
Rendra sampai di rumahnya dengan perasaan yang begitu tidak tenang.
Hal yang pertama yang Rendra lakukan ketika sampai di rumah adalah melihat Kevin di kamarnya.
Rendra tersenyum melihat putranya yang tertidur sambil memeluk guling itu. Persis seperti dirinya kalau tidur, mata yang sama, hidung yang sama. Tapi setiap kali Kevin tersenyum, wajah Gisella yang ada di sana. Rendra menghela nafas panjang.
Tangannya membelai lembut kepala Kevin.
"Nak, mimpi yang indah ya!" gumam Rendra lalu mengecup kepala Kevin.
Setelah itu Rendra keluar dari kamar Kevin, dia melihat pengasuh Kevin masih ada di luar kamar, lebih tepatnya di tempat bermain Kevin.
"Jam berapa dia tidur?" tanya Rendra pada pengasuh Kevin yang masih terjaga di luar kamar Kevin dan sedang merapikan mainan Kevin
"Baru saja tuan, tuan kecil terus minta bertemu dengan mama Sarah-nya. Saya coba hubungi tapi nomer ponsel nona Sarah tidak aktif tuan!" jawab pengasuh Kevin.
Rendra terdiam, tapi dia tetap berusaha berpikir positif thinking. Karena beberapa waktu ini hubungan Sarah dan Tristan sudah membaik. Jadi Rendra pikir, mungkin memang ponsel Sarah sedang di charger atau memang adik iparnya itu sudah tidur. Makanya ponselnya di matikan.
"Mungkin Sarah sudah tidur, kalau Kevin terbangun nanti malam katakan saja seperti itu. Dan dia bisa hubungi Sarah besok pagi!" kata Rendra menjelaskan alasan pada pengasuh Kevin kalau-kalau Kevin terbangun nanti.
"Baik tuan!" kata pengasuhnya.
Setelah melihat keadaan Kevin, Rendra kembali ke kamarnya. Setelah membersihkan diri, dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Lalu memejamkan matanya. Tapi saat Rendra memejamkan matanya, apa yang dilakukan Arumi tadi terbayang lagi oleh Rendra.
Rendra langsung membuka matanya lalu merubah posisi tidurnya menghadap ke arah sebaliknya. Namun hasilnya sama saja, begitu Rendra memejamkan matanya, bibir Arumi bahkan terasa menempel di bibir Rendra. Saat Rendra membuka mata, ternyata guling yang dia peluk yang menempel di bibirnya.
"Astaga, wanita itu benar-benar ya!" kesal Rendra yang sangat yakin kalau dirinya tak akan tidur nyenyak malam ini.
Sementara hal yang sama juga sedang membuat Arumi mengomel. Setelah dirinya membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bibirnya yang terasa tebal benar-benar sangat mengganggu. Begitu dia memejamkan matanya, dia bahkan merasa merinding, sepertinya dia masih bisa merasakan tangan Rendra yang tadi bergerak li4r di tubuhnya.
Saat Arumi menutup matanya, bayangan Rendra yang menciumnya begitu lama dan dalam juga terus sliwar-sliwer di ingatan Arumi.
__ADS_1
Arumi sampai bangun dan duduk. Arumi mengacak rambutnya karena kesal, dia sudah melihat jam dinding sejak tadi. Dan sudah sangat larut malam, tapi dia belum bisa tidur. Karena terus terbayang ciumannya dengan Rendra.
"Aghkkkk... besok bukan bibirku saja yang bengkak ini. Mataku juga akan bengkak karena tidak bisa tidur. Mas Rendra, kamu itu benar-benar ya! kenapa juga gak mau pergi dari pikiran ku?" keluh Arumi.
***
Keesokan harinya. Di apartemen Tristan, pagi-pagi sekali Sarah bangun dan bergegas untuk mandi dan berangkat bekerja. Namun setelah Sarah merapikan selimutnya dan akan membawa ke kamar. Sarah melihat Tristan yang tertidur di sofa ruang tamu dengan keadaan duduk.
'Dia tidak beranjak dari sana sejak semalam?' batin Sarah.
Tak lama Sarah melihat Tristan, rasa kecewa dan sedih masih begitu memenuhi hatinya. Sarah memang bukan tipe orang pendendam atau semacamnya. Namun dia masih butuh waktu, semua yang terjadi padanya, apa yang dikatakan dan di lakukan Tristan padanya demi cinta Tristan pada Shanum masih membuat Sarah sakit hati.
Yang lebih menyakitkan bagi Sarah adalah, Tristan kembali padanya setelah mendapati Shanum mengkhianati dan melukai perasaannya. Sarah disini merasa hanya seperti tempat dimana Tristan bisa pergi kalau dia di khianati, seperti sebuah tempat pelarian semata.
Sarah bahkan sampai memikirkan, entah apa yang terjadi jika saat Tristan pergi ke Paris itu Shanum mengumumkan pada seluruh dunia kalau dia mencintai Tristan. Mungkin saat ini Sarah adalah wanita yang paling terluka.
Tristan mungkin akan menikah dengan Shanum dan hidup bahagia di Paris. Lalu Tristan akan mengirimkan surat cerai mereka. Sarah bahkan sudah memikirkan sampai sejauh itu. Setelah pernyataan Tristan semalam, setelah semua yang dia ceritakan tentang apa yang terjadi padanya dan Shanum di Paris.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Sarah masih tetap menyiapkan sarapan untuk Tristan. Tapi Sarah lebih memilih untuk membawa sarapannya ke kantor saja.
Tanpa membangunkan Tristan, Sarah berusaha untuk keluar dari apartemen itu tanpa membuat suara. Setelah itu Sarah pun berangkat ke kantor.
Beberapa lama kemudian, Tristan baru terbangun karena suara bel pintu. Tristan bangun, mengusap wajahnya kasar lalu berdiri dan membukakan pintu.
Ceklek
"Bos!" seru Richard yang terlihat khawatir.
"Ck... kamu!" kata Tristan malas dan langsung melangkah masuk ke ruang tamu.
"Oh emji... bos. Apa yang terjadi? nona Sarah pasti mengamuk dan marah ya?" tanya Richard menebak apa yang terjadi.
__ADS_1
Sebab saat dia meninggalkan apartemen Tristan semalam. Wajah Sarah benar-benar seperti sangat terluka dan kecewa.
Tristan lantas melihat ke arah sofa ruang tamu, dia tidak merespon apa yang di katakan Richard. Melihat Sarah tidak ada di sana dan selimutnya juga sudah tidak ada, Tristan berjalan ke arah kamar. Richard juga terus mengikuti kemana langkah Tristan pergi.
Tapi Tristan masih tidak menemukan Sarah di kamar, dia mencari di kamar mandi juga tidak ada.
"Bos, ngapain sih?" tanya Richard bingung.
"Ck.. dimana Sarah? apa di lantai atas?" tanya Tristan.
"Oh nona Sarah, aku tadi bertemu dengannya di bawah. Nona Sarah sedang menunggu taksi, mau aku antar nona Sarah-nya tidak mau!" jelas Richard.
Tristan lantas menuju ke ruang makan, dia menghela nafas berat ketika melihat di meja makan sudah tersaji sarapan untuknya.
'Sarah, aku benar-benar minta maaf. Bagaimana aku bisa meyakinkan mu. Kalau sekarang di hatiku benar-benar hanya ada kamu!' lirih Tristan dalam hatinya.
"Wah, sarapan!" kata Richard senang.
"Makanlah Richard, temani aku sarapan!" kata Tristan pada Richard.
Mereka duduk bersama, Richard juga sedih melihat bos nya itu sedih.
"Bos, minta maaf saja terus. Tidak apa-apa tidak dimaafkan sekali, dua kali atau bahkan berkali-kali. Tapi kalau bos memang benar-benar menyesal, dan benar-benar tulus mencintai nona Sarah. Bos tidak boleh menyerah!" kata Richard sambil menyantap makanan di piringnya.
Tristan menoleh ke arah Richard. Menurutnya apa yang Richard katakan memang benar.
Tristan menghirup nafas panjang. Lalu menghembuskan nafasnya perlahan.
'Benar, aku harus terus berusaha meyakinkan Sarah. Sarah... aku akan terus berusaha mendapatkan hatimu!' batin Tristan bersemangat kembali.
***
__ADS_1
Bersambung...