Tega

Tega
Bab 170


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, hubungan Tristan dan Sarah mulai membaik. Kejutan-kejutan kecil sering Tristan berikan kepada Sarah. Hingga Sarah pun berpikir untuk membuka hatinya untuk Tristan. Sikap Tristan semakin lama juga semakin baik.


Yang dulunya Tristan sangat angkuh dan arogan, kini berubah menjadi Tristan yang ramah dan murah senyum. Tristan berpikir, kalau di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.


Buktinya dalam sekejap dia bahkan pernah di coret dari nama keluarga Hutama. Jadi dia pikir, apa yang perlu dia banggakan dari sikap arogannya itu. Yang ada hanya penyesalan, maka mulai sekarang Tristan benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik.


Tristan banyak belajar dari Sarah, betapa dia menyakiti Sarah, Sarah masih tetap memberinya kesempatan. Sifat sabar dan pengertian Sarah itu yang membuatnya sadar. Kalau manusia baik maka dia akan mendapatkan yang terbaik. Jadi mulai sekarang Tristan ingin menjadi orang yang baik, tidak lagi angkuh dan arogan.


Pagi ini Sarah dan Tristan berangkat ke kantor bersama. Dan yang mengejutkan semua karyawan adalah, ketika mereka menyapa Tristan, dan Tristan membalas sapaan mereka. Tristan bahkan tersenyum pada mereka.


Begitu Sarah dan Tristan masuk ke dalam lift. Dua karyawati yang ada di dekat lift yang tadi mendapat balasan sapaan dari Tristan, salah satu dari mereka memegang kening dan terhuyung ke belakang.


Untung saja yang satu lagi berhasil menangkapnya.


"Eh, Mila kamu kenapa?" tanya Ici.


"Ya ampun ya ampun, aku mau pingsan Ci, itu tadi beneran tuan Tristan kan? aku gak lagi mimpi kan?" tanya Mila pada Ici.


Ici pun mengernyitkan keningnya bingung.


"Ih, ya iyalah ini bukan mimpi. Kalau mimpi aku juga malas ada di mimpi kamu!" kata Ici yang langsung membuat Mila berdiri dengan benar lalu berbalik menatap Ici dengan pandangan mata yang tak suka.


"Plis deh Ici, tolong di bantu ya. Aku tuh lagi terpesona, tercengang plus tershock-shock banget sama perubahan besar seorang tuan Tristan Hutama. Kamu gak ngerti banget sih? banyakin baca novel online deh biar hidup kamu dramatis!" kata Mila pada Ici dengan ekspresi seperti Fitri Tropika sedang menjelaskan sesuatu pada seseorang.


Ici yang melihat Mila seperti itu lantas bergidik ngeri.


"Hih, kamu tadi berangkat kerja lewat mana sih Mil? jangan-jangan kamu kesambet setan pohon beringin dekat kantor ya? hih...!" kata Ici yang langsung pergi meninggalkan Mila.


Mila sampai mendengus kesal, tapi begitu melihat ke arah pintu lift. Mila kembali salah tingkah.


'Ya ampun tuan Tristan, coba dari dulu kamu baik dan ramah begitu pak. Aku pasti sekarang bukan anggota sekte Yonggi marry me, tapi Tristan marry me!' batin Mila dengan khayalan tingkat tinggi nya.

__ADS_1


Meninggalkan Mila yang luar biasa excited pada perubahan sikap Tristan terhadap para karyawan di perusahaannya. Saat ini Sarah sudah sampai di ruangan divisi keuangan. Sarah melihat Arumi sedang melakukan sesuatu pada ponselnya.


"Pagi Arumi, ponsel kamu kenapa? gak mungkin rusak dong?" tanya Sarah karena tahu kalau ponsel Arumi itu bahkan di lindas ban mobil SUV pun tidak akan tergores. Tercebur ke laut pun tidak akan rusak.


"Pagi Sarah, em... ini aku lagi cek, apa di ponselku ada GPS lain selain milikku!" jawab Arumi sambil serius memeriksa ponselnya.


"Maksudnya?" tanya Sarah.


"Tadi pagi tuh aku ngerasa kayak ada yang ngikutin aku dari rumah. Takutnya tuan besar yang perutnya besar itu nyuruh seseorang masang GPS di ponsel aku!" jelas Arumi.


Sarah pun mengangguk paham, dia paham siapa yang di sebut Arumi dengan sebutan tuan besar yang perutnya besar. Itu adalah tuan Chandra Wijaya.


Tapi kemudian Sarah berpikir, mungkin saja papinya Arumi melakukan itu untuk menjaga Arumi.


"Tapi Arumi, bisa saja kan papi kamu melakukan semua itu untuk menjaga kamu?" tanya Sarah.


"Mungkin saja, tapi di awasi selama dua puluh empat jam itu sama sekali tidak enak Sarah. Tidak seru!" balas Arumi lagi.


Sarah pun mengangguk setuju dengan pernyataan Arumi barusan. Menang tidak akan menyenangkan di awasi. Mau bergerak, mau apapun pasti tidak leluasa.


Sarah yang memang duduk menghadap ke arah Arumi langsung berdiri dan berkata.


"Arumi, kamu kenal mereka tidak?" tanya Sarah.


Mendengar Sarah bicara seperti itu dan ketika Arumi melihat ke arah Sarah, ekspresi wajah Sarah sangat terkejut. Arumi pun menoleh ke arah mata Sarah memandang.


Setelah melihat siapa yang ada di dekatnya, Arumi berdecak kesal.


"Nona Arumi, tuan ingin anda pulang!" kata salah satu dari dua orang berseragam itu.


Arumi lantas mengambil sikap acuh, dia kembali fokus pada ponselnya dan tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh salah satu dari anak buah papinya itu.

__ADS_1


"Nona Arumi, kalau anda tidak pulang. Anak cabang perusahaan Arya Wiguna yang di kelola oleh tuan Rendra, semua sahamnya akan di beli oleh tuan!"


Mendengar apa yang dikatakan anak buah ayahnya itu. Arumi lantas mendengus kesal. Sementara Sarah terlihat sangat cemas, sepertinya ini masalah serius.


Arumi lantas bangun dari duduknya dan berkata pada Sarah.


"Sarah aku pergi dulu ya!"


"Arumi ada apa ini? apa semua akan baik-baik saja? kenapa papi kamu sampai memberi ancaman begitu?" tanya Sarah yang mengkhawatirkan Arumi.


Tapi Arumi malah tersenyum dan menepuk pelan bahu Sarah.


"Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja, Aku akan kembali lagi!" kata Arumi yang memang lebih tua satu tahun dari Sarah.


Setelah mengatakan hal itu pada Sarah, Arumi langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan langsung di ikuti oleh dua orang anak buah papinya Arumi. Sarah yang melihat Arumi dari jauh merasa cemas. Dia terus berdoa agar tidak ada yang serius. Dan Arumi tidak apa-apa.


Di basemen kantor Tristan, Arumi ingin menuju ke mobilnya sendiri. Namun dua orang anak buah papinya melarang Arumi.


"Maaf nona, silahkan ikut mobil kami saja!" kata salah satunya menunjuk mobil Jeep Rubicon yang berada tak jauh dari mereka.


Melihat mobil itu, Arumi memutar matanya malas.


"Hadeh, sejak kapan itu jadi mobil kalian?" tanya Arumi galak.


Keduanya hanya menunduk. Tapi Arumi masih bersikeras ingin pakai mobilnya. Tapi ketika Arumi akan membuka pintu mobilnya, salah satu dari anak buah Chandra Wijaya berkata.


"Maaf nona, tapi kalau nona bersikeras pakai mobil nona. Tuan besar berkata, anak dari tuan Rendra itu namanya Kevin kan?" tanya salah satu dari anak buah Chandra Wijaya lagi.


Mata Arumi membelalak mendengar hal itu. Arumi merasa ini memang sangat serius, sampai ayahnya menyelidiki semuanya tentang dirinya dan Rendra. Sepertinya papinya sudah tahu hubungannya dengan Rendra. Tapi Arumi bingung, kenapa papinya terkesan menggertak begini. Sebelumnya tidak pernah. Ada apa ini sebenarnya?


"Oke oke, tapi aku yang menyetir ya!" kata Arumi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2