
Alin dan Muna lantas saling pandang, mereka tahu Arista itu adiknya Renata. Tapi mereka merasa apa yang mereka bicara tadi tidak ada satupun menjelekkan tentang Renata. Mereka justru perduli karena Renata sudah banyak membantu mereka.
Yah, itu benar. Semenjak Renata bekerja dan kehidupannya sedikit banyak berubah. Renata benar-benar mulai menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Meskipun itu sangat tidak mudah. Tapi Renata terlihat mulai mampu menerima kenyataan kalau dia bukanlah Renata Wijaya yang di dulu, mau apa tunggal tunjuk, mau berteman dengan siapa saja tinggal perintah.
Sekarang Renata sadar, kalau tidak berusaha sendiri. Maka tidak akan ada yang membantunya, dia juga sadar kalau masih ada maminya yang berharap dia bisa mandiri. Lagipula Renata juga sadar kalau dia tak selamanya, tak akan bisa selamanya bergantung pada Arumi.
Karena semua pemikiran baik itu, Renata sekarang berubah menjadi sangat baik, sangat ramah dan sangat sering membantu rekan kerjanya. Hingga Alin dan Muna yang memang pekerjaannya sering di bantu Renata. Tidak rela juga kalau teman mereka itu nantinya akan mengalami banyak kesulitan di kehidupan ke depannya karena menjadi kandidat calon istri pak Hamdan. Mengingat Wulan, mantan istri pak Hamdan sangat kasar dan galak orangnya.
"Begini Arista, kemarin aku tidak sengaja lewat di depan ruangan pak Hamdan. Aku dengar anaknya pak Hamdan yang sulung itu, Si Rani yang SMA itu, dia ngamuk sama pak Hamdan. Dia bilang kalau mamanya alias si ibu Wulan, mantan istrinya pak Hamdan itu ngasih tahu dia kalau pak Hamdan menjalin hubungan sama Renata. Kata si Rani, dia bakalan kabur dari rumah kalau sampai itu terjadi! dan pas pak Hamdan bilang, kabur aja kalau berani. Si Rani malah ngancam mau buat perhitungan sama Renata!" jelas Alin.
"Bukan cuma karena itu saja Arista, Wulan itu galak banget. Dia gak segan mempermalukan wanita yang memang dekat dengan pak Hamdan. Dulu ada juga karyawan baru yang suka sama pak Hamdan, tapi pak Hamdan nya gak suka. Di bikin malu sampai gak berani masuk kantor lagi!" kata Muna menambahkan.
Tapi mendengar semua itu Arista hanya tersenyum tipis.
"Terimakasih kalian sudah memberitahu aku tentang ini. Tapi aku pastikan Renata akan baik-baik saja, dia wanita yang kuat! sekarang dimana dia?" tanya Arista.
"Sedang di ajak makan siang pak Hamdan!" kata Alin.
Arista tersenyum lagi, kemarin-kemarin kakaknya itu tidak mau di ajak makan siang oleh Hamdan. Tapi beberapa hari ini sepertinya Renata sudah mulai mau menerima ajakan Hamdan. Arista merasa ini juga hal yang bagus, setelah delapan tahun hanya menjadi simpanan pria bersuami seperti Nathan. Kini Renata bisa go publik, maksudnya dulu saat dia berhubungan dengan Nathan, pria itu selalu mengajaknya jalan dan liburan diam-diam. Kini dia bisa makan di resto yang ramai. Arista senang mendengar hal itu tentang Renata.
"Baiklah, kalian tidak makan siang?" tanya Arista pada Alin dan Muna.
"Nanti, kamo gantian dengan Arumi dan Fifi!" kata Alin.
"Baiklah, aku duluan ya!" kata Arista sambil meninggalkan ruangan itu, ruangan sekertaris direktur keuangan.
__ADS_1
Setelah kepergian Arista, Alin dan Muna tertegun sejenak.
"Ini gak salah ya? kita aja yang cuma temannya khawatir loh sama Renata! itu Arista kan adiknya ya? kok dia malah tenang-tenang aja gitu ya?" tanya Muna bingung.
"Kamu tanya aku, aku tanya siapa? aku juga bingung!" kata Alin sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terlalu gatal.
***
Di restoran, pria yang mendekati paruh baya tapi belum paruh baya sekali bernama Hamdan itu sedang menarik kursi untuk Renata.
"Makasih ya pak, padahal saya bisa sendiri loh!" kata Renata yang memang orangnya sangat cuek.
"Tidak apa-apa, silahkan!" kata Hamdan sambil tersenyum dan cara bicara pria itu benar-benar sangat sopan.
Pak Hamdan terus tersenyum karena setelah mengajak Renata beberapa kali untuk makan siang bersama, baru kali ini wanita yang dia sukai sejak pertama kali di kenalkan Rendra padanya itu menerima ajakan makan siangnya.
"Pak Hamdan mau pesan apa?" tanya Renata yang langsung melihat ke arah Hamdan.
Tapi begitu melihat Hamdan tersenyum, Renata lantas meletakkan buku menunya.
"Pak Hamdan kayaknya gak perlu makan ya? kayaknya lihat saya saja sudah kenyang ya?" tanya Renata yang langsung membuat Hamdan terkekeh.
Itulah yang di sukai Hamdan dari Renata, dia ceplas-ceplos tapi agak genit. Bukan genit dalam artian jelek, tapi kata-katanya mengandung sifat asli seorang wanita. Bagaimana mendeskripsikannya ya, kalau Arumi dia ceplas-ceplos tapi cenderung ketus, polos dan galak. Kalau Renata dia ceplas-ceplos tapi masih ada manja dan feminim nya. Benar-benar seorang wanita yang di cari oleh pria yang memang mendambakan sosok yang butuh di lindungi. Seperti itu kurang lebihnya.
"Kamu bisa saja Renata, tapi kamu yang seperti inilah yang membuat saya berpikir kalau saya harus berusaha mengejar kamu!" kata Hamdan terus terang.
__ADS_1
"Pak Hamdan, jangan asal ngomong. Baru kenal saya berapa Minggu sudah bilang seperti itu. Saya ini mantan anak orang kaya loh, gak gampang mau jadi pacar apalagi suami saya!" kata Renata.
Dan mendengar semua itu Hamdan kembali terkekeh, dia merasa benar-benar tertantang untuk mendapatkan Renata. Selain memang dia suka pada Renata pada pandangan pertama.
"Apapun yang kamu mau, kalau aku mampu. Aku akan memberikannya!" kata Hamdan tak mau kalah.
'Ya ampun, ini duda tua. Ngebet banget sama aku. Ganteng sih ganteng, tapi kan sudah tua. Anaknya sudah tiga, bisa berdiri lama gak coba itunya! coba minta yang gak masuk akal deh!' batin Renata.
"Kalau saya minta rumah mewah dua lantai, sama empat pelayan sama mobil Alphard sekalian, gimana?" kata Renata sengaja minta hal yang tidak mungkin di berikan pada wanita yang belum jelas mau jadi pacarnya atau tidak.
Tapi di luar dugaan Renata. Hamdan langsung mengangguk.
"Baiklah, mau rumahnya dimana? di dekat kantor atau ada perumahan lain yang kamu mau? lalu mobilnya mau beli sekarang atau setelah kita makan siang?" tanya Hamdan yang terlihat begitu serius.
Mata Renata lantas melotot mendengar jawaban yang diberikan oleh Hamdan.
'Hah, ini duda tua serius. Padahal itu kan bisa ngabisin berapa puluh M. Yang benar saja!' batin Renata tak percaya.
"Kamu serius pak Hamdan, meskipun aku belum tentu nerima kamu, kamu mau beliin semua itu buat aku? atas nama siapa?" tanya Renata to the poin.
"Atas nama kamu, Renata!" jawab Hamdan membuat rahang Renata nyaris jatuh.
***
Bersambung...
__ADS_1