Tega

Tega
Bab 102


__ADS_3

Rendra berlari ke sebuah ruangan setelah dia mendapatkan telepon dari Richard. Ruangan itu adalah ruangan sekertaris di perusahaan yang di pimpin oleh Tristan.


Ceklek


Rendra langsung membuka pintu ruangan itu, dan berjalan pelan ke arah seorang wanita yang tengah duduk diam sambil menundukkan kepalanya melihat nanar ke arah lantai marmer yang berwarna hitam.


"Sarah!"


Nama itu terucap dari bibir Rendra, memanggil wanita yang memang sedang duduk termenung, bahkan setelah Rendra membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Sarah bahkan belum menyadarinya.


Setelah mendengar namanya di panggil, Sarah baru mendongak. Dengan mata yang berkaca-kaca, Sarah melihat ke arah Rendra.


"Kak...!"


Suara yang terdengar begitu sedih. Rendra tahu seperti apa perasaan Sarah saat ini. Rendra benar-benar merasa bersalah pada Sarah. Awalnya Sarah mengatakan kalau dia memang tidak banyak berharap pada Tristan. Namun Rendra terus memotivasi Sarah, terus menyemangati Sarah untuk terus berjuang menjadi wanita satu-satunya di hati Tristan.


Namun kenyataannya sekarang, adiknya itu malah pergi meninggalkan Sarah. Sampai menyebrangi pulau, menyeberang samudra, bahkan Tristan menyebrang benua demi untuk bertemu dengan Shanum.


Rendra bisa merasakan apa yang Sarah rasakan saat ini. Karena dirinya juga pernah di tinggalkan orang yang paling dia cintai, hanya karena orang yang dia cintai itu lebih memilih dan mencintai orang lain. Itu sama persis dengan yang di rasakan Sarah sekarang. Tristan meninggalkannya bahkan tanpa pamit hanya untuk bertemu dengan Shanum.


Rendra duduk di samping Sarah. Dia menghela nafasnya berat sebelum bicara pada Sarah.


"Maafkan aku...!"


"Tidak kak, kak Rendra tak perlu minta maaf. Aku sudah bilang kan, semakin kuat kita menggenggam pasir di telapak tangan. Maka semakin pasir itu akan memberontak keluar!"


"Tapi karena aku memintamu berusaha dan bersabar terdapat Tristan kamu jadi sedih seperti ini. Seharusnya aku biarkan saja adik tidak tahu...!"


"Kak!"


"Tidak apa-apa. Aku bukan sedih karena Tristan meninggalkan aku, tapi aku takut ayah terluka karena ini!" ucap Sarah yang tidak terlalu memikirkan perasaannya. Tapi malah khawatir pada tuan Arya Hutama.


Rendra juga menghela nafasnya. Masalahnya hal itu juga lah yang sedang dia pikirkan saat ini selain kesedihan Sarah.

__ADS_1


'Tristan, apa yang kamu lakukan. Kalau terjadi sesuatu pada ayah, aku yang akan menjemput dan menyeret mu. Dasar, kerasa kepala!' keluh Rendra dalam hatinya.


Dan baru beberapa saat ketika Rendra masih mengeluh, Andin sekertaris Rendra masuk ke dalam ruangan itu setelah mengetuk beberapa kali.


"Maaf tuan, nona Sarah. Pak Samsudin baru saja menghubungi saya. Tuan besar, masuk rumah sakit!" kata Andin dengan cepat dan ekspresi wajahnya cemas.


Rendra dan Sarah langsung berdiri bersamaan ketika mendengar apa yang Andin laporkan barusan.


"Ayo kak, kita ke rumah sakit!" ajak Sarah yang sudah sangat terlihat cemas.


Sarah memang sudah menduga hal ini, pasalnya pak Samsudin dan bunda Tiara memang pernah mengatakan tentang kondisi kesehatan tuan Arya Hutama yang semakin melemah. Maka dari itu Sarah menyetujui permintaan tuan Arya Hutama kala itu untuk menikah dengan Tristan tanpa ada embel-embel syarat lain atau apalah.


Sementara Rendra yang mendengar ayahnya masuk ke rumah sakit. Di dalam hatinya saat ini benar-benar sangat kesal pada apa yang dilakukan adiknya.


Kedua berjalan dengan cepat ke arah lift untuk menuju ke basemen dengan pikiran yang tidak karuan.


'Tristan, jika terjadi sesuatu pada ayah Arya. Kamu adalah orang yang paling akan menyesal!' batin Sarah sedih dan sangat kecewa pada Tristan.


Kalau dia saja yang hanya orang lain, mau melakukan apapun bahkan menahan perasaannya sendiri demi tuan Arya Hutama yang sangat dia hormati. Sarah tak habis pikir, bagaimana Tristan bisa lebih mementingkan perasaannya daripada perasaan ayahnya.


'Keterlaluan kamu Tristan, jika terjadi sesuatu pada ayah. Aku benar-benar tidak akan memaafkan mu. Meski kamu adik kandungku. Dasar keras kepala, ck... apa yang sudah kamu lakukan?' batin Rendra begitu kecewa pada apa yang telah Tristan lakukan.


Begitu pintu lift terbuka, dan supir Rendra sudah berada di depan pintu yang sudah dia buka untuk Rendra. Rendra mempersilahkan Sarah duluan yang masuk ke dalam mobil.


"Sarah, kamu duluan?"


Sarah mengangguk dan cepat masuk ke dalam mobil. Setelah Sarah masuk, Rendra pun ikut masuk.


"Cepat ya pak Ali!" seru Rendra yang begitu khawatir pada keadaan ayahnya tuan Arya Hutama.


Sepanjang perjalanan yang Sarah dan Rendra lakukan hanya berdoa. Mereka saling diam, tapi mereka sama-sama tahu apa yang satu sama lain lakukan adalah berdoa untuk tuan Arya Hutama.


Beberapa waktu berlalu, tidak sampai setengah jam. Dengan kecepatan di atas 80km/jam. Akhirnya pak Ali, supir pribadi Rendra bisa menghentikan mobilnya tepat di depan lobby rumah sakit dimana tuan Arya Hutama di rawat.

__ADS_1


Rendra dengan cepat membuka pintu mobil, dia keluar dan menunggu Sarah. Begitu Sarah menghampirinya, Rendra dan Sarah pun bersama-sama masuk ke dalam rumah sakit.


Rendra mengajak Sarah masuk ke dalam lift dan menghubungi Samsudin. Samsudin bilang tuan besar sudah keluar dari ruang UGD dan sedang ada di kamar rawat VVIP di lantai 4.


Rendra dan Sarah pun segera menuju ke sana. Begitu pintu lift terbuka, Sarah terus mengikuti Rendra yang berjalan sangat cepat. Hingga mereka tiba di sebuah ruangan. Rendra langsung membuka ruangan itu tanpa mengetuknya.


Dari pintu, Sarah bisa melihat pak Samsudin berdiri di samping tuan Arya Hutama yang belum sadarkan diri.


Rendra yang sudah menghampiri sang ayah dan memegang tangan tuan Arya Hutama terlihat sangat sedih, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Bagaimana ayah pak Sam?" tanya Rendra.


Sarah langsung berdiri di sisi lain tuan Arya Hutama. Sarah juga memegang pelan lengan ayah mertuanya itu. Menunjukkan keberadaannya di sisi sang ayah mertua.


"Ayah!" lirih Sarah terdengar begitu sedih melihat sang ayah mertua dalam kondisi yang seperti itu.


"Tuan terkejut begitu ada laporan dari pihak penerbangan kalau tuan Tristan pergi ke Paris. Apalagi pihak penerbangan mengatakan, tuan Tristan berangkat jam dua malam tadi. Tuan langsung memegang dadanya dan tiba-tiba pingsan! saya langsung membawa tuan ke rumah sakit, kata dokter yang menangani tuan. Tuan terkena serangan jantung ringan. Untung saja ini hanya serangna jantung ringan, jika tidak...!"


"Apa kata dokter, jika tidak pak Sam?" tanah rendra yang matanya sudah merah dan berkaca-kaca.


"Jika tidak, maka tuan..!" pak Sam tak sanggup melanjutkan perkataannya. Pria yang usianya hampir sama dengan tuan Arya Hutama itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan mata yang sudah berkaca-kaca juga.


Sarah langsung menggenggam erat lengan ayah mertuanya. Sarah duduk di kursi yang ada di belakangnya.


Sementara Rendra terlihat sangat kesal, rahangnya mengeras. Sarah tahu Rendra sedang marah pada siapa, begitu pula pak Samsudin.


"Ayah, kami di sini. Ayah harus cepat bangun, saat Kevin pulang sekolah nanti. Dia pasti mencari ayah!" kata Sarah sambil berderaian air mata. Namun Sarah tetap mencoba untuk bicara dengan nada yang tidak terdengar sedih.


Samsudin sampai berbalik badan, karena dia tidak mau Rendra atau Sarah tahu kalau dirinya juga sudah menangis. Bagaimana pun, tuan Arya Hutama bukan hanya bos untuk Samsudin. Beliau juga sudah seperti kakak sendiri, dimana Samsudin selalu mendapatkan tempat untuk berlindung dan bernaung.


Sedangkan Rendra, dia yang pernah mengecewakan ayahnya satu kali. Merasa begitu kecewa pada Tristan.


'Tristan... awas kalau kamu sampai kembali dengan wanita itu. Aku adalah orang pertama yang akan memberimu pelajaran!' kesal Rendra.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2