Tega

Tega
Bab 242


__ADS_3

Di dalam mobil menuju pulang ke apartemennya, Sarah masih memikirkan apa yang terjadi di supermarket tadi. Untung ada Tano, coba kalau tidak. Dia pasti sudah jatuh, dan jatuh dari anak tangga ke empat seperti itu, paling tidak dia akan encok. Tapi bukan itu yang dia pikirkan, tapi anaknya pasti akan kenapa-napa.


Sarah menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk mengusir apa yang baru saja dia pikirkan, hal buruk yang dia pikirkan.


"Astagfirullah, aku gak boleh memikirkan hal yang tidak baik. Apalagi mengucapkannya, bunda Tiara bilang. Setiap perkataan adalah doa, kalau lagi ada malaikat lewat, bisa di kabulkan nanti. Tidak.. tidak...!" gumam Sarah pelan.


Namun Tika yang berada di sampingnya bisa mendengar apa yang baru saja Sarah gumamkan. Tika mengerti kecemasan dari nyonya mudanya itu. Dan Tika yang memang melihat sesuatu tadi, coba ingin mengatakan apa yang dia lihat tadi kepada Sarah. Awalnya dia tidak mau bilang karena takut di bilang nething, alias negatif thinking. Tapi semakin dia berpikir, kejadian tadi memang aneh.


"Nyonya, sebenarnya aku melihatnya tadi!" kata Tika yang atas membuat perhatian Sarah beralih pada asisten rumah tangganya itu.


"Lihat apa?" tanya Sarah cepat. Sarah sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh asisten rumah tangganya itu.


"Itu nyonya, tadi itu ada seorang wanita tua yang berjalan mendahuluiku. Dia masuk ke toko sayuran itu. Tapi dia tidak berjalan maju, dia malah berbalik dan mendorong pintunya. Aku baru mau tegur, tapi lantas aku mendengar suara nyonya. Begitu nyonya di tolong oleh teman nyonya tadi. Wanita itu lantas pergi dengan terburu-buru. Apa mungkin dia sengaja ya nyonya?" tanya Tika membuat Sarah langsung menaikkan kedua alisnya.


Sarah berpikir apa yang baru saja dikatakan oleh asisten rumah tangganya itu bisa jadi benar. Tapi kenapa ada yang mau dia celaka. Sarah jadi cemas.


"Tapi kenapa ada yang mau mencelakai aku?" tanya Sarah yang seingatnya dia tidak punya musuh. Ya, selain Hera. Tapi untuk apa dia melakukan semua itu.


"Atau mungkin ini seperti di film-film itu nyonya. Tuan Tristan kan pengusaha kaya, pasti banyak saingan bisnisnya. Terus ada yang bermental pengecut, sampai menggunakan keluarga untuk menjatuhkan tuan Tristan, nyonya!" jawab Tika dengan ekspresi wajah luar biasa aneh.


Melihat wajah Tika, dan mendengar apa yang dia katakan membuat Sarah terkekeh pelan.


"Kebanyakan nonton film Asia kamu Tika! kurang-kurangin deh. Nonton kartun aja biar gak over thinking!" kata Sarah sambil terkekeh.


Tika langsung tertunduk diam. Tapi Tika sangat tidak tenang. Masalahnya dia tadi melihat ekspresi wajah wanita tua itu yang benar-benar seperti ingin mencelakai nyonya mudanya.


'Aku harus ceritakan ini pada nyonya besar!' batin Tika.


***


Sementara itu di sekolah Rani. Renata sedang mencari tahu tentang keberadaan Rani meskipun tadi Hamdan sudah bilang anak sulung Hamdan itu ada di rumah Wulan.

__ADS_1


Tapi Renata melakukan semua ini hanya untuk mencari informasi yang dia ingin tahu.


"Halo, selamat pagi. Kenal sama Rani gak? mamanya namanya Wulan, papanya namanya Hamdan?" tanya Renata pada salah satu siswa yang baru keluar gerbang.


Renata sengaja mengatakan nama papa dan mamanya Rani, karena Renata pikir nama Rani itu pasaran.


Siswi yang baru di tanya Renata langsung berhenti.


"Oh, si Rani pacarnya Oscar itu ya?" tanya siswi itu dengan tidak senang pada Renata.


'Oh, dia sudah punya pacar' batin Renata.


"Dia sudah punya pacar, dia masih sekolah, masih kelas 11 kan. Kok sudah punya pacar?" tanya Renata.


"Tante gak tahu? emang Tante ini siapanya Rani?" tanya siswi itu.


Renata terkejut, dia terkesiap. Tapi bukan karena di tanya dia siapanya Rani. Tapi karena siswi itu memanggilnya Tante.


'Ya ampun, aku kayaknya harus tarik benang lagi ini. Kenapa ini memanggilku Tante sih!' keluh Renata dalam hatinya.


"Iya Tante, sering banget!"


'Ya ampun, di panggil Tante lagi!' pekik Renata dalam hati.


Tapi karena dia membutuhkan informasi dari siswi yang selalu memanggilnya tante ini. Maka Renata mencoba untuk bersabar.


"Sering banget?" tanya Renata bingung.


Masalahnya Hamdan bilang anaknya itu tidak pernah punya masalah di sekolah. Tapi kalau sering bolos kan harusnya Hamdan tahu.


"Iya Tante, mamanya kan sering datang ke sekolah. Karena Rani sering bolos, dia bahkan berantem sama Meity tuh mantan pacar si Oscar kemarin. Sampai di Skorsing seminggu sama guru BK!"

__ADS_1


Renata sampai ternganga mendengar kata siswi yang ada di depannya. Sampai seperti itukah kelakuan anak SMA. Itu sih lebih dari Arumi, anak Hamdan itu lebih bar-bar dari Arumi tapi dalam kontek5 yang buruk. Renata mengakui Arumi bar-bar tapi dalam kontek5 yang benar.


'Dia di skorsing, bahkan pak Hamdan tidak tahu. Ini gimana sih? pak Hamdan yang gak perduli sama anaknya, apa anaknya yang pinter nutupin semua kelakuan minusnya dari papanya?' tanya Renata dalam hati.


Melihat Renata diam, sepertinya siswi itu mengira Renata sudah tidak akan bertanya apapun padanya lagi.


"Ya udah tante, saya pulang dulu ya...!"


"Eh tunggu... yang namanya Oscar itu yang mana?" tanya Renata.


"Tadi ada di tempat parkir. Itu yang pakai motor matic warna putih Tante! itu tuh...!"


Renata pun mengarahkan pandangannya pada seorang pemuda dengan motor matic warna putih yang akan keluar gerbang.


"Oh iya, makasih ya. Betewe lain kali jangan panggil Tante ya!" kata Renata yang lantas meninggalkan siswi itu dan menghampiri Oscar.


Siswi yang baru saja di tinggalkan oleh Renata itu lantas menggaruk kepalanya bingung.


"Terus kalau gak mau di panggil Tante, masak iya aku panggil om. Aneh deh!" gumamnya sambil berjalan menjauhi pintu gerbang.


Renata pun menghampiri Oscar. Awalnya Oscar tampak tak mau membicarakan masalah Rani padanya.


Tapi Renata membujuknya dan memastikan dia tidak ada di pihak siapapun. Baik itu pihak Rani sekalipun.


"Lalu kenapa tante malah bertanya tentang Rani padaku!" tanya Oscar masih di atas motornya.


Renata lantas memutar matanya malas.


'Ya ampun, di panggil tante lagi. Kayaknya memang harus buat janji sama dokter Derm4 deh setelah ini!' batin Arumi.


"Aku akan katakan padamu, tapi bagaimana kalau kita bicara di tempat teduh. Kamu tahu sinar matahari itu bagus tapi ini, ya ampun ini panas banget ya, nanti infus milk yang baru aku treatment bisa mubazir!" kata Renata yang membuat Oscar geleng-geleng kepala.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2