
Sebelum mengatakan apa rencananya pada Sarah, Rendra sudah terlebih dahulu mengatakan rencananya untuk menyatukan Sarah dan Tristan pada ayahnya, tuan Arya Hutama. Rendra tentu saja membutuhkan ijin dari ayahnya untuk bisa menjalankan rencananya. Karena jika tuan Arya Hutama tak tahu akan rencana Rendra ini. Kemungkinan ayah Arya Hutama juga akan jadi salah paham dan pastinya marah pada Rendra.
"Jadi sekarang kamu di panti?" tanya tuan Arya Hutama melalui panggilan telepon.
"Benar ayah, seperti tadi yang aku katakan saat pergi dari rumah. Aku akan menjemput Kevin, tapi tidak ku sangka. Tristan sudah tidak ada di panti. Kata Sarah, dia mendapatkan telepon dari Shanum, dan Sarah memutuskan untuk menginap di panti!" terang Rendra pada sang ayah.
"Aku mendukungmu nak, jika ini untuk kebaikan adikmu. Ayah pun sudah mulai lelah menjelaskan seperti apa Shanum itu pada Tristan. Adikmu bahkan tidak menyadari, jika wanita itu bahkan memilih tidak hadir di hari ulangtahun adikmu yang hanya di rayakan satu tahun sekali, demi karirnya. Tapi karena cinta buta nya Tristan pada Shanum, Tristan tak bisa menyadari hal itu! wanita itu akan tetap memilih karirnya daripada Tristan!" kesal tuan Arya Hutama.
Rendra terdiam, dia tidak berani menanggapi barang satu patah kata pun. Karena dirinya juga dulu sama persis seperti Tristan saat ini. Keras kepala dan tak mau mendengarkan nasehat dari sang ayah. Hingga pada akhirnya, apa yang dikatakan sang ayah benar-benar terjadi. Bahkan tidak hanya lebih memilih karir, tapi Gisella juga memilih mencintai pria lain daripada Rendra yang sudah menikah dengannya dan punya Kevin juga bersamanya.
Rendra benar-benar tidak ingin Tristan menanggung rasa sakit hati dan penyesalan tak berkesudahan seperti dirinya. Apalagi Rendra merasa Sarah memang adalah wanita baik, bahkan wanita yang terbaik untuk Tristan. Sebab beberapa hari terakhir, Rendra juga bisa merasakan perubahan lebih baik Tristan setelah bersama Sarah.
"Tapi meski begitu, tanya pada Sarah. Di keberatan atau tidak?" lanjut kata tuan Arya Hutama lagi.
"Baik ayah!"
Setelah berkata seperti itu, Rendra pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan tuan Arya Hutama. Dia kemudian masuk ke dalam panti lagi dan kembali menjelaskan segalanya pada Sarah.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Rendra.
"Apa kak Rendra tidak masalah dengan hal ini. Maksudku, apa tidak akan ada yang tersinggung atau merasa kak Rendra acuhkan nanti. Kalau kak Rendra...!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah. Rendra terkekeh kecil.
"Tidak ada Sarah! setelah hubungan ku dengan Gisella berakhir. Rasanya hatiku benar-benar tertutup. Aku hanya ingin fokus merawat dan membesarkan Kevin, itu saja!" kata Rendra menjelaskan.
Sarah pun mengangguk paham.
"Jadi sebaiknya malam ini Kevin juga menginap di sini, apa masih ada kamar kosong untukku?" tanya Rendra yang sudah memulai rencananya.
Rencana Rendra adalah menyadarkan perasaan Tristan yang sebenarnya pada Sarah. Rendra ingin menunjukkan pada adiknya itu kalau sebenarnya Tristan itu menyukai Sarah. Mulai perhatian pada Sarah, hanya saja Tristan belum menyadari hal itu sepenuhnya.
"Semua kamar sudah terisi kak, coba nanti aku minta bunda Tiara mengaturnya lagi...!"
"Kalau tidak ada juga tidak apa-apa Sarah. Aku akan tidur di sofa ini nanti malam, tidak masalah!" kata Rendra sambil menepuk sofa panjang yang dia duduki di ruang tengah itu.
Sarah sangat terkesan dengan apa yang dilakukan kakak iparnya itu untuknya. Dia sampai rela tidur di sofa untuk membantunya.
Sementara itu Tristan yang ternyata tengah menenangkan dirinya di minibar apartemennya. Tak menyadari kalau hari sudah semakin sore. Dia bahkan lupa untuk mengatakan pada ayahnya kalau Sarah akan menginap di panti dan tidak pulang malam ini ke kediaman Hutama.
Tristan berusaha menghubungi nomer ayahnya tapi nomer ayahnya tidak aktif. Tristan juga menghubungi nomer Samsudin, tapi sama dengan nomer tuan Arya Hutama. Nomer asisten pribadi tuan Arya Hutama itu juga tak bisa di hubungi.
Akhirnya Tristan menghubungi Rendra.
"Halo Tristan!"
__ADS_1
"Halo kak, kau dimana? kalau kau ada di rumah. Tolong beri tahu ayah, Sarah dan aku tidak kembali ke rumah. Kami menginap di panti!" kata Tristan yang tak mau ayahnya menduga macam-macam.
Karena itu Tristan mengatakan kalau dia dan Sarah menginap di panti. Padahal dia pulang ke apartemen nya.
"Kamu menginap di panti? yang benar?" tanya Rendra.
"Apa maksud mu?" balas Tristan.
"Aku dan Kevin menginap di panti bersama Sarah, kamu dimana memangnya? kata Sarah kamu pulang?" tanya Rendra sengaja membuat Tristan canggung.
"Ka.. kalian di panti, kalian mau menginap di panti?" tanya Tristan terpancing.
"Iya, kamu tahu seperti apa keponakan kesayangan mu itu kan. Dia sangat ingin tidur dengan mama Sarah-nya. Aku bisa apa selain menurutinya. Aku juga tidak enak kalau meninggalkan dengan Sarah, Kevin kan suka mengigau. Jadi aku juga menginap di sini!" terang Rendra.
Tristan langsung mengusap kasar wajahnya.
"Kakak pulang saja, biar aku yang menginap disana...!"
"Kenapa kamu terkesan mengusirku, aku ingin menemani anakku dan mama Sarah-nya. Jangan berlebihan!"
Tut Tut Tut...
Rendra lantas mengakhiri panggilan teleponnya dengan Tristan.
"Apa-apaan kak Rendra, kalau Kevin mau menginap ya biar Kevin saja. Kenapa dia harus ikut. Ck...!" kesal Tristan.
Tanpa pikir panjang lagi, Tristan langsung bergegas kembali menuju ke basemen. Masuk ke dalam mobilnya lalu bergegas melajukan kendaraannya menuju ke rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara.
Percakapan di telepon antara Tristan dengan Rendra tadi juga di dengar oleh Sarah. Rendra kemudian menoleh ke arah Sarah yang hanya tertunduk diam.
"Kamu dengar sendiri kan, dia seperti kebakaran jenggot mengetahui aku menginap di sini!" kata Rendra.
Sarah hanya diam, dia juga tidak mau banyak berharap. Dia benar-benar takut sakit hati lagi. Jadi Sarah pun sekarang hanya bisa mengikuti arus yang terjadi. Kalaupun Tristan memang perduli padanya, dia bersyukur. Karena memang harapannya menikah untuk sekali seumur hidup. Meski awalnya memang kesepakatan bersama, namun seiring waktu, Sarah juga bisa merasakan kalau sebenarnya Tristan itu orangnya sangat perhatian dan baik pada siapapun yang punya hubungan baik dengannya.
Tapi andaikata pernikahan mereka memang hanya untuk menutupi hubungan Tristan dengan Shanum dari tuan Arya Hutama, Sarah pun tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Karena dia meyakini satu hal, seperti pasir laut ataupun air yang jika di genggam semakin erat maka semakin akan tertumpah keluar hingga akhirnya habis.
Sarah mencoba untuk membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Tanpa terlalu memberikan harapan yang besar pada hatinya sendiri.
Ketika waktunya makan malam, Sarah pun menyiapkan makan malam untuk semua orang termasuk Rendra dan Kevin. Tentu saja Sarah terus berada di samping Kevin, karena anak laki-laki yang menggemaskan itu tidak mau berada jauh-jauh dari Sarah.
Beberapa anak panti yang usianya masih kecil dan belum paham, mereka bahkan bertanya kenapa Kevin memanggil Sarah dengan sebutan mama. Mereka bahkan bingung, karena yang mereka tahu yang suaminya Sarah itu kan Tristan, pamannya Kevin. Jadi seharusnya Kevin memanggil Sarah dengan sebutan Tante.
"Kamu harusnya panggil kak Sarah itu Tante, bukan mama, Kevin!" kata Indah yang memang salah satu adik panti yang lumayan dekat dengan Sarah.
Tapi mendengar perkataan Indah, Kevin malah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Tidak, aku mau panggil mama Sarah. Mama Sarah juga tidak keberatan, iya kan mama Sarah?" tanya Kevin.
Sarah langsung tersenyum pada Kevin. Dan mengusap lembut kepala Kevin satu kali.
"Iya sayang, tidak apa-apa!" jawab Sarah.
Indah yang merasa tidak puas dengan apa yang ada di depannya langsung berseru lagi.
"Kalau seperti itu terdengar seperti kakak Sarah itu kan mama kamu, tapi kan kak Sarah istrinya paman kamu? gimana sih kamu Kevin?" tanya Indah lagi.
"Indah, sudah jangan di teruskan lagi. Tidak masalah kan Kevin memanggil kak Sarah dengan mama. Itu hanya panggilan sayang, seperti kamu memanggil bunda!" jelas bunda Tiara.
"Tapi berbeda bunda!" Indah masih merasa ada yang tidak benar.
(Maklumlah, namanya bocil. Kalau belum jelas sejelas-jelasnya belum puas dia).
"Lagipula kenapa kak Sarah tidak menikah dengan papanya Kevin saja?"
Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Indah. Membuat Kevin mengernyitkan keningnya.
Sarah dan bunda Tiara juga langsung tidak enak pada Rendra.
"Indah sayang, sudah ya. Saat makan tidak boleh banyak bicara. Ayo dihabiskan makanannya!" kata Sarah yang merasa tidak enak hati pada Rendra.
Tapi kemudian Kevin malah menoleh ke arah papanya.
"Iya pa. Kenapa papa tidak menikah saja dengan mama Sarah?" tanya Kevin.
"Tidak ada hal seperti itu, jangan berpikir macam-macam ya Kevin!" seru seseorang yang baru masuk ke ruang makan. Dan membuat semua yang ada di sana terkejut.
Tristan datang dan kebetulan mendengar pertanyaan Kevin ke papanya. Tristan langsung mendekati Sarah. Sarah yang pengertian pun langsung berdiri dan mempersilahkan Tristan untuk duduk.
"Aku akan ambilkan piring yang baru!" kata Sarah mengambil piringnya dari atas meja dan pergi ke dapur.
Tristan lalu mendekati Kevin.
"Hei jagoan, jangan macam-macam ya. Mama Sarah mu itu adalah istriku!" ucap Tristan dengan suara pelan pada Kevin yang memanyunkan bibirnya.
Rendra yang melihat hal itu hanya tersenyum.
'Lihatlah Tristan, kamu bahkan cemburu pada anak kecil!' batin Rendra.
***
Bersambung...
__ADS_1