Tega

Tega
Bab 47


__ADS_3

Setelah dari pemakaman, tuan Arya Hutama kembali meminta agar Tristan mengantarkan Sarah untuk kembali ke panti asuhan. Dan saat itu Tristan hanya diam sepenjang perjalanan. Sarah juga tak berniat membangunkan macan yang tidur. Jadi dia memilih untuk ikut diam saja.


Bahkan saat Tristan menghentikan mobilnya di depan gerbang panti asuhan bunda Tiara. Sarah juga langsung keluar begitu saja dari mobil Tristan. Dan pria yang mungkin di kehidupan sebelumnya adalah batu itu juga hanya diam, begitu Sarah membuka gerbang. Dia bahkan langsung melaju meninggalkan panti asuhan tanpa ba bi bu be bo.


Sarah pun kembali ke pari asuhan, karena tuan Arya Hutama memberinya cuti hari ini. Sarah terlihat lelah, bukan tubuhnya lelah. Tapi hatinya. Sarah merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah dia masuk ke dalam kamarnya. Bunda Tiara dan beberapa adik-adik panti sedang ke rumah yang akan di sewa tuan Arya Hutama saat pembangunan panti ini di mulai. Mungkin bunda Tiara dan adik-adik sedang menghitung jumlah kamar yang ada di sana.


Sarah pun hanya melihat ke langit-langit kamarnya. Sebagai seorang perempuan biasa, meskipun dia memang tak memiliki perasaan sama sekali pada Tristan. Namun mengingat pembicaraan Tristan dan Shanum di telepon tadi membuat Sarah jadi berpikir. Seperti perjanjian dirinya dengan Tristan, kalau bahkan setelah menikah pun, Tristan bisa bebas berhubungan dengan kekasihnya itu. Mungkin saja Sarah saat ini tidak tersinggung atau merasa marah sedikitpun, tapi bagaimana dengan nanti. Kalau dia sudah menjadi istri Tristan.


Sarah pun bangkit dan memeluk bantalnya sambil duduk bersandar di sandaran sofa.


"Dari caranya bicara pada perempuan itu, sepertinya dia menurut sekali pada kekasihnya itu. Haisss... apakah akan terjadi drama istri yang kalah sama kekasih gelap nanti?" gumam Sarah yang mulai cemas kalau kisah rumah tangganya akan sama seperti di novel yang suka Arumi baca kalau sedang gabut.


Sedang Sarah memikirkan bagaimana nasibnya ke depannya. Ponselnya kembali berdering. Saat mengetahui panggilan itu dari Arumi, Sarah langsung menerimanya.


"Sarahhhhh!"


Sarah langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika Arumi memanggilnya dengan lantang. Suara Arumi benar-benar memekakkan telinga Sarah.


"Arumi, astaga. Untung aku tidak hidupkan speaker!" kata Sarah sembari mengelus dadanya.


"Heh, kenapa tidak di hidupkan. Suara ku ini kan gak kalah sama itu yang nyanyi... walaupun dirimu tak bersayap.....!"


Dan Sarah kembali menjauhkan ponselnya dari telinganya karena Arumi menyanyi.


"Titi DJ?" tanya Sarah.


"Plis deh mbak Sarah, itu jamannya mama aku. Yang versi Lyodra lah Sarah!" seru Arumi.


Sarah pun terkekeh. Benar juga apa yang dikatakan oleh Arumi. Kenapa yang dia ingat malah Tante Titi DJ.


"Jangan tertawa, kenapa kamu tidak masuk hari ini. Hariku benar-benar sepi tanpamu. Gak ada temen ghibah aku!" keluh Arumi pada Sarah.

__ADS_1


Dan apa yang dikatakan oleh Arumi itu membuat Sarah kembali terkekeh.


"Oh, jadi selama ini. Aku hanya di jadikan teman ghibah saja. Kejamnya dirimu Ferguson!" balas Sarah ikut-ikutan oleng seperti Arumi.


"Kenapa kau malah berkata begitu Maria, kau jelas-jelas sudah merusak tidur nyenyak ku... eh ngomong apa sih kita?"


"Lah!"


"Memangnya kamu kemana sih? ada masalah di panti?" tanya Arumi yang khawatir rekan kerja sekaligus sahabatnya itu tidak masuk kerja karena dia mengalami masalah.


"Tidak, bukan itu. Tadi pagi kak Rendra...!"


"Wah sudah ada kemajuan, kamu panggil tuan tampan itu dengan sebutan kak. Lalu bagaimana dengan kulkas dua pintu itu? kamu panggil dia mas, atau Abang, atau bahkan sayang ha ha ha?"


Arumi terlihat senang sekali saat mengajukan pertanyaan yang sepertinya dia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Tidak lucu!" balas Sarah dingin.


"Tidak akan pernah. Aku dan dia hari ini ke butik untuk memilih design baju pengantin. Lalu... tuan Arya Hutama meminta kami ke pemakaman mendiang nyonya Arya Hutama. Setelah itu tuan Arya Hutama bilang padaku untuk kembali ke panti saja. Tidak usah ke kantor lagi!" jelas Sarah panjang lebar.


"Senangnya, sepertinya calon ayah mertuamu itu sangat menyayangimu ya Sarah. Aku akan mendoakan agar nanti rumah tanggamu adem ayem, damai tentram, sentausa dan sejahtera...!"


"Amin!"


"Wah kamu mengamini dengan cepat Sarah, apa jangan-jangan kamu memang sudah jatuh hati pada kulkas dua pintu itu, ha ha?"


"Arumi!!!!"


Dan beberapa hari setelah itu, ketika Sarah masih bekerja di kantor. Tiba-tiba Richard kembali menemuinya. Arumi yang kalau di kantor memilih tidak mau cari ribut dengan pria itu pun memilih untuk keluar dari ruangan divisi keuangan.


"Ada apa tuan Richard?" tanya Sarah sopan.

__ADS_1


"Nona Sarah, panggil Richard saja ya. Kan sebentar lagi nona Sarah akan jadi nona bos ku juga!" sahut Richard dengan gaya khasnya.


"Baiklah!" jawab Sarah yang berusaha bersikap santai pada Richard.


"Begini nona, kemarin kan tuan Arya Hutama bicara dengan bos....!" Richard agak menjeda apa yang mau dia katakan.


Hal itu membuat Sarah berpikir kalau pastinya bukan kabar baik yang akan di sampaikan Richard pada dirinya.


"Lalu? katakan saja Richard!" seru Sarah yang memang sudah biasa mendengar hal-hal menakjubkan yang tak masuk nalar manusia normal yang di lakukan oleh Tristan dan diminta oleh Tristan pada Sarah.


"Bos tetap kekeh ingin kalian tinggal di apartemen ketika sudah menikah nanti. Jadi bos minta pada nona Sarah untuk mengatakan pada tuan Arya Hutama kalau nona juga ingin tinggal di apartemen nanti. Jadi tuan Arya Hutama tidak akan memaksa bos pindah ke kediaman Hutama. Begitu nona!" jelas Richard panjang lebar.


Sarah tak habis pikir pada Tristan. Memang apa masalahnya jika tinggal di rumah ayahnya. Bukankah seharusnya sebagai anak laki-laki harus menjaga ayahnya di hari tua.


"Tapi Richard, kenapa bos mu harus mempermasalahkan hal itu. Bukankah lebih baik tinggal di rumah ayahnya. Menjaga ayahnya, bisa makan bersama ayahnya, mengobrol dan menghabiskan waktu dengan ayah!" bantah Sarah yang sebenarnya tidak senang dengan keinginan Tristan itu.


"Nona tidak lupa kan, kalau... !"


Richard langsung mendekat ke arah Sarah dan membisikkan sesuatu padanya.


"Kalau pernikahan kalian itu hanya pernikahan formalitas saja. Semacam simbiosis mutualisme begitu, jadi bos tidak mau kalau sampai tuan Arya Hutama mengetahui hal itu. Aku minta maaf nona, tapi aku hanya menyampaikan pesan bos saja!" ucap Richard yang sebenarnya tak enak hati mengatakan hal itu.


Sarah langsung menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan katakan seperti yang dia mau!" sahut Sarah yang sebenarnya tidak senang dengan hal itu.


"Terimakasih nona, sekarang bisa kan? bos sedang teleponan dengan tuan di ruangannya!" kata Richard yang membuat Sarah terkejut.


"Sekarangggg?" tanya Sarah tak habis pikir.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2