Tega

Tega
Bab 83


__ADS_3

"Hatciuu...!"


"Hatciuu...!"


Sarah mengusap hidungnya yang terasa gatal-gatal dan terus ingin bersin dengan punggung tangannya.


Karena sebenarnya dia sedang membuat adonan perkedel.


Tristan yang melihat hal itu dari jauh pun merasa kalau apa yang dilakukan Sarah itu adalah sesuatu yang tidak higienis. Dia sedang membuat masakan, tapi dia mengusap hidungnya dengan punggung tangannya. Apalagi yang sedang di buat Sarah itu adalah masakan yang sepertinya sudah jadi makanan kesukaan Tristan. Perkedel kentang daging.


Tristan langsung menghampiri Sarah dan meraih lengan Sarah agar tidak mengusap hidungnya dengan punggung tangannya lagi.


"Eh...!"


"Apa-apaan ini, kenapa cara masak mu jor0k begini? apa memang selalu seperti ini. Sambil memasak, malah pegang yang tidak-tidak?" tanya Tristan yang protes pada Sarah hanya karena masalah dia mengusap hidung dengan punggung tangannya.


Sarah langsung berbalik dan menarik tangannya dari genggaman Tristan.


"Apasih, aku hanya mengusap hidungku saja. Tidak kena apapun juga. Hidungku gat4l!" kata Sarah menjelaskan.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Tristan dengan ekspresi penasaran.


"Mana aku tahu. Mungkin ada yang sedang membicarakan aku dalam hatinya!" kata Sarah menjelaskan tentang sebuah mitos lama yang sering dia dengar.


Bahwa kalau tiba-tiba kita bersin tapi tak ada debu, udara dingin atau sesuatu yang mungkin menjadi penyebabnya secara masuk akal. Maka kemungkinan besar adalah sedang ada yang sedang memikirkan kita dalam benaknya. Sama seperti mimpi, kalau kita memimpikan seseorang yang bahkan tak pernah kita pikirkan di siang hari atau malam harinya, maka itu artinya orang itu sedang merindukan kita dan sebenarnya dia ingin bertemu dengan kita.


Mendengar jawaban Sarah, Tristan malah terkekeh.


"Ha ha ha, memangnya ada yang akan memikirkan mu! jangan terlalu percaya diri!" kata Sarah meremehkan.


Sarah hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi apa yang barusan Tristan katakan. Lalu dia kembali berbalik dan kembali mencetak adonan perkedel itu satu demi satu di piring sebelum di goreng.


Melihat apa yang dilakukan Sarah, Tristan pun penasaran. Itu karena menurutnya yang dilakukan Sarah itu menarik. Maklum saja, Tristan mana pernah masuk ke dapur. Jadi ketika dia melihat Sarah membentuk adonan tanpa timbangan tapi sepertinya sangat sama persis. Tristan pun jadi heran.


"Apa kamu menimbangnya?" tanya Tristan.

__ADS_1


"Apa?" tanya Sarah tak paham dengan pertanyaan Tristan.


Maksudnya Sarah tak paham Tristan bertanya tentang menimbang apa. Benda atau pemikiran. Jadi daripada salah menjawab dan membuat mereka berdebat berkepanjangan, maka Sarah bertanya saja, sebenarnya objek pertanyaan Tristan itu apa.


"Kamu ini bodohh sekali, memang apa yang kamu pegang? kenapa masih tanya aku bertanya tentang apa?" tanya Tristan tapi dengan nada ketus dan tatapan yang tajam.


Sarah yang menoleh ke arah Tristan sampai berdecak kesal.


'Oh astaga! aku hanya ingin dia bertanya lebih objektif. Emosian sekali sih!' batin Sarah tak suka sifat Tristan yang terlalu cepat emosian.


"Sudahlah, lebih baik kamu tunggu saja di meja makan. Atau melakukan apa gitu! daripada mengganggu konsentrasi ku!" keluh Sarah.


Mendengar Sarah berkata seperti itu, Tristan malah semakin kesal. Dia merasa harga dirinya terluka, bagaimana tidak. Semua wanita di seluruh Indonesia pasti senang ketika mereka memasak di temani pria tampan nan rupawan macam Tristan.


Tapi Sarah malah mengusirnya, dan mengatakan Tristan malah mengganggu pekerjaannya, konsentrasinya. Tentu saja Tristan kesal.


"Hei, wanita freak! lihat aku!" kata Tristan kesal, sangking dia ingin menunjukkan wajah tampan paripurna tanpa cela itu pada Sarah. Tristan berdiri sangat dekat dengan Sarah.


'Apalagi sih? ya Tuhan... mau masak saja harus debat kusir dulu. Heran deh!' batin Sarah.


Tapi saat Sarah berbalik, dia malah kembali membuat dahinya menyentuh bibir Tristan.


Sangking terkejutnya, Sarah sampai tidak bisa berdiri dengan benar. Tidak bisa menyeimbangkan posisi dan akhirnya terhuyung ke belakang.


Namun sebelum Sarah terjatuh, tiba-tiba saja dia merasa ada sesuatu yang menangkap dan merangkul pinggangnya.


Deg deg deg


Kedua mata saling bertemu, posisi mereka yang begitu dekat bahkan menempel satu sama lain di bagian pinggang sampai bahu membuat degup jantung Sarah menjadi tak beraturan.


Dan manik mata coklat milik Sarah itu, juga membuat Tristan tak bisa dengan mudah berpaling.


Satu detik dua detik tiga detik...


(Suara alat masak presto berbunyi)

__ADS_1


(Anggap saja suara panci presto bunyi ya, karena author merasa Dilema bagaimana mendeskripsikan bunyinya tuh panci presto kalau sudah berdesing. Betewe, salah satu novel buatan author ada juga loh yang judulnya Dilema, kalau berkenan boleh di tengok).


"Eh...!"


Mendengar suara panci presto berbunyi, Sarah langsung membenarkan posisi berdirinya dan segera menarik dirinya menjauh dari Tristan.


Tristan yang merasa kalau dirinya memang tak seharusnya berada di tempat itu pun langsung berbalik dan melangkah dengan cepat keluar dari bungalow.


Sarah yang melihat ekspresi wajah Tristan yang berubah menjadi dingin, dan langkahnya yang semakin cepat membuat Sarah menghela nafasnya.


Sarah lalu memegang dadanya, yang tadinya jantungnya berdetak dengan cepat itu membuat Sarah juga merasa takut.


"Kenapa ini? perasaan ini, seperti saat aku masih jadi penggemar mas Alan...!"


Tapi tak lama kemudian, Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Hah... tidak... tidak.. tidak mungkin! kalau aku sampai jadi penggemar berat manusia batu itu, aku pasti sudah tidak waras! Sarah... ayolah. Pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan, hanya sebuah perjanjian. Apa yang aku pikirkan. Astaga!"


Sarah malah menggerutu sendiri sambil melanjutkan proses memasak untuk menyiapkan makan malamnya dengan Tristan.


Sementara Tristan yang keluar dari bungalow, berdiri di pagar pembatas bungalow itu. Tristan menatap lurus ke arah pasir yang ada di bawah bangunan itu. Tristan bahkan menggenggam erat pegangan pagar itu.


Tiba-tiba saja semua yang terjadi antara dirinya dan Sarah melintas begitu saja di benaknya.


Ciuman pertama mereka ketika mereka berada di pesta dansa pernikahan mereka. Lalu ketika di kapal, ketika Sarah tak sengaja hampir jatuh dan membuat Tristan mencium dahi Sarah meskipun tidak sengaja.


Lalu CPR yang Tristan lakukan untuk Sarah, senyuman Sarah yang begitu tulus ketika mengucapkan terimakasih pada Tristan, yang bahkan membuat Tristan tanpa sadar juga ikut tersenyum.


Lalu kejadian barusan, dimana sebenarnya bukan hanya jantung Sarah yang berdetak kencang. Tapi juga jantung Tristan pun sama.


Tristan memejamkan matanya lalu membukanya lagi sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Siall!"


"Ayah, kau benar-benar membuat masalah bagiku!"

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2