Tega

Tega
Bab 54


__ADS_3

Dan akhir pekan itupun tiba. Richard yang akan berangkat ke kampung halamannya pun menyempatkan diri untuk menemui Sarah terlebih dahulu di rumah yang di sewa sementara oleh tuan Arya Hutama selama panti asuhan bunda Tiara masih dalam pembangunan untuk di jadikan panti asuhan dengan bangunan yang lebih besar dan kamar yang lebih banyak. Juga di tambahkan segala fasilitasnya.


Dengan mobilnya Richard datang pagi-pagi sekali, karena memang dia harus berangkat pagi agar sampai di kampung halamannya tidak terlalu siang. Tapi sepagi itu juga Sarah sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk adik-adik pantinya.


"Kak Sarah, di depan ada tamu!" kata Indah yang membukakan pintu untuk Richard.


"Siapa? laki-laki atau perempuan?" tanya Sarah.


Bukannya menjawab pertanyaan Sarah, Indah malah mengangkat bahunya sekilas.


"Tidak tahu jenis apa yang seperti itu...!"


Mendengar jawaban dari Indah, meski gadis kecil itu belum mengatakan semuanya. Sarah sudah tahu siapa yang mencarinya. Sarah lalu buru-buru menemui Richard di ruang tamu.


"Richard, kamu sudah mau berangkat?" tanya Sarah yang melihat Richard sudah rapi.


Richard tersenyum dan mengangguk.


"Iya nona Sarah, semua ini karena mu. Terimakasih banyak. Adik dan nenek ku pasti sangat senang. Oh ya... nanti aku akan bawakan oleh-oleh untukmu. Kamu cute sekali nona Sarah!" kata Richard tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena akan segera berkumpul dengan adiknya satu-satunya untuk merayakan ulang tahun adiknya itu.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya, salam untuk nenek mu dan selamat ulang tahun untuk adikmu!" kata Sarah sambil tersenyum.


"Iya, nona Sarah. Aku pergi ya, sekali lagi terimakasih!" ucap Richard sebelum meninggalkan rumah sewa sementara itu.


Sarah melihat Richard begitu senang juga jadi ikut senang. Saat Sarah akan kembali ke dapur, dia langsung menghentikan langkahnya. Karena Sarah tak bisa membayangkan bagaimana reportnya Tristan saat ini tanpa Richard. Meskipun ini akhir pekan, tapi sepertinya manusia batu itu masih ada meeting dengan beberapa klien.


Di kantor Tristan, sekitar jam sepuluh pagi.


Brakkkkk


Tristan menggebrak meja karena kesal meeting yang di jadwalkan oleh Nurma bentrok dengan meeting yang sudah di jadwalkan Richard sebelumnya dengan klien lain.


"Bagaimana sih? bisa kerja tidak? bagaimana bisa hanya dua meeting saja di akhir pekan, jadwalnya bisa bentrok. Bisa kerja tidakkk!!!" pekik Tristan kesal.

__ADS_1


Nurma hanya bisa menunduk.


"Maaf tuan, tapi saya tidak tahu kalau jam satu nanti tuan akan ada meeting...!"


"Makanya kamu itu tanya dulu pada sekertaris yang lain, mana Liana?" tanya Tristan kesal.


"Kak Liana libur hari ini tuan, kak Panji juga. Hanya saya...!"


Brakkkkk


Belum lagi Nurma selesai menjelaskan, lagi-lagi Tristan menggebrak meja.


"Minta Liana dan Panji datang ke kantor sekarang juga. Aku akan meeting sesuai jadwal Richard, kau dan yang lain yang harus bertemu dengan wakil perusahaan Tirtayasa!" seru Tristan.


Nurma yang serius mendengarkan pun bingung harus berbuat apa. Padahal dia yang menyarankan untuk Liana dan Panji, sekertaris lain dari Tristan untuk libur hari ini agar hanya dia sekertaris yang bekerja. Karena dia sudah tahu kalau Richard akan libur. Niat hati ingin berduaan dengan Tristan malah kena amukan.


Melihat Nurma tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri. Tristan pun membentak sekertaris nya itu lagi.


"Kenapa masih di sini?" pekik Tristan bertanya pada Nurma.


"I... iya tuan!" sahut Nurma yang langsung ambil langkah seribu keluar dari ruangan Tristan.


Brakkkkk


Sekali lagi Tristan menggebrak meja. Sambil mendengus kesal dia pun terus menggerutu.


"Semua ini gara-gara wanita freak itu, awas saja dia!" geram Tristan.


Sementara Nurma pun yang sudah berada di ruangannya langsung terduduk lemas. Dia juga langsung meraih gelas air mineral yang ada di atas meja kerjanya, meminumnya setengah lalu meletakkan kembali ke tempatnya.


"Aih, bagaimana ini? kalau aku menghubungi kak Liana dan kak Panji, apa mereka akan datang? iya kalau mereka ada di rumah, kalau sedang liburan. Aih, bodohnya aku. Kenapa tidak tanya dulu pada kak Liana meeting pertama jam berapa, harusnya hari ini aku bisa berduaan dengan tuan Tristan. Kenapa malah jadi begini sih?" gerutu Nurma.


Nurma pun segera menghubungi Liana. Namun lama sekali dan sudah berkali-kali di hubungi, Liana tak kunjung mengangkat panggilan telepon dari Nurma. Meski nadanya tersambung.

__ADS_1


Sampai hampir sepuluh menit, panggilan telepon dari Nurma itu tersambung namun tidak di terima oleh Liana. Karena panik, Nurma pun akhirnya memilih untuk menghubungi Panji saja.


Dan ketika Nurma menghubungi Panji, dia sangat bersyukur karena Panji langsung menerima panggilan telepon darinya.


"Halo kak Panji...!"


"Ada apa? kamu yang minta aku libur hari ini kan? jangan bilang ada pekerjaan mendadak dan memintaku kembali ke kantor sekarang?" sahut Panji yang langsung bisa menebak untuk apa Nurma menghubunginya.


"Darimana kak Panji tahu kalau...!"


Dan lagi-lagi Nurma belum selesai mengatakan apa yang mau dia sampaikan pada Panji. Panji lagi-lagi menyela ucapan Nurma.


"Aku kemarin sudah bilang padamu, meskipun kita hanya berbeda tiga hari bekerja, tapi aku tetaplah lebih lama bekerja dengan tuan Tristan daripada kamu. Aku sudah bilang padamu kemarin kan? hanya tuan Richard yang bisa mengerjakan semuanya sendirian, kita tidak akan bisa. Kamu ngeyel, dan tetap minta aku juga Liana libur. Sekarang kalaupun kamu akan minta aku kembali ke kantor percuma saja. Aku sedang ada di luar kota. Aku juga tadi ketemu Liana di stasiun, katanya dia mau menengok ayah dan ibunya di kota lain!" jelas Panji panjang lebar setelah itu Panji pun memutuskan panggilan telepon.


Nurma tidak dapat lagi bicara apa-apa. Dia benar-benar menyesal telah meminta dua rekan kerjanya libur.


'Sekarang aku harus bagaimana? tidak mungkin aku meeting sendirian dengan klien. Mereka juga pasti akan menolak kalau hanya aku yang meeting, seorang sekertaris baru. Aduh... bagaimana ini?'


Nurma tak hentinya berpikir, tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan cara untuk bisa lolos dari hukuman yang mungkin akan segera dia terima karena sudah bertindak ceroboh dalam pekerjaan.


Telepon di atas meja kerja Nurma pun berdering, dia sudah tahu siapa yang menghubungi nya.


"Ha... ha.. Lo tuan!"


"Bagaimana? Panji dan Liana bisa datang kan?" tanya Tristan kesal.


"Maa... maaf tuan. Mereka sudah ada di luar kota...


"Bagus Nurma, mulai besok kamu tidak usah masuk kerja lagi. Kamu saya pecat, sekarang juga kamu bisa pergi dari kantor ini!"


Tut... Tut... Tut...


Panggilan telepon itu terputus. Nurma benar-benar menyesali tindakannya. Dia pikir bisa lebih dekat dengan Tristan, tapi ternyata niatnya itu malah jadi bumerang untuknya sendiri. Dia bahkan harus meninggalkan pekerjaan nya karena kecerobohan dan niat yang tidak baiknya.

__ADS_1


***


Bersambung....


__ADS_2