
Tristan yang merasa bosan menunggu di teras bungalow sendirian pun mulai menghampiri Sarah yang sedang asik menggambar namanya dengan berbagai gambar. Sebuah bintang dia letakkan di atas namanya, dan di kanan juga di kiri bintang itu. Sarah menggambar dua ekor angsa.
Awalnya Tristan hanya diam dan memperhatikan. Tapi semakin dia melihat gambar angsa dan bintang itu. Tristan seperti lumayan familiar dengan gambar itu. Tristan merasa itu seperti sebuah logo sesuatu. Tapi sayangnya Tristan tidak bisa mengingat dengan jelas logo apa itu.
Dan sepertinya Tristan juga tidak menyukai logo itu makanya dia langsung tidak memperdulikannya lagi.
"Apa yang kamu gambar?" tanya Tristan tiba-tiba.
Sarah yang sedang asyik sejak tadi menggambar di pasir tidak menyadari kalau Tristan ada di sampingnya sampai Tristan bertanya seperti itu padanya.
Sarah langsung menoleh dan tersenyum manis pada pria yang sangat tampan ketika dia menggunakan kaos berkerah berwarna putih itu.
Melihat Sarah tersenyum manis padanya Tristan langsung memalingkan wajahnya ke arah pasir yang ada di bawahnya.
"Aku sedang melukis namaku, aku pandai melukis loh!" kata Sarah memberitahukan kepada Tristan kalau dirinya punya keahlian lain selain menghitung dengan cepat.
"Oh, tapi kelihatannya biasa saja!" kata Tristan yang lain di mulut dan lain di hati.
Sebenarnya Tristan sangat terkejut Sarah bisa melukis di atas pasir. Dan yang membuat Tristan sedikit kagum adalah ketika dua gambar angsa itu sama persis, keduanya sama besar dan memiliki sayap sama besar dan sama persis ukurannya. Juga tingginya pun sama dan itu menurutnya sangat sulit bagi orang biasa bahkan bagi dirinya sendiri.
"Mau aku buatkan namamu tidak?" tanya Sarah.
Mendengar tawaran Sarah, Tristan langsung mengangkat tangannya dan menggerakkan ke kanan dan ke kiri seperti gerakan melambai untuk menolak sesuatu.
"Tidak usah, namaku akan jadi jelek kalau kamu melukis di atas pasir!" ketus Tristan yang malah duduk tepat di gambar bintang yang Sarah lukis tadi.
"Hei...!"
__ADS_1
Sarah mencoba untuk menghentikan Tristan yang ingin duduk di atas gambar bintang buatannya. Tapi sayangnya semua itu sudah terlambat. Ketika Sarah baru akan mengeluarkan suaranya, bok0ng Tristan sudah mendarat cantik di atas pasir yang terdapat bintang hasil lukisan Sarah tadi.
"Ck... kamu ini. Aku akan gambar yang lain di sana!" kata Sarah yang ingin melukis namanya lagi di tempat lain.
"Hei, wanita freak kemari lah. Aku ingin bicara padamu!" kata Tristan.
Sarah yang sudah berjalan beberapa langkah ke arah kiri Tristan yang memang tempatnya masih sangat luas untuk dilukis, menghentikan langkahnya ketika Tristan memanggilnya. Sarah seperti anak penurut yang ketika Tristan menepuk pasir di sebelah dia duduk. Sarah bahkan langsung berjalan ke arah Tristan dan duduk di tempat yang di tepuk Tristan tadi.
Tristan yang melihat hal itu pun bertanya dalam hatinya.
'Apa wanita ini benar-benar sepenurut ini, kemana perginya wanita freak menyebalkan yang menggedor kaca jendela mobilku saat pertama kali kamu bertemu?'
Namun melihat Tristan yang malah terdiam saat Sarah sudah duduk di sampingnya membuat Sarah bertanya-tanya.
"Hei, katanya mau bicara? kenapa malah diam saja?" tanya Sarah.
Pandangan matanya menuju ke arah lautan yang tak bertepi. Melihat itu, Sarah merasa kalau apa yang akan di katakan Tristan ini bukanlah hal yang biasa. Pasti sangat serius, dan entah kenapa Sarah merasa tidak tenang.
"Tadinya aku berpikir untuk berteman denganmu! aku juga belum tahu apa rencana ayah ke depannya, agar niatnya menjadikan mu satu-satunya istriku tercapai!"
Mendengar kalimat satu-satunya istri yang keluar dari mulut Tristan. Perasaan Sarah semakin tidak enak.
"Tapi setelah aku pikirkan lagi, pikiran ku sungguh sangat tidak benar!"
Sarah masih diam dan terus mendengarkan Tristan. Tanpa berniat menyela Tristan, meski sedikit banyak dia sudah bisa menangkap apa sebenarnya yang ingin Tristan katakan padanya.
Sebelum bicara, Tristan menoleh ke arah Sarah. Tristan menunjukkan wajah dingin dan serius saat menatap Sarah. Sarah pun hanya bisa diam menatap pandangan Tristan tersebut.
__ADS_1
"Aku pikir lebih baik jika kita memang seperti saat pertama kali kita bertemu!"
'Akhirnya dia mengatakan hal ini juga!' gumam Sarah dalam hatinya.
Sarah tidak terkejut dengan perkataan Tristan itu. Sarah memang sejak awal sudah menyiapkan mental dan hatinya untuk tidak berharap apapun pada Tristan.
"Kita hanya akan bicara, kalau ada orang lain di sekitar kita berdua. Dan kita tidak perlu bicara satu sama lain jika tidak ada orang lain. Apa kamu mengerti?" tanya Tristan dengan tatapan serius pada Sarah.
Sarah pun mengangguk paham. Meski sedikit kecewa karena dia merasa sudah mulai terbiasa dengan Tristan yang tidak seperti batu lagi. Tapi mau bilang apa, sekali batu mungkin akan tetap menjadi baru.
"Tidak usah memasak untukku, atau mencuci pakaianku. Aku akan lakukan semuanya sendiri. Mulai sekarang kita urus diri kita masing-masing!" ucap Tristan yang langsung bangkit berdiri dan berbalik meninggalkan Sarah sendirian.
Tristan melangkah dengan langkah yang besar namun terkesan ragu. Dia juga merasa kalau langkahnya sebenarnya sangat berat. Namun dia harus mengambil keputusan itu untuk bisa melindungi hatinya sendiri dan juga hati Sarah. Tristan mulai takut kalau mereka terlalu dekat, maka akan ada perasaan lebih. Dan karena hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan yang saling menguntungkan. Tristan tahu, jika ada perasaan lebih, maka akan ada hari yang tersakiti. Entah hati siapa dari Tristan, Shanum atau Sarah, yang jelas pasti dari ketiganya akan ada yang terluka.
Sementara Sarah hanya bisa terdiam terpaku, sambil menatap jejak langkah Tristan yang terus menjauh darinya.
Sarah langsung menatap ke depan, ke arah laut. Dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
'Bukankah memang seharusnya seperti ini, dari awal seharusnya memang seperti ini kan? tapi kenapa rasanya hatiku sakit ya?' tanya Sarah yang menatap jauh ke ombak di depannya yang juga semakin menjauh darinya.
Tristan yang sudah masuk ke dalam bungalow pun kembali melihat ke arah Sarah duduk dari jendela yang ada di salah satu sisi pintu.
"Seharusnya memang begini Sarah... seharusnya memang begini!" gumam Tristan lalu berbalik dan menuju ke kamarnya.
***
Bersambung...
__ADS_1