Tega

Tega
Bab 78


__ADS_3

Begitu Tristan selesai dengan acara paginya dan sudah berpakaian dengan sangat rapi. Sarah juga telah selesai menyiapkan nasi goreng di atas piring, kemudian di beri hiasan berupa selada dan timun yang di susun di atas piring itu secara melingkar. Membuat tampilan nasi goreng kayu lebih menggug4h selera.


Namun saat Sarah meletakan piring berisi nasi goreng untuk Tristan di atas meja, dimana seharusnya Tristan nanti akan duduk. Kemudian Sarah berbalik ke arah dapur untuk mengambilkan air minumnya. Tiba-tiba saja Sarah kembali berbalik menghadap ke arah meja makan.


'Aku rasa ini tidak benar, Tristan tidak bisa makan pedas. Tempat ini juga letaknya lumayan jauh dari pulau lain. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya. Tidak... ayah pasti akan sedih!' pikir Sarah yang langsung meraih kembali piring yang seharusnya di siapkan untuk Tristan.


"Lebih baik aku membalasnya lain kali saja, saat kami ada di kota!" gumam Sarah yang kembali membawa piring itu menuju ke dapur.


Sarah pun mencari bahan makanan lain untuk bisa dia buat sarapan untuk Tristan. Sarah mengambil roti tawar dan sosis dari kulkas. Dia pikir akan membuatkan Tristan sandwich sosis telur saja.


Namun ketika Tristan sudah rapi, pria itu pun langsung duduk di meja makan.


"Hei, kenapa cuma ada satu nasi goreng di sini? kamu begitu kesal sampai tidak mau buatkan aku sarapan. Kamu lupa aku ini...!"


"Suamiku?" tanya Sarah menyela.


"Sudahlah Tristan, aku bukan jenis manusia pendendam seperti mu. Aku tidak termasuk golongan mu itu!" kata Sarah sambil menyiapkan sarapan Tristan dan menatanya ke atas piring.


Tristan yang mendengar ucapan Sarah itu sebenarnya sedikit kesal. Tapi karena dia lapar, dia tidak membalas ucapan Sarah lalu menarik piring yang ada di seberangnya.


Sarah yang melihat hal itu langsung melarang Tristan.


"Tristan, jangan di makan. Itu punyaku, itu nasi goreng pedas. Ini aku buatkan untukmu sandwich!" kata Sarah yang buru-buru membawakan piring yang berisi sarapan Tristan pada pria itu.


"Ini!" ucap Sarah sambil meletakkan piring berisi sandwich yang cukup tebal dan menggeser puring berisi nasi gorengnya.


Tapi melihat tampilan sandwich dan nasi goreng di depannya. Tristan merasa kalau nasi goreng itu rasanya lebih enak.


"Kenapa tidak memasakkan aku nasi goreng juga?" tanya Tristan kesal.


Sarah lalu duduk di kursinya yang agak jauh dari Tristan dan menarik piring berisi nasi goreng itu ke hadapannya.


"Aku sudah buat tadi, tapi sambalnya tertuang terlalu banyak. Aku pernah bertanya pada Richard tentang makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh kamu makan. Richard bilang kamu tidak bisa makan masakan pedas. Jadi aku buatkan yang lain. Sudah makan saja!" kata Sarah yang memang sudah merasa lapar.

__ADS_1


Mendengar jawaban Sarah itu, Tristan kembali terdiam. Sebenarnya kemarin siang, dia bahkan merenung cukup lama di belakang pulau. Dimana di sana ada sebuah gubuk kecil yang memang sudah ada sejak bungalow di pulau itu juga ada.


Tentang apa yang Sarah katakan tentang apakah dia mencintai Shanum melebihi cintanya pada sang ayah.


Tristan benar-benar merasa tertampar sangat keras ketika Sarah mengatakan hal itu. Lalu dia kembali mengingat bagaimana mereka berdua, Sarah dan Tristan bisa menikah. Sarah melakukan itu demi adik-adik pantinya, demi bunda Tiara yang merawatnya sejak kecil. Tapi Tristan justru melakukan itu untuk membohongi sang ayah agar dia bisa tetap berhubungan dengan Shanum di belakang sang ayah.


Tristan merasa dirinya sebenarnya sangat amat buruk sekarang ini. Apalagi di tambah apa yang dikatakan oleh Sarah barusan di depan Tristan.


Meski Sarah kesal pada Tristan, atas semua ketidakadilan yang dia alami karena Tristan. Tapi dia tetap tidak ingin mencelakai Tristan.


Tristan melihat ke arah Sarah yang sedang makan dengan serius. Menundukkan kepalanya tanpa menoleh kemana-mana. Hanya fokus pada makanannya saja. Sementara Tristan masih diam dan belum menyentuh sandwich nya.


Sarah yang sudah menghabiskan setengah makanannya pun iseng menoleh ke arah piring Tristan. Sarah sampai meletakkan sendoknya ketika melihat sandwich di piring Tristan masih utuh.


"Kenapa kamu tidak makan? tidak suka sandwich ya? mau aku buatkan makanan yang lain?" tanya Sarah.


Sarah mengira Tristan tidak suka sandwich, namun saat Sarah akan berdiri dari duduknya. Tristan malah mencegahnya.


Setelah Tristan memasukkan makanannya ke dalam mulut. Baru Sarah kembali meraih sendoknya dan mulai makan lagi.


"Nanti siang, kamu mau ikut aku memancing tidak?" tanya Tristan.


Tristan merasa kalau mungkin apa yang dikatakan ayahnya itu benar. Dan meski Tristan merasa tidak mungkin akan punya hubungan suami istri yang sebenarnya dengan Sarah. Setidaknya selama mereka bersama, mereka bisa menjadi teman.


"Uhukk... uhukk!"


Tapi Sarah yang mendengar tawaran dari Tristan itu malah tersedak makanannya.


Sarah langsung meraih gelas air minum dan meminum air untuk meredakan rasa tidak nyaman di tenggorokannya.


"Tristan, kamu bilang apa barusan?" tanya Sarah memastikan.


Sarah benar-benar tidak bisa percaya apa yang di dengar oleh telinganya tadi. Bagaimana bisa manusia batu yang selalu ingin Sarah mengalami kesulitan dalam hidupnya mengajaknya pergi bersama untuk memancing.

__ADS_1


"Apa kamu tuli?" tanya Tristan yang malah kesal karena Sarah sepertinya terlalu berlebih-lebihan menghadapi ajakannya barusan.


'Tuh kan, apa aku bilang! aku pasti salah dengar!' batin Sarah.


Merasa dirinya salah dengar, maka Sarah pun tidak menghiraukan atau membahas masalah itu lagi. Sarah malah dengan santainya makan nasi gorengnya yang tinggal seperempat piring lagi. Karena memang dia mengambil nasi goreng itu sesuai dengan porsinya, tidak terlalu banyak dan juga tidak terlalu sedikit. Porsi yang pas sekiranya membuatnya bertahan sampai jam satu siang nanti.


Namun Tristan yang merasa Sarah malah mengacuhkan ajakannya kembali meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring yang masih berisi sandwich nya setengah lagi.


Prang


(Tolong anggap saja itu suara bantingan garpu di atas piring dari Tristan ya)


Tentu saja Sarah terkejut mendengar Tristan membanting garpunya di atas piring. Sarah pun menatap heran ke arah Tristan.


"Tristan, kamu kenapa lagi sih?" tanya Sarah heran.


Tristan lantas mendengus kesal mendengar pertanyaan dari Sarah.


"Kamu itu yang kenapa? dasar wanita freak! aku tadi mengajakmu memancing bersamaku. Kamu malah mengacuhkan aku, harusnya aku yang bertanya kenapa, bukan kamu?" tanya Tristan dengan kesal.


Sarah pun memasang wajah tidak bersalahnya, karena dia memang merasa tidak bersalah.


"Tadi kan aku tanya, kamu bilang apa? kamu malah bilang aku tuli. Jadi aku pikir aku salah dengar!" jelas Sarah.


"Ck... menyebalkan!" keluh Tristan yang meninggalkan ruang makan dengan kesal.


Sarah yang melihat Tristan berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar pun menggelengkan kepalanya.


"Ck... harusnya aku kan yang bilang seperti itu. Kenapa dia marah-marah terus sih, apa dia punya penyakit hipertensi ya?" gumam Sarah bingung.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2