara. Damar dan Widya sama-sama panik, mereka tak bisa bicara apapun selain terus berdoa demi keselamatan Inka. Masalahnya Inka sudah pendar4han sepertinya. Banyak sekali d4rah yang keluar dan itu membuat Widya semakin cemas.


"Sayang kamu harus kuat ya nak, ibu dan ayah ada di sini. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit nak!" kata Widya sambil di hatinya terus berdoa.


Widya sangat takut terjadi sesuatu pada Inka. Widya hanya punya Inka saja, karena memang dia tidak punya anak lagi. Inka satu-satunya anak Widya. Widya benar-benar sangat takut jika Inka kenapa-napa.


"Kamu harus bertahan nak!" ucap Damar juga yang tak kalah panik.


"Pak Slamet, tolong lebih cepat pak!" kata Widya lagi.


Dan dengan kecepatan yang bisa di kuasai oleh pak Slamet. Dalam waktu lima belas menit, mereka tiba di rumah sakit terdekat.


Widya langsung berlari memanggil para perawat untuk membantu suaminya mengeluarkan Inka dari dalam mobil. Kemudian Inka dibaringkan ke sebuah ranjang dorong dan langsung dibawa ke ruangan UGD oleh para perawat tersebut.


"Mohon di urus administrasi dulu pak, Bu!" kata salah seorang perawat yang mempersilahkan Damar atau Widya mengurus administrasinya.

__ADS_1


Slamet yang kebetulan ikut dengan mereka pun berinisiatif untuk mengurus administrasi, agar tuan dan nyonyanya tidak perlu meninggalkan ruang UGD.


Dengan pakaian yang sudah berlemuran noda warna merah, Widya terus berdoa sambil terus menatap ke arah ruang UGD yang lampu di atas pintu ruangan tersebut menyala berwarna merah. Pertanda, sedang dilakukan tindakan medis di dalam ruangan tersebut.


"Ayah, ibu takut yah. Darah yang keluar banyak sekali. Sebenarnya Inka kenapa yah? nak Jerry sungguh Tega...!"


"Jangan sebut nama pria bren9sek itu lagi Bu!" sela Damar yang sekarang menjadi sangat benci pada Jerry Alando.


Dengan tatapan penuh kemarahan, Damar mengepalkan tangannya.


"Si bren9sek itu telah mempererat Putri kita untuk menghancurkan kita, Bu. Di merampas pabrik yang selama puluhan tahun aku bangun dengan segala kerja kerasku. Setelah dia mendapatkan semuanya dia bahkan mencampakkan putri kita begitu saja! manusia bren9sek itu tidak pantas kita sebuah namanya!" kata Damar sangat emosi.


Anika yang ternyata juga mengikuti mereka dengan mobil yang menuju rumah sakit, mencoba menghampiri kedua mantan besannya itu.


"Mas Damar, bagaimana dengan kondisi Inka?" tanya Anika yang raut wajahnya terlihat sangat cemas.


"Lihat perbuatan anakmu, bagaimana sebenarnya cara kalian mendidik anak kalian itu. Aku tidak akan melepaskan pria bren9sek itu kalau terjadi sesuatu pada anakku. Sampai lubang semut pun aku akan mencarinya dan membuat perhitungan dengannya!" pekik Damar yang sangat emosional.


Widya juga hanya mampu menangis, menyesali keputusannya yang bersikeras mendukung Inka menikah dengan Jerry Alando. Padahal sang ayah sempat menentang hal itu.


Anika yang juga sedang sangat kecewa pada Jerry Alando, tak mampu menjawab perkataan Damar. Dia sadar dia juga bersalah dalam hal ini karena tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Sampai Jerry Alando bisa berbuat se-Tega itu pada Inka dan keluarganya. Bukan hanya pada mereka, tapi Jerry Alando bahkan merampas semua milik keluarganya dengan cara mencurinya, berbuat curang dengan begitu licik. Jerry Alando bahkan menipu kedua orang tuanya sendiri.


Tak lama setelah mereka terdiam dan menunggu, seorang dokter keluar dari ruang UGD dan terlihat terburu-buru. Beberapa perawat sejak tadi juga sudah keluar masuk ruang UGD tersebut.


Damar dan Widya langsung menghampiri dokter itu juga.


"Permisi pak, Bu. Pasien sudah mengandung dan sekarang mengalami pendarahan!"

__ADS_1


Mendengar Inka sedang mengandung, damar dan Widya saling pandang. Perasaan mereka begitu campur aduk saat ini. Di saat duka begini mereka mendengarkan kalau Putri mereka satu-satunya mengandung. Artinya itu adalah cucu mereka juga.


"Kami sangat membutuhkan donor darah, persediaan kantong darah di rumah sakit ini dan di bank darah sedang kosong. Kami membutuhkan golongan darah B dengan cepat. Bapak dan ibu, kedua orang tua pasien bukan? silahkan ikut perawat kami untuk donor darah!" kata dokter itu dengan cepat.


Tapi Damar dan Widya langsung saling pandang dan bertanya.


"Dok, anak kami golongan darahnya tidak mungkin B, kami berdua punya golongan darah A. Tidak mungkin anak kami golongan darahnya B?" tanya Damar yang takut dokter itu salah periksa.


"Tapi kami sudah memeriksa ini pak! golongan darah pasien benar-benar B. Tolong cepat pak!" kata dokter itu.


"Tunggu.. tunggu dokter. Apa mungkin kalau kedua orang tuanya punya golongan darah A, anaknya bisa punya golongan darah lain?" tanya Damar bingung.


Tapi dokter itu mengangguk. Membuat was-was di hati Damar hilang sejenak.


"Bisa pak, tapi kalau kedua orang tuanya memiliki golongan darah A, kemungkinan anaknya hanya bisa mempunyai golongan darah A, atau O. Tidak yang lain!" kata dokter itu menjelaskan.


Damar bertambah bingung, lalu bagaimana mungkin golongan darah Inka B.


"Dok, tolong periksa sekali lagi. Golongan darah kami berdua benar-benar A. Bagaimana mungkin putri kami satu-satunya punya golongan darah B?" tanya Damar lagi yang kepalanya bertambah pusing.


Anika yang mendengar semua itu lantas mendekati Damar dan Widya.


"Apa mungkin Inka bukan anak kandung mas Damar dan mbak Widya?" tanya Anika membuat Damar dan Widya terkejut bukan main.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2