
Rendra dan Arya Hutama turun dari mobil mereka lalu menuju ke pintu utama pintu asuhan bunda Tiara. Langkah Rendra semakin pelan ketika melihat Sarah yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah datar melihat kedatangannya dan juga kedatangan ayahnya.
'Ini kebetulan atau bagaimana? semalam aku menolong wanita itu, dan pagi ini mendadak dia jadi calon adik ipar ku?' tanya Rendra dalam hatinya.
Rendra cukup takjub dengan hal yang terjadi padanya. Namun dia berusaha untuk tenang lalu mengulas senyum di wajahnya saat bunda Tiara tersenyum ke arahnya.
"Selamat pagi Bu Tiara, ini pasti nak Sarah kan?" tanya Arya Hutama langsung menyalami bunda Tiara lalu beralih menyalami Sarah.
Saat Arya Hutama menyalami Sarah, tentu saja sebagai orang yang usianya jauh lebih muda dia bersalaman dengan mencium punggung tangan Arya Hutama.
Rendra sedikit terkejut melihat masih ada wanita yang melakukan salam dengan sesopan itu di jaman sekarang. Arya Hutama juga tersenyum senang, dia bahkan mengusap lembut kepala Sarah membuat Sarah merasa sangat tenang. Seperti di sentuh dengan lembut, dan di beri restu oleh seorang ayah.
"Loh, tuan ini kan yang semalam mengantar Sarah pulang ya?" tanya bunda Tiara yang kemudian beralih pada Rendra.
Rendra pun menganggukkan kepalanya.
"Iya bunda. Saya Rendra, anak sulung ayah Arya Hutama!" kata Rendra memperkenalkan dirinya pada bunda Tiara.
Pandangan Rendra pun beralih pada Sarah yang terlihat tidak bersemangat. Rendra memiringkan sedikit posisi kepalanya karena merasa ada yang ingin Sarah katakan namun tak enak pada yang lain.
"Rendra mengantarkan Sarah? bagaimana ceritanya?" tanya Arya Hutama yang juga penasaran ternyata putra sulungnya sudah bertemu dengan Sarah bahkan mengantarkan Sarah pulang ke panti asuhan.
"Ayah, ceritanya lumayan panjang...!" Rendra lalu melihat ke arah bunda Tiara.
Seperti sangat mengerti, bunda Tiara langsung mempersilahkan Arya Hutama dan Rendra untuk masuk ke dalam panti asuhan.
__ADS_1
Bunda Tiara mengajak tamunya untuk duduk di sofa di ruang tamu yang khusus untuk tamu penting. Bukan di ruang tamu untuk para donatur atau lainnya. Agar perbincangan mereka lebih akrab dan tidak terganggu.
Sarah minta ijin pada Arya Hutama dan Rendra untuk permisi sebentar ke dapur membuatkan minuman untuk mereka. Ketika Sarah hampir masuk ke ruang dapur, dia mendengar dua bibi di dapur sedang bicara.
"Itu yang mau lamar Sarah kan?" tanya bibi Yati pada bibi Nunung.
Tapi belum menjawab pertanyaan dari bibi Yati. Bibi Nunung malah sudah menangis, itu lagi yang membuat langkah Sarah terhenti.
"Hiks... hiks... rasanya berat banget ya teh, Sarah itu sudah seperti anak buat aku. Dia bahkan menolak di adopsi waktu itu karena gak mau ninggalin kita. Tapi yang namanya anak gadis ya, suatu saat pasti di bawa suaminya. Hiks... tapi sedih bener rasanya, teh!" ungkap bibi Nunung dari dasar hatinya.
Bibi Yati langsung merangkul teman seperjuangannya di panti asuhan itu. Mereka adalah para ibu yang di buang oleh suami dan anak mereka karena mereka tidak bisa memiliki keturunan. Anak-anak di panti asuhan bunda Tiara inilah yang mereka anggap anak sendiri, dan anak-anak juga menganggap mereka ibu, meski tetap memanggil mereka berdua dengan sebutan bibi.
Mata Sarah berkaca-kaca di luar pintu. Dia sangat terharu, dia juga sama beratnya seperti mereka harus meninggalkan adik-adik di panti dan juga bunda Tiara yang usianya sudah semakin sepuh. Tapi dia sudah berjanji saat ada penjahat mengejarnya malam itu, kalau dia bisa lepas dari penjahat yang menyamar sebagai supir yang akan menculiknya malam itu, dia akan menuruti semua perkataan bunda Tiara. Dan bunda Tiara ingin dia menikah, maka dia harus menuruti permintaan bunda Tiara itu. Karena selama ini, bunda Tiara tidak pernah meminta apapun pada Sarah, setelah merawatnya, memberinya tempat bernaung, memberinya nama belakang dan juga membesarkannya sampai sekarang ini.
Sarah menyeka air matanya lalu mencoba untuk merubah ekspresi wajahnya menjadi kembali ceria.
Bibi Nunung langsung menyeka air matanya dengan lengan bajunya.
"Sarah, ini minumannya. Saat menyajikan minuman nanti, kamu harus menyajikan nya perlahan. Dengan senyum tulus, lalu kamu harus berkata ramah saat menawari mereka minum ya nak!" ucap bibi Nunung memberikan nasehat pada Sarah.
Sarah tahu bibi Nunung berusaha untuk kuat padahal dia tidak sekuat itu menahan air matanya. Sarah langsung memeluk bibi yang sudah bersama dengannya lebih dari sepuluh tahun itu. Dan saat Sarah memeluk dirinya, Nunung menumpahkan tangisnya kembali.
"Bibi lihat tuan yang datang itu sangat baik dan ramah, dia sangat sopan juga pada kami. Bibi harap kamu akan bahagia di rumah barumu nanti ya nak!" ucap bibi Nunung sambil terisak.
Sedangkan Sarah dan bibi Yati tak dapat berkata-kata karena mereka tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, bibi Nunung melepaskan pelukannya dari Sarah.
"Sudah, sekarang hapus air matamu. Tersenyum lah pada mereka. Mereka terlihat sangat baik!" tutur bibi Nunung dengan yakin.
Sarah lalu membersihkan wajahnya dan menghela nafas panjang. Setelah itu dia membawa minuman dan camilan di bantu bibi Yati. Seperti kata bibi Nunung, Sarah menyajikan minuman untuk Arya Hutama dan Rendra dengan sopan dan penuh senyum.
Setelah itu Sarah kembali duduk di samping bunda Tiara. Setelah meminum minuman yang di sajikan Sarah. Arya Hutama langsung melihat ke arah Sarah dengan ekspresi wajah serius.
"Nak Sarah, mungkin bunda Tiara sudah menjelaskan kepadamu kenapa aku datang kemari, maksud kedatangan ku dan kakaknya Tristan kemari. Kami ingin melamar mu untuk Tristan!" jelas Arya Hutama.
Rendra langsung melihat ke arah ayahnya ketika sang ayah mengatakan maksud kedatangan nya pada Sarah. Beberapa detik kemudian, Rendra beralih pada Sarah yang hanya menundukkan kepalanya dengan ekspresi seolah dia ingin menangis.
"Apa kamu bersedia nak?" tanya Arya Hutama penuh harap.
"Sarah!" ucap bunda Tiara dengan suara yang sangat lembut.
Bunda Tiara hanya ingin kebahagiaan bagi Sarah, dia sudah menjelaskan kalau tuan Arya Hutama itu sangat baik. Dan bunda Tiara yakin kalau Sarah menjadi anggota keluarga dari tuan Arya Hutama maka hidupnya juga akan bahagia.
Tapi tetap saja bunda Tiara tidak akan memaksa, jika memang Sarah tidak bersedia. Kebahagiaan Sarah, kehidupan Sarah, Sarah bertanggungjawab sepenuhnya atas hal itu, begitulah yang di pikirkan bunda Tiara.
Sarah menoleh ke arah bunda Tiara dan melihat manik mata wanita yang usianya sudah melampaui dua kali usianya itu. Manik mata yang penuh harap agar Sarah setuju.
Sarah mengangkat wajahnya perlahan, dengan hati dan pikiran yang sudah merasa yakin, Sarah pun berkata.
"Saya bersedia!"
__ADS_1
***
Bersambung...