
Beberapa hari berlalu, Renata dan Hamdan sudah kembali dari honeymoon mereka di luar negeri.
Renata dan Hamdan pergi ke rumah Yuliana untuk mengantarkan oleh-oleh, sekaligus menjenguk Yuliana. Karena semenjak menikah dengan Hamdan. Renata pindah ke rumah yang di berikan Hamdan untuknya.
Kebetulan saat Hamdan dan Renata datang, Arista sedang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah mereka. Jadi hanya ada Yuliana dan asisten rumah tangga saja.
Tapi sebenarnya tujuan kedatangan Renata dan Hamdan datang bersama menemui maminya juga bukan hanya untuk dua hal itu saja. Saat mereka honeymoon, Renata dan Hamdan bertemu dengan saudara jauh Hamdan, seorang pengusaha produsen tas bermerek yang cukup terkenal, dan sekarang sedang mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Dan saudara Hamdan itu terlihat tertarik pada Arista ketika Hamdan menunjukkan foto-foto saat acara resepsi pernikahan Hamdan dan Renata.
Renata juga sudah bilang kalau Arista punya dua anak kembar. Dan kata saudara jauh Hamdan itu tidak masalah. Sekarang usianya juga sudah lebih dari 35 tahun, karena memikirkan bisnisnya dia belum menikah sampai saat ini. Dan katanya dia sangat tertarik pada Arista, jika wanita itu berkenan. Maka dia bersedia menjalin hubungan yang lebih serius guna untuk lebih saling mengenal lagi lebih jauh.
Dan Hamdan mengatakan pada Renata, kalau pria bernama Faisal itu orangnya sangat baik, pekerja keras dan yang terpenting sangat menyayangi keluarga, ibunya dan adik-adiknya karena dia anak sulung.
Dari apa yang di ceritakan oleh Hamdan. Akhirnya Renata setuju untuk minta ijin pada Yuliana untuk mengenalkan Faisal dan Arista.
Saat Renata dan Yuliana duduk di ruang tamu, sambil membuka beberapa kotak oleh-oleh dari Renata. Renata menunjukkan foto Faisal pada maminya.
"Mi, lihat ini deh!" kata Renata yang langsung memperlihatkan foto Faisal ukuran sedang di depan Yuliana langsung.
"Siapa itu?" tanya Yuliana melihat foto yang sengaja di tunjukkan Renata padanya.
"Namanya Faisal mi, dia masih sepupunya mas Hamdan. Saat kami di luar negeri, kamu bertemu dengannya. Dan ketika kami menunjukkan foto-foto pernikahan kami. Dia terus menanyakan tentang Arista!" jelas Renata.
Yuliana yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan anak sulungnya itu lantas menoleh ke arah Renata.
"Adikmu itu tidak mau lagi berumah tangga. Kamu kan sudah dengar sendiri dia bilang begitu. Sudah beberapa pria mendekatinya, ada yang teman kuliahnya dulu, ada yang temenin waktu SMA, kan ada juga yang satu kantor dengannya. Tapi tanpa basa-basi, Arista langsung bilang kalau tujuan mereka ingin mendekatinya, lebih baik mereka mundur dari awal. Karena Arista tak punya niat untuk menjalin hubungan dengan siapapun lagi!" kata Yuliana mengingatkan Renata.
"Tapi mi, kata mas Hamdan. Faisal ini orangnya sangat baik. Lagipula, mau sampai kapan Arista terus mencoba hidup sendirian mengurus kedua anaknya, dia juga butuh seseorang untuk menyokongnya, meskipun aku tahu Arista itu perempuan yang kuat dan mandiri, tapi tetap saja mi. Ada beberapa hal, yang tidak bisa Arista lakukan sendiri. Untuk Raja dan Ratu juga!" jelas Renata.
Renata memang selalu mendengar, bahkan sering mendengar Arista lagi dan lagi menolak seorang pria. Mau bagaimana lagi, anak-anak Yuliana memang cantik-cantik, tinggi-tinggi dan badannya juga bagus. Jadi wajar saja, meskipun banyak yang mengetahui kalau ada status sudah mempunyai dua orang anak, Tapi masih saja tetap banyak yang mengejarnya.
"Mami paham, tapi ini kan untuk kehidupan pribadi adikmu sendiri. Biar dia yang menentukan, mami bukannya tidak mau ikut membantumu, tapi mami merasa Arista sudah cukup dewaasa dan mengerti tentang mau membawa hidupnya kemana, apalagi ada Raja dan Ratu yang pasti bukan hal mudah untuk mereka menerima seorang Daddy baru!" jelas Yuliana.
__ADS_1
Hamdan lantas menyentuh punggung tangan Renata. Dari yang itu mertuanya itu jelaskan, jelas sekali menunjukkan kalau Yuliana menyerahkan seluruh keputusan hidupnya Arista, ya kepada Arista sendiri.
"Sudah sayang, benar kata mami. Hidup Arista, memang hanya Arista saja yang bisa menentukannya!" kata Hamdan.
"Tapi mi, mami nggak mau gitu misalnya aku ngomong sama Arista, terus mami dukung aku gitu?" tanya Renata.
Renata benar-benar tidak ingin adiknya itu sampai tua nanti hidup sendirian, karena Raja dan Ratu suatu saat juga akan meninggalkan dirinya, misalnya untuk kuliah atau kerja di luar negeri misalkan. Dan saat itu Arista pasti kesepian kalau dia tidak punya orang, seorang pria yang mendampinginya.
"Renata, biar adikmu yang memutuskan ya! jangan memaksa atau mendesaknya!" kata Yuliana sekali lagi menegaskan kalau Renata tidak perlu sampai seperti itu mencarikan calon suami untuk Arista.
Sebenarnya mendengar jawaban dari maminya itu, Renata sedikit kecewa. Padahal dia hanya ingin yang terbaik saja untuk adiknya. Tapi kalau maminya sudah berkata seperti itu ya mau bagaimana lagi. Dia hanya bisa menghargai dan menghormati keputusan maminya tersebut.
Sementara itu yang sedang di bicarakan oleh Yuliana, Renata dan Hamdan. Sedang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah mereka.
Sekolah Raja dan Ratu bukan lagi sekolah internasional seperti dulu saat keluarga Wijaya masih berjaya. Sudah beberapa bulan ini mereka sekolah di sekolah biasa yang kalau setiap pagi, di depan sekolah itu banyak sekali penjual jajanan yang berdagang.
Raja dan Ratu merengek minta di belikan eskrim potong oleh Arista.
"Raja juga mau mommy!" kata Raja.
"Sayang, ini masih pagi. Nanti siang saja ya, kalau pulang sekolah. Kita beli eskrim yang ada di toko!" kata Arista.
"No mommy, Raja mau itu. Kata aunty Arumi. Kita jangan membeli dagangan orang untuk dia bisa beli mobil, tapi beli dagangan orang untuk dia bisa menghidupi keluarganya dan biaya sekolah anaknya!" kata Ratu menirukan Arumi kalau sedang bicara.
Arista tak dapat berkata-kata lagi. Dia melihat bapak tua pedagang es potong itu.
"Baiklah, ini uangnya!" kata Arista memberikan satu lembar pecahan dua puluh ribuan pada Raja.
"Yey, terimakasih mommy!" kata keduanya dan langsung berlari ke arah penjual es potong.
Arista memperhatikan kedua anaknya, sekarang wali murid lain menyapa dan mengajak dia bicara. Tapi matanya tetap pada Raja dan Ratu.
__ADS_1
"Raja, kenapa beli yang stroberi?" tanya Ratu.
"Karena kamu beli yang stroberi, kalau beli rasa lain, kamu pasti akan minta nanti!" kata Raja yang langsung berlari.
Brakk
Raja melihat ke arah eskrim nya dan itu mengenai jas pria di depannya itu. Mata Raja langsung melihat ke atas, dia takut orang yang dia tabrak akan marah.
Tapi begitu melihat siapa yang ada di depannya, Raja malah tertawa.
"Ha ha ha, om Boneka tabung joget!" kata Raja.
"Oh emjiiiiiii!" pekik Richard tak terima.
Kalau saja yang di depannya itu bukan keponakan Arumi, yang artinya dia hanya akan cari masalah kalau membaut keributan. Richard pasti sudah menjewer telinga anak di di depannya itu. Sudah menabraknya, lalu bukannya minta maaf malah tertawa dan mengejeknya.
"You itu persis sekali dengan Tante you ya, bikin kesel!" kata Richard berusaha menahan amarahnya.
Padahal niatnya yang melihat ada penjual eskrim potong, mengingatkan pada masa kecilnya. Richard sengaja menepikan mobilnya untuk membeli eskrim potong itu. Tapi malah ada kejadian seperti ini.
Arista yang melihat itu langsung mendekati Richard.
"Kak Richard, maafkan anakku ya!" kata Arista tidak enak.
"Raja, kenapa malah tertawa. Ayo minta maaf pada paman Richard!"
"Paman?" tanya Richard menyela Arista.
"So, kamu mau di sapa bibi?" tanya Arista membuat kepulan asap keluar dari puncak kepala Richard.
***
__ADS_1
Bersambung...