Tega

Tega
Bab 277


__ADS_3

Richard yang tadinya begitu respect pada Arista karena mengira wanita di hadapannya itu berbeda dengan kedua saudaranya yaitu Renata dan Arumi mengangkat kedua alisnya tak percaya.


"Hem.. Trio kwek-kwek. Sama aja, sukanya ngejek orang!" kata Richard dengan ciri khas gayanya.


Arista terkekeh melihat Richard sewot di depannya.


"Aduh, maaf maaf kak Richard. Tapi kamu memang seharusnya begitu, jangan sok galak. Itu bukan dirimu!" kata Arista.


Richard kembali mengangkat kedua alisnya. Dia tidak mengerti perempuan di hadapannya ini, bercandanya seperti sungguhan.


"Raja, ayo minta maaf pada paman Richard!" kata Arista yang bicara dengan lembut kepada putranya.


"Maaf paman!" kata Raja.


Tapi saat mereka bertiga sedang menunggu Ratu yang baru berjalan menghampiri mereka. Tiba-tiba dari seberang jalan salah seorang teman dari Raja memanggilnya.


"Raja!"


Panggil anak kecil yang usianya sepertinya sama dengan Raja, sepantaran.


Raja yang mendengar temannya memanggilnya sambil melambaikan tangan ke arahnya pun membalas lambaian tangan temannya itu.


"Hai Usman!" teriak Raja.


"Raja sini, ada seekor kucing lucu sekali di sini!" kata Usman.


Dan Raja yang mendengar hal itu menjadi penasaran dan ingin menghampiri temannya yang berada di seberang jalan tersebut. Kala itu, Arista sedang membantu Ratu yang seragamnya terkena tetesan dari lelehan es potong yang dia makan.


Dari arah menuju ke tempat Raja sedang ingin menyebrang. Ada sebuah mobil yang terlihat melaju dengan kecepatan tinggi.


Sontak saja Richard yang melihat mobil tersebut bergerak sangat cepat menuju ke arah Raja. Langsung berlari hendak menarik Raja agar jangan menyebrang dulu.


"Raja, awassss!"


Begitu Richard berlari menarik Raja, Arista langsung menoleh dengan cepat padahal dia belum selesai membersihkan noda es potong yang ada di pakaian seragam Ratu.


Pandangannya tertuju pada Raja yang ingin menyebrang, sedangkan di depannya ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Rajaaa!" pekik Arista.

__ADS_1


Brukkk


Braakkkk


Mata semua orang tertuju pada suara keras yang di akibatkan karena mobil itu menabrak seseorang.


Arista minta agar Ratu diam di tempatnya dan Arista segera berlari ke arah kerumunan orang.


"Raja, ya Tuhan...!"


Arista sudah panik. Tapi begitu dia menyibak kerumunan orang-orang itu. Mata Arista terbelalak.


"Mommy!" lirih Raja yang terduduk di pinggir jalan di bantu berdiri oleh beberapa orang yang ada di sana.


"Kak Richard! kak...!"


Arista lantas menghampiri Richard yang tergeletak di jalanan aspal. Arista tak melihat seperti apa persisnya kejadian itu karena begitu cepat. Dan orang-orang di dekat Richard dan Raja menghalangi pandangannya.


"Tolong panggil ambulans, tolong!" pekik Arista panik.


Dia mengangkat kepala Richard dan dan tangannya terasa basah dan lengket. Arista terisak begitu melihat cairan merah di tangannya yang berasal dari kepala Richard.


"Renata, aku titip Raja dan Ratu!" kata Arista yang ikut dengan ambulance ke rumah sakit.


Setelah Arista dan mobil ambulans yang membawa Richard pergi. Renata memeluk Raja yang sejak tadi tak berhenti menangis.


"Sudah sayang, jangan menangis. Raja tidak terluka kan?" tanya Renata.


Raja menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak aunty, tapi paman Richard berdarah. Paman menolong Raja, kalau paman tidak menarik Raja dan mendorong Raja ke tepi, Pasti Raja yang tertabrak mobil itu huuwu.. huuwu... Kasihan paman Richard, aunty!" kata Raja sambil menangis sesenggukan.


Renata lantas memeluk Raja dengan erat. Para petugas juga sudah datang mengamankan pengendara mobil ugal-ugalan tersebut. Dan ternyata pengendara mobil itu sedang mabuk, dia baru pulang dari sebuah klub malam. Renata juga sudah minta suaminya, Hamdan mengurus tuntutan untuk pengemudi ugal-ugalan tersebut.


Di rumah sakit Arista tak bisa berpikir dengan jernih. Dia terus melihat ke arah tangannya yang merah.


Tristan yang mendapat kabar itu dari Rendra yang di beri kabar oleh Hamdan lantas langsung pergi ke rumah sakit dengan terburu-buru.


Sarah juga ikut, awalnya Tristan melarang Sarah karena sedang hamil tua, tapi karena Sarah juga sangat mengkhawatirkan kondisi Richard. Sarah akhirnya ikut ke rumah sakit.

__ADS_1


Tristan bahkan berlari dengan cepat ke ruang UGD. Sementara Sarah, Arumi dan Rendra berjalan pelan. Rendra ikut berjalan pelan untuk menjaga dua wanita yang sedang hamil di sampingnya itu.


Begitu melihat Arista, Tristan langsung berlari menghampirinya.


"Richard mana? bagaimana keadaannya? dimana dia?" tanya Tristan panik luar biasa.


Bagi Tristan, Richard bukan hanya asisten pribadi saja. Richard sudah seperti saudara bagi Tristan, mungkin lebih dari itu. Bahkan apa yang dia tidak bisa ceritakan kepada ayah dan kakak kandungnya. Tristan bisa kan pakai cerita itu bersama dengan Richard. Tristan tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada orang kepercayaannya itu.


"Kak Richard di dalam, dokter sedang menanganinya!" jawab Arista agak terbata-bata. Dia masih menangis dan ketakutan.


Tristan lantas melihat ke pintu ruang UGD. Tapi dia tidak bisa melihat apapun.


'Richard, kamu harus selamat. Awas saja jika kamu berani pergi.. aku tidak akan memaafkan mu. Kamu harus selamat!' lirih Tristan di dalam hatinya.


"Kak Arista!" panggil Arumi yang sudah sampai di depan ruang UGD.


"Arumi!" lirih Arista yang langsung memeluk Arumi. Tapi dia tidak membiarkan kedua telapak tangannya yang masih bernoda merah menyentuh Arumi.


Sementara Sarah langsung mengusap lengan Tristan dengan lembut. Sarah tahu, kalau suaminya itu pasti sangat sedih. Sarah tahu benar apa artinya Richard bagi Tristan.


"Sabar mas, kita doakan agar Richard bisa selamat ya mas!" ucap Sarah lembut.


Tristan lantas memeluk istrinya itu seraya menangis. Tristan benar-benar sangat sedih.


"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Rendra yang ada di sebelah Arumi.


"Raja... dia mau menyebrang. Mobil itu datang dengan cepat. Aku sedang bersama Ratu, dan tiba-tiba saja semua terdengar suara keras. Semua orang berkumpul, Raja memanggilku. Dan kak Richard dia sudah tergeletak di jalan.. hiks..!"


Arista kembali memeluk Arumi sambil menangis. Arumi terus mendekap kakaknya itu dengan erat. Dia dapat merasakan ketakutan yang luar biasa dari Arista karena dia merasa tangan Arista gemetaran.


"Sabar kak, kita ke toilet dulu yuk. Aku bantu kakak membersihkan tangan kakak ini dulu!" kata Arumi.


Arista pun mengangguk perlahan, dia terus di rangkul Arumi menuju ke toilet untuk membersihkan tangannya dan pakaiannya.


Rendra juga memeluk bahu Tristan pelan.


"Hamdan bilang supir mobil itu mabuk, tapi Hamdan sudah mengurusnya. Aku akan pastikan orang yang sudah ceroboh dan menabrak Richard itu, mendekam dalam waktu sangat lama di tahanan!" kata Rendra.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2