
"Ini banyak sekali, kita harus mulai darimana?" tanya Rendra yang melihat laporan kapal-kapal yang mendapatkan ijin berlayar hari ini dari pihak kepolisian.
Tristan yang juga melihat laporan itu mulai berpikir.
"Richard sedang dalam perjalanan kemari. Kita bagi tiga saja. Aku memeriksa kapal yang berlayar di jalur barat, kak Rendra di jalur timur, dan Richard di selatan!" ujar Tristan yang memang setelah memeriksa laporan itu hanya ada tiga jalur itu saja yang mendapatkan ijin berlayar hari ini.
Setelah di sepakati, mereka semua pun pergi di dampingi beberapa petugas polisi.
Beberapa menit di tengah laut, Tristan terus saja merasa cemas. Masalahnya Sarah pergi setelah Tristan berkata sangat menyakiti hatinya. Kalau sampai dia tidak bisa bertemu dengan Sarah lagi, maka itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.
Saat Tristan masih memandang ke arah lautan luas. Tiba-tiba saja, dia di dekati salah satu kru kapal yang dia tumpangi.
"Tuan, ingin istrimu selamat. Maka ikuti aku! Jangan berpikir untuk meminta bantuan pada siapapun, karena jika aku menekan salah satu tombol yang ada di remot di tanganku ini, maka istrimu sudah pasti tidak akan selamat!" kata kru kapal yang sepertinya adalah salah satu anggota dari para penculik Sarah.
Tristan yang tidak ingin Sarah terluka pun mengikuti langkah kru kapal itu meninggalkan petugas polisi yang bersamanya.
***
Di kapal yang berbeda Rendra juga sama, dia di dekati oleh salah satu kru dan di ajak untuk mengikuti orang yang entah benar-benar kru kapal itu atau penculik yang menyamar menjadi kru kapal itu.
Ancamannya pun sama, jika dia membuat gerakan yang mencurigakan hingga membuat para polisi yang ikut mereka curiga akan sesuatu, maka dengan cepat pria itu akan menekan salah satu tombol yang ada di remot kecil di tangan pria itu.
Setelah berada di buritan kapal, pria itu lantas bicara pada Rendra.
"Cabut laporan penculikan dari kepolisian. Atau adik iparmu tidak akan selamat!" kata pria yang menyamar menjadi kru kapal itu.
Rendra menatap serius ke arah pria itu.
"Aku akan percaya padamu, setelah aku memastikan keadaan Sarah. Jika tidak darimana aku bisa yakin kalau kalian yang menculik Sarah!" kata Rendra mencoba untuk mengetahui keadaan Sarah sebelum dia memutuskan apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1
Pria yang di ajak bicara oleh Rendra itu malah terkekeh.
"Sayangnya kami orang-orang terlatih tuan Rendra, kalau tidak bagaimana kami tahu dimana tempat adik mu sedang bulan madu dengan istrinya, atau yang lebih sederhana saja. Bagaimana kami bisa menyamar menjadi kru kapal ini. Jangan coba-coba bermain-main dengan kami. Kamu pikir hanya aku saja anggota kami yang ada di kapal ini?" tanya pria itu yang membuat Rendra yakin kalau Sarah saat ini pasti berada di tangan orang yang pastinya bukan orang sembarangan.
Mungkin saja orang itu justru adalah orang dekat ayahnya. Kalau tidak bagaimana mereka bisa tahu di pulau mana Tristan dan Sarah berlibur.
Dengan spekulasinya tersebut, kini Rendra pun semakin waspada. Dia juga tidak mau mengambil resiko. Kelihatannya orang-orang ini juga punya rencana yang matang. Kalau tidak bagaimana bisa mereka menyamar menjadi kru yang jelas-jelas ada Rendra di dalamnya.
Tak ingin ambil resiko, Rendra pun mengangguk setuju.
"Baiklah, tapi aku harus menghubungi Tristan dulu. Bukankah dia yang seharusnya melakukan hal ini?" tanya Rendra yang sebenarnya ingin mengukur waktu.
Dan mendengar apa yang Rendra tanyakan. Lagi-lagi pria itu terkekeh.
"Jangan berpura-pura bodoh, aku tahu kamu hanya mengukur waktu. Biar aku katakan sekali lagi, kami bukan amatir. Adikmu pasti sekarang juga sudah mencabut laporan tentang penculikan istrinya!" kata pria itu membuat Rendra malah makin cemas.
***
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arya Hutama yang tak setuju dengan apa yang kedua putranya lakukan.
"Ayah, sebaiknya kita bicara di dalam!" ajak Rendra sambil mengarahkan ayahnya ke salah satu ruangan di kantor polisi tersebut.
Tuan Arya Hutama, Samsudin, Rendra dan Tristan masuk ke dalam ruangan itu. Dan Rendra yang masuk paling terakhir menutup pintu tersebut.
Kepala polisi dan para anggotanya sudah tak heran lagi dengan hal seperti ini. Kepala polisi itu bahkan mengiyakan semua keputusan Tristan. Tapi meskipun begitu, bahkan dia tetap bersedia membantu kapanpun di butuhkan.
"Kasus orang penting dan berkuasa memang tidak semudah kelihatannya!" kata salah satu anggota polisi yang tadi ikut bersama Tristan mencari Sarah.
"Kamu benar, aku lihat ada seseorang yang bicara dengan tuan Rendra. Setelah kapal bersandar, aku dengar ada salah satu kru di temukan pingsan di toilet. Tapi begitu memeriksa kamera CCtv yang ada di kapal, semua kameranya rusak. Sebenarnya kalau kasus ini di teruskan, aku sangat bersemangat. Pasti banyak pengalaman berharga yang akan kita temukan dan lakukan!" kata salah satu anggota polisi lainnya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruangan. Tak lama setelah Rendra menjelaskan kalau salah satu anggota penculik Sarah menemuinya dan mengancamnya. Ponsel Samsudin berdering.
"Halo!" kata Samsudin.
"Berikan telepon ini pada tuan Arya Hutama!" kata si penelepon.
Samsudin langsung menghidupkan speaker ponselnya dan memposisikan ponselnya di tengah tuan Arya Hutama, Tristan dan juga Rendra.
"Siapa kamu?" tanya tuan Arya Hutama dengan nada marah.
"Ha ha ha, paman. Tidak mungkin paman tidak mengenal suaraku kan?" tanya pria itu dari seberang telepon.
Ketiganya, tuan Arya Hutama, Rendra Hutama dan Tristan Hutama saling memandang. Mereka terlihat kesal karena sudah tahu siapa pelaku penculikan Sarah sebenarnya.
"Dasar tidak tahu malu, kamu sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan. Roy! Sarah itu istrinya Tristan, sepupumu sendiri!" kesal Arya Hutama.
Arya Hutama tak percaya kalau yang telah menculik Sarah adalah anak dari adik tirinya, yang berasal dari ibu yang berbeda darinya. Anak dari istri siri ayah Arya Hutama.
Rendra dan Tristan sudah mengepalkan tangannya. Mereka berdua memang sangat membenci sepupu mereka yang satu itu. Karena kerjanya hanya mengacaukan banyak hal.
"Hoho paman, jangan mem4ki keponakan mu ini tidak tahu malu, jika aku tidak tahu malu pasti sudah ku kirimkan rekaman menantumu yang galak itu saat aku mencicipi...!"
"Bren9sek!" pekik Tristan menyela apa yang ingin dikatakan Roy.
Melihat reaksi Tristan, Rendra terkejut. Namun Arya Hutama malah merasa senang dalam hatinya karena Tristan sepertinya sudah begitu perduli pada Sarah.
***
Bersambung...
__ADS_1