
Ketika Tristan mencari ponselnya untuk menghubungi Shanum, Tristan tak dapat menemukan ponselnya dimanapun. Akhirnya dia menepuk dahinya sendiri ketika dia menyadari kalau ternyata dia meninggalkan ponselnya itu di rumah ayahnya.
Mau kembali lagi kesana tidak mungkin, ini sudah malam. Jika dia kembali hanya untuk mengambil ponsel, ayahnya pasti akan bertanya macam-macam dan menduga macam-macam pula.
Lagipula setelah dia pikir lagi, memang sudah dua hari ini Shanum tidak menghubungi dirinya. Tristan pun berpikir mungkin Shanum sangat sibuk. Dan lagipula, kekasihnya itu juga tak begitu perduli pada pernikahan Tristan kan.
Tristan pun memilih untuk mandi dan beristirahat saja. Tapi setelah beberapa menit mencoba untuk memejamkan matanya. Tristan tak juga bisa tertidur. Pikirannya yang kacau mengalahkan rasa lelah di badannya yang seharian ini sangat sibuk dengan pernikahannya.
Tristan yang tak kunjung bisa tidur setelah jam di dinding kamarnya menunjukkan waktu tengah malam, memutuskan untuk minum saja ke mini barnya yang ada di lantai dua unit apartemennya.
Tristan membuka pintu kamarnya, dan berjalan menuju ke lantai dua. Untuk menuju tangga lantai dua, dari kamarnya Tristan harus melewati ruang televisi.
Dan saat Tristan berjalan melewati sofa, dia benar-benar melihat Sarah tidur dengan posisi meringkuk memeluk dirinya sendiri hanya menggunakan bantal sofa yang pastinya sangat tidak nyaman di pakai tidur.
Tapi melihat hal itu Tristan hanya melirik sekilas lalu berjalan lagi menuju anak tangga. Setelah naik dua anak tangga, Tristan menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik dan mendengus kesal.
Akhirat Tristan turun lagi dari anak tangga itu dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Tristan mengambil bantal dan selimut dari atas tempat tidurnya. Setelah tiba di dekat Sarah, Tristan meletakkan selimutnya di atas meja. Lalu mengganti bantal Sarah dengan bantal yang dia bawa.
Tristan mengangkat kepala Sarah dan memindahkan bantal sofa begitu saja hingga bantal sofa itu terjatuh di lantai. Lalu dengan segera dia meletakkan bantal di bawah kepala Sarah.
"Wanita ini tidur seperti orang m4ti, di angkat kepalanya saja tidak bangun. Jika dia tidur di pinggir jalan, entah apa yang akan terjadi padanya. Ceroboh sekali!" gumam Tristan.
Sambil bergumam itu, Tristan juga sambil menyelimuti Sarah dengan selimut yang dia ambil dari kamarnya tadi.
"Benar-benar merepotkan!" keluh Tristan yang langsung pergi dari tempat itu menuju mini bar untuk menghilangkan penat dan pikirannya yang sedang kacau saat ini.
***
Sementara itu, di tempat lain Shanum juga sama sekali tidak bisa tidur. Bahkan semalaman dia terus merasa gelisah karena sudah puluhan kali mencoba menghubungi Tristan namun kekasihnya itu mematikan ponselnya dan tak kunjung menghidupkan kembali ponselnya.
Pikiran Shanum pun menjadi over thinking. Jangan-jangan Tristan saat ini sedang menghabiskan malam pertamanya dengan istrinya. Shanum yang awalnya begitu yakin kalau Tristan tak akan pernah mencintai wanita lain selain dirinya, kini semakin mencemaskan keyakinannya sendiri itu.
__ADS_1
Leni yang sejak tadi juga tidak tidur karena Shanum terlihat begitu kacau berusaha untuk tetap meyakinkan Shanum kalau semua pasti baik-baik saja. Namun Shanum sendiri yang tak bisa untuk tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Apa menurutmu Tristan akan tertarik pada istrinya itu setelah malam ini, apa menurutmu Tristan bisa menyentuh wanita lain, tanpa rasa cinta?" tanya Shanum yang membuat Leni menjadi khawatir.
"Kak Shanum, sebaiknya kakak istirahat. Besok ada wawancara dengan media yang akan menjadi salah satu pendukung dari acara penghargaan itu. Kakak harus tampil prima di sana. Jangan mencemaskan tuan Tristan, bahkan beberapa hari yang lalu dia masih menghubungi kakak kan? dia tetap mengatakan kalau hanya kak Shanum yang tuan Tristan cintai. Mungkin karena tuan Tristan memang sedang sibuk dan tadi siang dan sekarang sangat lelah karena seharian pasti dia sibuk berdiri dan menerima ucapan selamat, itu pasti sangat melelahkan, saat ini tuan Tristan pasti sedang istirahat. Kak Shanum jangan terlalu over thinking!" terang Leni panjang lebar.
Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Leni. Perjalan Shanum pun menjadi semakin lega dan rasa cemasnya juga perlahan mereda.
"Kamu benar Leni, aku pasti yang terlalu over thinking. Tristan pasti sangat lelah, besok dia pasti akan menghubungi ku. Semua akan baik-baik saja!" ucapnya.
Leni lalu memberikan Shanum minuman dan obat agar dia mudah tidur.
"Kamu memang paling mengerti aku, kamu juga berisitirahat lah!"
"Baik kak!"
Setelah menjawab begitu, Leni juga langsung kembali ke unit apartemen nya.
***
Sarah terbangun ketika sinar matahari mulai menerangi ruangan televisi yang di dindingnya dari kaca sebagai perbatasan antara ruang televisi dan balkon. Tirai putih transparan itu, membuat mata Sarah menjadi silau.
"Sudah pagi! eh...!" Sarah membuka selimut dari tubuhnya.
Sarah pun mengingat-ingat kembali, sepertinya semalam dia tidak memakai selimut. Dia di usir begitu saja dari kamar Tristan bahkan saat dia baru keluar dari kamar mandi dan belum sempat mengeringkan rambutnya.
Sarah juga menoleh ke arah belakang, ada bantal di atas sofa. Seingatnya dia juga tidur dengan bantal sofa.
"Ternyata manusia batu itu tidak seburuk yang aku pikirkan selama ini!" gumam Sarah.
Sarah langsung turun dan meraih selimut serta bantal yang tadi dia pakai. Setelah itu dia pun menuju kamar Tristan. Saat Sarah tiba di depan pintu kamar Tristan, pintunya tidak tertutup sempurna. Dan begitu Sarah membuka pintu, dia tidak melihat Tristan di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Heh, kemana dia? apa dia keluar?" tanya Sarah sambil bergumam.
Sarah pun segera merapikan tempat tidur Tristan, setela itu dia mengambil pakaian dari lemari, lalu mandi dan berganti pakaian. Setelah merapikan penampilannya seperti biasanya. Sarah keluar dari kamar dan menuju dapur.
Saat Sarah ke dapur, ternyata sama sekali tidak ada bahan makanan yang bisa di masak. Hanya ada roti dan camilan siap makan saja.
"Tidak ada apapun, sepertinya di dekat sini ada minimarket. Sebaiknya aku belanja dulu!" ujar Sarah.
Sarah pun kembali ke kamar mengambil ponsel, dan tasnya. Tapi begitu Sarah ingin keluar dari rumah. Dia tidak tahu password untuk membuka kunci pintu.
"Ya ampun, aku tidak tahu password nya. Aku akan telepon manusia batu itu!"
Sarah pun mencoba untuk menghubungi Tristan, tapi nomernya tidak aktif.
"Ck... bagaimana ini?" tanya Sarah bingung.
Saat Sarah melihat sepatu Tristan masih ada di tempatnya di baru berpikir kalau mungkin saja Tristan ada di lantai dua. Sarah pun segera bergegas ke lantai dua. Dan benar saja, pintu ruangan mini bar terbuka. Dan Sarah melihat Tristan tertidur dengan kepala bertumpu pada meja mini bar itu.
"Astaga, ternyata dia mabuk di sini!" seru Sarah.
Sarah pun memukul-mukul lengan Tristan.
"Hei, bangun. Aku mau keluar beli bahan makanan. Berapa password kunci pintunya?" tanya Sarah sambil terus memukul lengan Tristan agar pria itu bangun.
Tristan pun membuka matanya perlahan karena merasa terganggu.
"Hei, bangun. Ya ampun aku sudah lapar sekali manusia batu!" gerutu Sarah yang belum menyadari kalau Tristan sudah membuka matanya.
Sarah pun melihat ke sekeliling mini bar itu, dia cukup di buat takjub dengan banyaknya minuman mahal yang tersusun rapi di sana.
"Kamu bilang aku apa?" tanya Tristan yang membuat Sarah yang baru berbalik ke arah Tristan terkejut dan langsung menutup rapat mulutnya.
__ADS_1
***
Bersambung...