
Pagi harinya, Rendra yang sudah menjemput rombongan Sarah pun tiba di kediaman Hutama. Akad nikah akan dilangsungkan pada pukul sembilan pagi. Jadi mereka masih punya banyak waktu untuk bersiap.
Sejak pengajian semalam, meskipun sedikit terlambat, Arumi juga datang mendampingi Sarah. Dia bahkan menginap di rumah sewa sementara. Dan pagi ini dia ikut rombongan bunda Tiara, Sarah dan beberapa anak-anak panti yang memang sudah dewasa jadi tidak akan membuat keributan saat acara pernikahan nanti. Meskipun begitu, Arumi belum pernah bertemu dengan Rendra. Sebab dia dan Sarah, dengan Rendra dan bunda Tiara juga adik-adik lainnya berada dalam mobil yang berbeda.
Saat akan turun dari dalam mobil, Arumi yang memang sedikit mengantuk karena dia menemani Sarah begadang untuk perawatan diri pun masih belum sadar betul ketika yang membukakan pintu bagian penumpang adalah Rendra. Arumi duduk berdampingan dengan Sarah, tapi Sarah di bagian tengah, di sisi lain ada Indah.
Begitu pintu terbuka, otomatis Arumi pun langsung ikut ke arah pintu itu terbuka karena dia tidur sambil bersandar di pintu mobil itu.
Sarah yang sedang melepaskan sabuk pengaman Indah pun jadi tidak menyadari hal itu.
"Eh..!"
Arumi nyaris terjatuh dan pasti posisi jatuhnya itu akan sangat amat tidak estetik sama sekali. Jika saja Rendra tidak berhasil mengangkat tubuh Arumi.
"Maaf... maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap Rendra gelagapan karena tidak sengaja menyentuh bagian tubuh Arumi yang seharusnya tidak boleh dia sentuh.
Karena saat itu Arumi jatuh dengan posisi miring, dan setelah hampir terjatuh posisinya berubah menjadi agak tengkurap. Menyadari ada yang menyentuhnya, Arumi langsung membuka lebar matanya sampai melotot pokoknya.
"Agkhhh!" pekik Arumi yang langsung mengeluarkan jurus kijang menyeimbangkan badan.
Arumi langsung lompat turun dan langsung berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Heh, supir tidak sopan. Pegang apa kamu barusan?" tanya Arumi dengan suara keras dan mata melotot pada Rendra.
Di saat itulah Arumi baru menyadari kalau pria di depannya itu sangatlah tampan.
__ADS_1
'Aih, tuan Arya Hutama punya supir setampan ini. Kalau supir nya gini sih, tiap hari mau di antar jemput aku!' batin Arumi yang terpesona melihat Rendra untuk pertama kalinya.
Sarah yang baru saja turun dan mendengar Arumi menyebut Rendra sebagi supir, langsung menutup mulut Arumi dengan tangannya. Sarah langsung mengangguk dan tersenyum canggung pada Rendra.
"Kak Rendra maaf, ini Arumi. Dia sahabat ku, dia belum pernah bertemu denganmu. Maaf kak!" ujar Sarah yang sangat merasa tidak enak hati pada Rendra yang sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu.
Sarah langsung mendelik tajam ke arah Arumi yang mulutnya masih terus berusaha bicara dan tangan Arumi berusaha menyingkirkan tangan Sarah dari mulutnya.
"Arumi, cepat minta maaf. Ini kak Rendra, dia ayahnya Kevin!" ucap Sarah setengah berbisik di telinga Arumi.
Mata Arumi langsung terbelalak lebar mendengar apa yang dikatakan Sarah. Bagaimana tidak, dia telah mengatai seorang putra sulung Arya Hutama yang juga kakak ipar Sarah, eh maksudnya calon kakak ipar Sarah sebagai seorang supir.
Arumi dengan cepat menepis tangan Sarah dan membungkukkan setengah badannya. Terus terang saja Arumi merasa sangat menyesal, dia juga tidak mau kalau sampai membuat masalah bagi Sarah. Dia takut karena dia bicara sangat kasar sepertinya itu dan membuat Rendra tersinggung, maka Sarah akan mengalami masalah dalam rumah tangganya yang baru nanti. Prahara dengan kakak ipar karena mulut bocor seorang teman. Itu judul yang ada di dalam benak Arumi.
"Mohon maaf calon kakak ipar Sarah, aku benar-benar tidak tahu. Lagipula mana mungkin ya pria setampan dirimu seorang supir. Aku rasa aku tadi belum sadar betul, aku juga yakin kamu tadi tidak menyentuh...!" Arumi terdiam.
"Ah, tidak... nyawaku tadi belum kumpul Sarah. Aku pasti berhalusinasi!" kata Arumi yang dia sendiri tidak yakin apa dia tadi berhalusinasi atau tidak.
Karena sudah selesai mereka pun masuk ke dalam kamar tamu yang disediakan. Sarah sudah di tunggu oleh tiga orang Makeup artis yang siap meriasnya menjadi ratu sehari hari ini.
Arumi dan bunda Tiara serta adik-adik panti yang lain ada di kamar sebelahnya. Karena nanti Sarah akan berganti pakaian sebanyak dua kali, maka dia perlu ruang yang cukup besar. Pakaian pertama adalah pakaian pernikahan yang di pesan waktu itu yang di design oleh Ester. Yang kedua juga design dari Ester, namun merupakan pakaian dengan internasional. Sebuah gaun tetap dengan lengan panjang namun terawang di bagian lengan, dan full dress hingga mata kaki.
Namun ketika para makeup artis itu baru akan memoles wajah Sarah. Pintu kamar itu terbuka, ketika semua menoleh ke arah pintu ternyata yang berdiri di ambang pintu adalah Tristan.
"Kalian keluar dulu, aku ingin bicara dengan Sarah!" seru Tristan dengan ekspresi dingin dan suara datar.
__ADS_1
"Tapi tuan, dua jam lagi nona harus sudah siap...!"
"Jika tidak bisa mengerjakan dalam waktu singkat, kenapa kalian menawarkan diri sebagai makeup artis di acara ku?" tanya Tristan dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
"Kak, kalian keluar dulu tidak apa-apa ya. Sebentar saja!" ucap Sarah lebih sopan hingga para makeup artis itu mau keluar.
Setelah yang lain keluar, Tristan pun menutup pintu. Dan mendekat ke arah Sarah yang duduk di kursi di depan meja rias.
"Ada apa?" tanya Sarah.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu, kalau sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengkhianati Shanum. Dia yang sudah ada di hidupku jauh sebelum aku menjadi Tristan yang sekarang, dia menemani ku di saat semua orang meninggalkan aku!" jelas Tristan.
"Kenapa kamu mengatakan ini padaku? sudah jelas di surat perjanjian kita, kalau kita bahkan tidak akan pernah melakukan kontak fisik...!"
"Aku mendengar ceramah pak ustadz semalam!" sela Tristan.
Ekspresi wajah Tristan saat mengatakan hal itu sungguh membuat Sarah bingung. Tristan terlihat sedih dan sepertinya dia menyesal.
"Saat aku mengucapkan ikrar nanti, aku bertanggung jawab tidak hanya padamu, ayahku atau semua yang ada di tempat akad nanti. Tapi, ck... Sarah aku hanya ingin katakan padamu? Aku akan menambahkan dalam poin terakhir di surat perjanjian kita, bahwa jika kamu sudah tidak tahan lagi, dan ingin mengakhiri hubungan pernikahan kita nanti, maka kamu boleh mengatakan padaku. Aku pikir, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan juga. Karena kata pak ustadz, setiap manusia berhak bahagia! aku hanya ingin katakan itu saja!" ucap Tristan yang langsung meninggalkan ruangan itu.
Sarah sampai tertegun, mendengar apa yang Tristan ucapkan tadi.
"Hoh, apa dia sungguh Tristan si manusia batu itu? kenapa mendadak dia terlihat dan terdengar seperti manusia?" gumam Sarah bingung.
***
__ADS_1
Bersambung...