Tega

Tega
Bab 121


__ADS_3

Gisella masih menatap ke arah Sarah yang pergi dengan mobil mewah yang dulu juga pernah dia pakai untuk pergi kemana-mana. Mobil yang sama, dan supir yang masih sama.


"Sombong sekali dia, tapi bukankah kekasih Tristan itu Shanum? kenapa Tristan menikah dengan wanita itu. Sangat tidak elegan. Heh...!" gerutu Gisella yang sangat tidak senang dengan Sarah.


Gisella langsung melihat ke arah sekolah Kevin. Sejak tadi pagi, dia terus mencari tahu dimana Kevin bersekolah. Bukan hal yang sulit mengetahui dimana sekolah cucu kesayangan tuan Arya Hutama bukan. Berita tentang hal itu bahkan dapat dengan mudah di temukan di internet.


Dan Gisella sejak pulang dari rumah sakit semalam juga terus memikirkan putranya yang sudah dia tinggalkan selama hampir lima tahun itu. Rasa penasaran membuatnya ingin bertemu dengan Kevin. Mungkin karena dengan suami barunya itu, bahkan setelah empat tahun lebih menikah, dirinya tak kunjung di beri anak. Sebenarnya suami barunya yang juga adalah seorang pemilik salah satu rumah produksi paling terkenal di kota ini juga sudah mengharapkan anak dari Gisella. Tapi sayang, Gisella masih bersikeras untuk tidak punya anak dulu.


Entah apa alasannya, suami Gisella juga tidak menuntut. Berbeda seperti kala dia menikah dengan Rendra dulu. Suami Gisella juga tak mengekang kebebasan Gisella. Mau liburan ke luar negeri berminggu-minggu saja bahkan tidak di larang sama sekali. Seperti itulah kehidupan yang di inginkan Gisella. Sungguh berbeda ketika menjadi istri Rendra dulu. Namun Gisella bahkan tidak tahu, kalau sang suami membiarkan dirinya bebas seperti itu juga karena ada hal lain.


Langkah Gisella terus maju ke arah gerbang sekolah tersebut. Namun ketika dia mendekati gerbang itu. Seorang satpam menghentikannya.


"Mohon maaf, ada perlu apa?" tanya satpam tersebut.


Gisella terdiam sejenak, lalu berkata.


"Saya mau menjemput anak saya, kami harus pergi ke rumah sakit untuk...!"


"Mohon maaf, tapi sepertinya saya tidak pernah melihat anda nyonya? anda wali dari siapa?" tanya satpam itu yang sepertinya sangat mencurigai Gisella.


Gisella sedikit terkejut juga, ternyata satpam sekolah Kevin lebih waspada dan tegas dari yang terlihat.


"Em, anda tidak pernah lihat saya?" tanya Gisella sambil melepas kacamatanya.


Gisella berusaha menggunakan nama tenar dan popularitasnya sebagai artis untuk bisa masuk ke dalam sekolah dan bertemu dengan Kevin.


"Saya tidak tahu!" jawab satpam itu dengan cepat dan tegas.


Gisella menghela nafas, dia mulai jengah.


"Pak satpam, saya ini Gisella Pricilla, artis dari management Star Shinee. Mamanya Kevin Hutama...!"


"Mohon maaf, tapi bukankah nyonya Sarah mamanya Kevin. Kevin selalu memanggil nyonya Sarah dengan sebutan mama. Anda jangan main-main ya? anda artis kan? apa anda sedang nge-prank saya. Ini tidak lucu nyonya. Saya sedang bertugas. Sudah... silahkan anda pergi!" kata satpam itu yang langsung meninggalkan Gisella begitu saja dan mengunci rapat pintu gerbang.


Gisella tampak kesal.

__ADS_1


"Heh, pak satpam! siapa yang lagi nge-prank?" tanya Gisella dengan suara sedikit meninggi karena satpam itu sudah pergi cukup jauh.


Gisella menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal.


"Huh, bagaimana mungkin satpam itu mengira wanita tadi mamanya Kevin. Ck... ada apa ini sebenarnya. Kenapa wanita itu terlihat sangat kesal padaku, kenapa juga Kevin panggil wanita itu mama. Dan seingatku Tristan itu pacarnya dengan Shanum. Pasti ada yang tidak beres. Aku akan cari tahu, sepertinya aku harus bicara dengan Andrew untuk mengambil Kevin dari Rendra. Daripada aku melahirkan lagi dan bentuk tubuhku bisa tidak proporsional, lebih baik aku mengambil Kevin. Dia anakku, iya... aku harus lakukan itu!" ucap Gisella lalu meninggalkan tempat itu karena tidak berhasil bertemu Kevin.


Gisella merencanakan untuk membicarakan masalah mengambil alih hak asuh Kevin dengan suami barunya Andrew Gallardo. Pemilik Star Shinee Production.


***


Setelah mengantarkan Kevin, Sarah langsung menuju ke rumah sakit. Di perjalanan, dia masih terlihat sangat kesal pada Gisella.


"Hais, kenapa aku malah yang jadi kesal sekali ya pada perempuan itu. Padahal kan aku tidak berhak membencinya, memangnya siapa dia. Aku bahkan tidak mengenalnya!" keluh Sarah yang sebenarnya merasa tak pantas bersikap ketus pada Gisella.


"Ck... apa mungkin karena dia meninggalkan Kevin yang baru berusia dua bulan, juga kak Rendra yang begitu baik, jadi aku kesal. Huh... semoga nanti kak Rendra menemukan wanita yang lebih baik dari ibu kandungnya Kevin. Yang mencinta Kevin sepenuhnya hatinya!" gumam Sarah.


"Aamiin!" seru pak supir sambil tersenyum.


Sarah langsung terkesiap, dia bahkan lupa kalau dirinya bicara lumayan keras. Padahal di depan ada pak supir.


"Aku mengerti nyonya, anda sangat baik. Aku pun selalu mendoakan hal yang sama untuk tuan Rendra dan tuan kecil!" balas pak supir.


Meski doa mereka sama, tetap saja Sarah jadi canggung. Karena dia sudah mengomel tak jelas tentang Gisella.


Setibanya di rumah sakit, saat Sarah masuk ke dalam ruangan rawat Tristan. Dokter Alam dan asistennya sedang berada di dalam.


"Selamat pagi dokter!" sapa Sarah.


"Selamat pagi nyonya Sarah!" sahut dokter Alam.


"Sarah, kamu tidak menyapaku?" tanya Tristan membuat Sarah tercengang.


"Ehem, baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu. Ini laporan medis tuan Tristan, nyonya Sarah!" kata dokter Alam menyerahkan laporan medis Tristan kepada Sarah lalu pergi keluar dari ruangan itu bersama dengan asistennya.


Sarah pun mengangguk paham dan memeriksa laporan medis itu ketika dokter Alam dan asistennya sudah pergi.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja Tristan menarik tangan Sarah yang memang sedang berdiri tak jauh dari tempat tidur pasien Sarah.


"Eh..!"


Sarah terkejut sampai hampir menubruk tubuh Tristan. Namun Sarah masih cukup sigap untuk tidak sampai jatuh di atas Tristan dan malah menahan tubuhnya dengan menekan pinggiran ranjang dengan satu tangannya. Membuat laporan medis yang sedang dia pegang berhamburan jatuh ke lantai.


"Tristan!" protes Sarah.


Sarah menatap kesal ke arah Tristan. Tapi Tristan malah terkekeh.


"Apa sebelumnya aku pernah mengatakan hal ini Sarah? kamu cantik saat kamu sedang marah!"


Mata Sarah langsung terbelalak sempurna mendengar apa yang baru saja Tristan katakan di hadapannya itu.


Sebagai seorang wanita yang normal, tentu saja mendengar pujian seperti itu bisa membuat pipi Sarah terasa panas.


Menyadari Tristan yang terus menatapnya, Sarah langsung membenarkan posisinya. Dia berdiri dan menjauh dari Tristan.


'Hais, aku rasa bukan hanya kepalanya yang bermasalah, otaknya juga. Bukan hanya amnesia sepertinya, aku rasa dia benar-benar sudah berubah menjadi pribadi yang berbeda!' batin Sarah.


Sementara melihat Sarah yang terlihat canggung, Tristan malah tersenyum lagi dan berkata.


"Aku merasa aku punya banyak kesalahan padamu Sarah. Aku yakin akan hal itu. Apa kamu mau memaafkan aku, Sarah?" tanya Tristan dengan wajah sendu.


Sarah yang makin di buat canggung mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Itu hanya perasaan mu saja Tristan, sudahlah. Kamu baru sembuh, mungkin saja amnesia mu yang membuatmu banyak berpikir ini dan itu. Jangan banyak berpikiran yang tidak-tidak! aku sudah memaafkan mu!" kata Sarah yang langsung menunduk dan merapikan semua laporan medis Tristan.


Sarah langsung meletakkan laporan itu di meja.


'Jika aku tidak amnesia, apa kamu masih akan memaafkanku, Sarah?' tanya Tristan dalam hatinya sambil terus menatap Sarah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2