
Shanum masih terus berusaha mencari dimana Tristan menginap. Semalam dia tidak bisa menyusul Tristan karena memang syutingnya belum selesai. Leni yang terlanjur kecewa pada keputusan Shanum hanya bisa terus mengikuti langkah kakak sepupunya itu menuju.
Shanum mencari ke beberapa hotel yang letaknya tak jauh dari studio tempatnya menghadiri reality show semalam.
Sebenarnya setelah kembali ke apartemennya, Shanum benar-benar telah menyesal karena tak menjelaskan pada Tristan sebelumnya tentang alasannya mengaku single. Shanum merasa kalau sebelum Tristan mendengar sendiri dari acara-acara itu tentang pernyataannya ke media. Shanum masih merasa kalau Tristan pasti akan mengerti. Karena selama ini asal Shanum menjelaskan alasan yang masuk akal, Tristan akan percaya padanya.
Shanum sendiri juga tidak tahu, kenapa dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Sekarang Tristan sudah memutuskan hubungan dengannya. Dan Shanum menyesali hal itu. Dia masih ingin berusaha sekali lagi menjelaskan pada Tristan. Meski Leni sudah berungkali mengatakan kalaupun Shanum ingin menjelaskan sekarang, semuanya sudah terlambat.
Di salah satu dinding lobby hotel, Shanum terlihat putus asa. Karena ini adalah hotel ke lima belas yang Shanum datangi untuk mencari keberadaan Tristan. Shanum menyandarkan punggungnya yang sudah lelah terus berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Tristan.
Leni yang melihat kakak sepupunya seperti itu sebenarnya kasihan, tapi Leni juga tak bisa berbuat banyak. Semalam saat dirinya ingin mengejar Tristan malah Shanum yang menghentikannya karena syuting belum selesai.
"Kak sudahlah, siapa tahu kak Tristan sudah kembali ke Indonesia!" kata Leni yang tak ingin Shanum terus melanjutkan pencariannya terhadap Tristan.
Karena sejak pagi tadi Shanum bahkan belum makan sama sekali.
"Aku hanya ingin berhasil mengejar impian ku Leni. Apa itu salah?" tanya Shanum yang sepertinya belum menyadari kesalahannya.
Leni sudah tahu kalau seperti apapun dia menjelaskan pada Shanum. Shanum tetap akan merasa apa yang dia lakukan itu benar.
"Kak, hidup ini pilihan. Dan kakak sudah memilih karir kakak di bandingkan cinta tulus kak Tristan." ucap Leni yang sebenarnya menyindir Shanum secara halus.
"Tidak bisakah aku dapatkan keduanya, aku benar-benar hanya perlu waktu sedikit lagi!" kata Shanum yang masih tidak menyadari kesalahannya.
Leni hanya bisa menghela nafas panjang. Jika mata seseorang memang sudah tertutup oleh sebuah obsesi. Maka akan sulit membuka mata orang tersebut untuk melihat hal lain.
Dan ketika mereka sedang saling terdiam, tiba-tiba seorang pria terlihat menghampiri Shanum dan Leni.
"Hei, nona Shanum!" sapa pria itu dengan cukup ramah.
__ADS_1
Shanum yang namanya di panggil lantas menoleh ke arah pria tersebut. Melihat siapa yang memanggilnya, Shanum hanya menoleh sekilas lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Tuan Derryl, selamat malam!" sapa Leni dengan sopan.
Bagaimanapun Leni berpikir kalau pria yang ada di samping Shanum yang tadi menyapa mereka itu adalah salah satu orang penting di kota ini. Dan Leni berpikir kalau salah satu orang penting, maka dia harus menghormatinya. Bagaimana pun dirinya dan Shanum hanya pendatang di kota ini yang coba untuk mengadu nasib dan keberuntungan saja. Tidak akan baik akibatnya kalau membuat masalah apalagi sampai membuat orang sepenting Derryl tersinggung nantinya.
Namun Derryl hanya mengangguk seadanya menanggapi sapaan Leni. Pria tampan itu pun kembali mengarahkan pandangannya pada Shanum.
(Derryl berbicara dengan bahasa Inggris. Leni juga menjawabnya dengan bahasa Inggris. Di sini author kasih bahasa Indonesia aja ya, biar gak ribet, oke).
"Apa yang nona Shanum lakukan di hotel ini? ada meeting kah? atau nona menginap di sini?" tanya Derryl yang terdengar masih bicara dengan sangat sopan.
Derryl bahkan memanggil Shanum dengan sapaan nona. Namun karena memang Shanum sedang pusing dan pikirannya benar-benar kacau. Dia merasa kalau Derryl terlalu banyak bicara dan menambah kekesalan di dalam hatinya.
"Tuan Derryl, hentikan omong kosong anda ya. Saya sedang tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Termasuk anda!" seru Shanum membuat ekspresi wajah Derryl mendadak berubah.
Karena Shanum sudah berjalan cukup jauh, Leni pun meminta maaf pada Derryl.
"Tuan Derryl, maafkan nona Shanum. Dia sedang sangat lelah hari ini. Mohon maaf sekali lagi, tuan!" ucap Leni sebelum berlalu namun dengan sedikit membungkukkan badannya ke arah Derryl.
Setelah kepergian Leni dan Shanum, pria tampan asli Paris itu langsung mengepalkan tangannya dengan kuat. Terlihat dari buku-buku tangannya yang agak memerah, karena tangan Derryl begitu putih kulitnya.
***
Sementara itu Rendra yang sudah berangkat sejak siang tadi dengan jet pribadi pun telah sampai di rumah sakit tempat Tristan di rawat.
Anak buah pak Samsudin sengaja menunggu kedatangan Rendra di depan lobby rumah sakit. Begitu Rendra datang, anak buah Samsudin langsung mengajak Rendra ke ruang rawat Tristan.
Ceklek
__ADS_1
Begitu pintu kamar ruang rawat Tristan itu di buka. Rendra langsung bergegas, melangkah dengan cepat menuju tempat tidur pasien dimana adiknya terbaring tak berdaya.
Mata Rendra sudah merah, menahan khawatir sejak di pesawat jet pribadinya tadi.
"Tristan!"
Lirih Rendra memanggil nama adiknya yang matanya terpejam tak sadarkan diri. Dengan kepala di perban hampir sepenuhnya. lalu tangan dan kaki yang terbalut perban tebal. Sementara beberapa alat medis juga terpasang di tubuh Tristan. Bahkan ada mesin EKG juga yang terdengar suaranya membuat suasana di ruangan rawat Tristan itu semakin meneg4ngkan saja.
"Bagaimana kondisinya? apa kata dokter?" tanya Rendra bertubi-tubi yang terkesan tergesa-gesa pada salah satu anak buah Samsudin.
"Begitu kami tiba di sini, tuan muda Tristan sudah di tangani. Namun karena identitasnya yang berasal dari luar negara. Pihak rumah sakit agak lama menangani tuan muda, karena harus berkomunikasi dengan kedutaan terlebih dahulu. Namun begitu mengetahui kalau tuan muda adalah putra tuan Arya Hutama, maka pihak kedutaan yang menjamin untuk menyelesaikan segala administrasi. Kami juga sudah bicara dengan pihak kedutaan. Dan sudah membereskan semua administrasinya...!"
"Aku bertanya bagaimana kondisi Tristan?"
Rendra menyela apa yang sedang di jelaskan oleh anak buah Samsudin itu. Sebenarnya anak buah Samsudin juga tidak bisa di salahkan, karena dia memang hanya ingin menjelaskan tentang kronologis sebenarnya pada Rendra. Agar Rendra tahu apa yang terjadi sebelum anak buah Samsudin itu menemukan Tristan, yang memang saat mereka datang ke rumah sakit ini. Tristan memang sudah berada di ruang operasi.
Namun pihak rumah sakit juga menjelaskan kalau mereka memang agak lama menangani Tristan yang di bawa oleh beberapa warga setempat ke rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari.
"Kata dokter, tuan Tristan koma. Lukanya cukup parah tuan, apalagi benturan di kepalanya. Kata dokter tuan muda Tristan memang sudah melewati masa kritisnya, tapi untuk sadar...!"
Anak buah Samsudin itu menjeda kalimatnya, karena memang dia hanya menyampaikan apa yang dokter katakan padanya. Hanya saja, dia masih takut mengatakan kepada Rendra. Kalau para dokter belum bisa memastikan kapan Tristan akan sadar.
Karena tak puas dengan jawaban salah satu anak buah Samsudin yang menjaga di ruangan Tristan. Rendra pun keluar dari ruangan Tristan itu dan mencari dokter yang menangani Tristan. Setelah bertemu dengan dokter itu dan mendengarkan semua penjelasannya. Rendra keluar dengan langkah lesu dari ruangan dokter itu.
Rendra duduk di salah satu kursi tunggu, di salah satu koridor rumah sakit. Rendra mengusap wajahnya kasar. Dia bingung bagaimana menjelaskan kondisi Tristan pada sang ayah. Ayahnya baru saja keluar dari rumah sakit, dan kalau sampai dia mendengar seperti apa kondisi Tristan di sini. Rendra benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada ayahnya. Beliau pasti sangat shock.
***
Bersambung...
__ADS_1