Tega

Tega
Bab 118


__ADS_3

Di tempat berbeda, di tanggal dan waktu yang sama. Sedang di langsungkan acara pesta pernikahan antara seseorang yang dulu pernah sangat berarti dalam hati dan hidup Sarah. Setelah acara tadi pagi akad nikah juga telah di gelar dan berlangsung lancar.


Acara resepsi malam ini pun akan sangat mewah. Bagaimana tidak, ini adalah acara dimana dua keluarga besar yang sangat terpandang di kota ini bersatu. Keluarga Kusuma Wijaya dan juga keluarga besar Adhikara. Dua nama keluarga yang begitu tersohor di kota Batu.


Di sebuah kamar, di kediaman Kusuma Wijaya. Tempat dimana sang mempelai wanita, yaitu anak tunggal keluarga Damar Adhikara sedang di rias untuk acara resepsi pernikahannya.


Ayah dan ibunya juga berada di ruangan itu, tuan Damar Adhikara dan istrinya Widya begitu terlihat bahagia, karena sejak tadi Inka, putri mereka beberapa saat yang lalu telah resmi menikah dengan pria yang paling di cintainya sejak SMA. Yaitu Jerry Alando.


"Nak, ayah mendoakan agar pernikahan kamu ini selalu membawa kebahagiaan yang besar dan berlipat-lipat untukmu!" kata tuan Damar mendoakan anak tunggalnya tersebut.


Inka hanya tersenyum dan mengangguk mendengar dan mendapatkan doa yang begitu baik dari sang ayah tercinta.


Begitu pula dengan Widya yang bahkan sejak tadi tak henti-hentinya menangis haru. Karena meski sempat sakit hati karena Jerry kabur setelah di tetapkan tanggal pertunangan. Namun kini Jerry kembali lagi pada Inka. Widya sangat bahagia, karena setelah beberapa tahun tak dapat melihat senyuman Inka karena di tinggalkan oleh Jerry. Begitu Jerry kembali, keceriaan Inka kembali lagi. Sejak Jerry kembali sampai saat ini, Inka begitu terlihat bahagia, apalagi setelah pernikahan mereka tadi pagi.


"Ibu juga berdoa, semoga ini adalah awal dari kehidupan kalian berdua. Kehidupan yang bahagia, saling percaya, setia dan menyayangi!" Doa Widya untuk Inka.


"Aamiin!" seru Inka dan Damar bersamaan.


Namun tangis haru tak dan kebahagiaan dalam hati tak hanya di rasakan oleh ketiganya di ruangan tersebut. Seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu asuh Inka sejak kecil juga ikut menangis haru, tangisannya bahkan lebih lirih daripada Widya saat akad nikah pagi tadi.


Di balik pintu yang terbuka sedikit itu, tidak ada yang menyadari. Kalau Mulya telah menangis dan berulang kali mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

__ADS_1


'Selamat menempuh hidup baru nak, ibu hanya bisa mendoakan mu dari jauh begini. Ibu sangat menyayangi mu nak, selamat menempuh hidup baru. Dan semoga kamu selalu bahagia!' doa Mulya dalam hati.


Ibu asuh Inka dan orang kepercayaan Widya itu dulunya adalah seorang istri dari salah satu mandor di salah satu pabrik Tekstil terbesar di Indonesia milik keluarga Adhikara. Namun karena mengalami kecelakaan kerja, sang suami meninggal. Mulya yang memang hidup sebatang kara, dan hanya memiliki suaminya membuat Widya kasihan. Apalagi kala suaminya meninggal saat itu, Mulya sedang hamil tujuh bulan, persis seperti Widya. Maka Widya kasihan dan mengajak Mulya tinggal bersamanya di rumahnya.


Dan kebetulan sekali saat itu mereka juga melahirkan bayi yang sama, yakni perempuan. Hanya saja saat usia anak Mulya dua tahun, anaknya di culik orang dan sampai sekarang tidak di temukan.


Saat sedang melihat kebahagiaan Damar Adhikara berserta anak dan istrinya, punggung Mulya tiba-tiba ada yang menepuk.


"Mbok, ngapain?" tanya Yumi. Salah satu pelayan setia Inka.


Mulya terkejut dan langsung cepat-cepat menyeka air matanya. Dia pun tersenyum dengan wajah keriputnya.


"Eh, Yumi. Ndak apa-apa. Rasanya mbok ikut senang melihat ndoro putri menikah. Rasanya seperti baru kemarin ndoro putri lahir, terus belajar jalan, terus belajar ngomong. Ndoro putri suka nangis kalau den Jerry ambil mainannya, eh... malah sekarang mereka jadi sepasang suami istri!" kata Mulya dengan gaya khas bicaranya.


"Iya mbok, mbok juga yang sabar ya. Mbok pasti ingat dek Tari ya? yakin saja mbok, dimana pun dek Tari berada saat ini. Dia pasti sangat bahagia. Bukankah kita, bahkan ndoro ayu juga selalu berdoa agar dek Tari selalu bersama dengan orang-orang baik yang mengasihinya!" ucap Yumi.


Mulya hanya mengangguk, dia bahkan sudah lupa pada nama yang di ucapkan Yumi tadi. Karena memang Tari bukan anak kandung Mulya. Sebenarnya ada sebuah rahasia besar yang di sembunyikan Mulya dari semua orang. Dan hanya dirinya saja yang mengetahuinya. Semua itu dia lakukan untuk kebahagiaan putrinya.


Sementara itu di kamar Alan, pria itu sedang sangat kesal. Dia memang tampak tak bahagia. Tentu saja, selain karena pesta dan segala acara adat yang menurutnya sangat kuno dan membosankan. Juga sangat ribet dan melelahkan. Dia juga sangat tidak menyukai pengantin wanitanya. Jerry benar-benar sangat tidak suka pada Inka. Dia sendiri tidak tahu kenapa.


Meskipun Inka itu sangat cantik dan pintar, juga lembut dan sopan karena memang berasal dari keluarga yang ternama. Namun Jerry sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang saat ini telah menjadi istri sahnya itu.

__ADS_1


Ketika Alan sedang berusaha mengusir rasa bosannya dengan sebatang rokOk di tangannya. Raes, sepupunya yang begitu menyebalkan masuk ke dalam kamarnya.


Melihat Raes masuk, Alan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain setelah melihat ke arah sepupunya yang berdandan berlebihan dengan jas ala Eropa padahal mereka sedang mengadakan pesta bertema adat.


"Wah, pengantin pria kita sungguh terlihat tidak bahagia! Seandainya ponselku juga tidak ikut di sita karena memang tak boleh ada yang merekam momen sakral ini kecuali para petugas, aku pasti akan merekam ekspresi wajahmu ini Jerry!" seru Raes menyindir Alan.


"Di laci itu ada kamera, rekam saja. Itupun kalau kamu bisa menggunakannya!" balas Alan yang tahu kalau sepupunya itu tidak terlalu pintar.


Wajah Raes menjadi sangat kecut ketika mendengar apa yang dikatakan Alan padanya.


"Ck... kali ini ku biarkan kamu menguasai pabrik. Tapi ingat, mengambil alih itu lebih mudah daripada mempertahankan. Masih ada aku Jerry, masih ada aku yang akan merebut semua yang seharusnya jadi milikku!" gertak Raes yang memang tak menyukai Jerry Alando.


Mendengar ocehan Raes, Jerry Alando pun terkekeh.


"Hah, kalau kamu mampu kenapa tidak kamu lakukan empat tahun lalu. Saat aku meninggalkan semua ini, pabrik, keluarga ini dan wanita itu?" tanya Alan mengejek kemampuan Raes.


Raes pun mendengus kesal.


"Ada satu perbedaan antara aku dan kamu mengenai cinta Jerry, aku mencintai Inka, karena itu aku sangat menghargai keputusan Inka. Bagiku keinginannya dan kebahagiaanya adalah segalanya bagiku. Mencintainya artinya aku akan bahagia kalau dia bahagia. Meski seumur hidupku aku akan menunggunya!" kata Raes terlihat serius.


Alan pun tertawa, tapi dalam hatinya dia juga merutuk1 kebodohannya. Memang benar apa yang dikatakan Raes. Penilaian dan cara pandang mereka memang berbeda mengenai cinta. Kalau Raes bahkan merelakan wanita yang dia cintai agar wanita itu bahagia. Kalau Jerry Alando berbeda, dia akan melakukan apa saja untuk kembali mendapatkan wanita yang dia cintai. Termasuk menikahi wanita lain untuk mendapatkan kekuasaan dan harta, lalu menggunakannya untuk merebut kembali Sarah dari tangan Tristan Hutama.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2