
Hingga malam harinya Arumi yang sudah selesai makan malam menemani Kevin menonton televisi di kamar Kevin.
Tapi saat Kevin menonton acara bus yang bisa bicara favoritnya, Arumi malah meraih remote control di atas meja dan mengganti saluran televisi ketika acara yang di tonton Kevin itu terjeda oleh iklan.
"Hei Tante, kenapa di ganti?" tanya Kevin memprotes apa yang dilakukan Arumi.
"Ya ampun, Kevin. Itu sedang iklan, plis deh, ngapain kita nonton iklan, mereka sudah kaya!" kata Arumi membuat Kevin menggaruk kepalanya bingung.
Arumi malah melihat acara infotainment, itu membuat Kevin kembali protes pada Arumi.
"Tante itu gak boleh di tonton kata papa, itu acara tidak boleh di tonton anak-anak!" jelas Kevin.
"Ya ampun, aku terdampar di mana ini. Baik-baik... aku ganti lagi ke acara kartun bis bisa bicara itu. Mana ada bus yang bisa bicara, benar-benar halusinasi orang jaman sekarang bikin geleng kepala!" kata Arumi yang kembali memegang remote televisi berniat mengganti siaran televisi nya.
Tapi baru akan menekan tombol 9, Arumi terdiam mendengar berita yang ada di layar televisi tersebut. Mata Arumi langsung membulat sempurna mendengar berita itu. Kebangkrutan keluarga Wijaya, dan Chandra Wijaya menjadi DPO.
Arumi lantas meletakkan remote televisi di atas meja.
"Kevin, jangan tidur malam-malam ya!" kata Arumi yang langsung bergegas meninggalkan Kevin dan kembali ke kamarnya.
Arumi lantas meraih ponselnya dan menghubungi Arista. Rendra baru saja keluar dari kamar mandi saat Arumi masuk ke dalam kamar dan meraih ponselnya.
"Sayang, kamu telepon siapa?" tanya Rendra.
Tapi saat Rendra bertanya, Arumi hanya berbalik sebentar lalu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Memberi isyarat pada Rendra agar suaminya itu diam suku sebentar.
"Halo Aru..!"
" Kak, apa yang terjadi? kalian sekarang ada dimana? mami mana?" tanya Arumi dengan cepat menyela apa yang baru saja Arista akan katakan.
"Kamu sudah mendengarnya?" tanya Arista.
"Aku melihat beritanya di televisi, ya ampun. Kak, sekarang katakan kamu dimana, aku akan kesana!" kata Arumi yang sangat mencemaskan keluarganya setelah apa yang dia lihat dan dengar dari berita televisi tadi.
"Sudah malam Arumi, mungkin besok saja...!"
"Kak, pikirkan anak-anak. Pikirkan Raja dan Ratu, katakan kamu dimana kak?" tanya Arumi lagi.
"Aku akan share lokasinya padamu!" kata Arista.
__ADS_1
Arumi lantas menutup panggilan telepon dan menunggu share lokasinya dari Arista. Mata Arumi membulat sempurna, dia menutup mulutnya ketika tahu keluarganya tinggal di perkampungan dekat dengan sungai.
"Ya Tuhan!" lirih Arumi.
Rendra yang sejak tadi berusaha diam akhirnya tidak tahan untuk bertanya pada istrinya itu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang, ada apa?" tanya Rendra menepuk pelan bahu Arumi.
Arumi lantas menoleh ke arah Rendra lalu bicara.
"Mas, keluarga ku. Mami, Arista dan anak-anak di usir dari rumah. Mas, kita harus ke sana!" kata Arumi.
Rendra yang melihat kepanikan di wajah Arumi tahu kalau Arumi sangat cemas pada keluarganya.
"Iya sayang, sebentar aku ganti baju dulu!" kata Rendra yang awalnya baru saja berganti baju dengan piyama.
Setelah berganti pakaian, Arumi dan Rendra segera pergi ke perkampungan yang lokasinya sudah di kirimkan oleh Arista.
Karena sudah malam, mereka hanya titip pesan pada kepala asisten rumah tangga saja kalau mereka akan keluar sebentar dan segera kembali. Takut tuan Arya Hutama atau Kevin nanti terbangun, dan tiba-tiba mencari mereka karena ini memang sudah sangat malam.
Sementara itu di rumah Nida, tempat Arista dan Renata tinggal sementara. Drama Queen kembali berulah.
"Arista, aku belikan aku kipas angin atau apapun. Kamar itu benar-benar pengap. Rasanya sesak sekali nafasku. Ayolah!" kata Renata yang sudah berusaha tidur namun tak bisa.
Arista yang sedang duduk di kursi besi di ruang makan lantas mendongak ke arah Renata.
"Ini sudah malam, toko mana yang masih buka. Sudahlah, apa kamu tidak lihat? Raja dan Ratu saja, mereka bisa mengerti keadaan ini. Mereka bahkan sudah tidur tanpa banyak mengeluh. Contoh saja mereka!" kata Arista lelah.
"Mereka menganggap ini seru Arista, karena itu mereka merasa tidak risih. Tapi lama-lama mereka juga tidak akan terbiasa. Satu toilet di pakai beramai-ramai. Kalau perut mereka mulas, mereka baru akan tahu tidak enaknya hidup begini!" keluh Renata lagi.
Arista benar-benar harus memijat keningnya. Dia saja tidak bisa tidur karena memikirkan maminya yang harus di operasi besok. Sedangkan dia tidak tahu, bahkan sama sekali tidak tahu mau cari yang kemana. Ini di tambah lagi bayi besar alias Drama Queen, sejak tadi terus mengeluh padanya.
"Ya sudah, kamu mau tidak pengap kan? bawa tikar dan selimut itu. Tidur saja di luar!" kata Arista.
"Whattt! are you kidding me?" tanya Renata.
"I'm not kidding you, because the reality is we do have to get used to all of this!" sahut Arista yang langsung membuat Renata terdiam.
Namun baru mereka sama-sama diam, terdengar ketukan di pintu rumah itu.
__ADS_1
Tok tok tok
"Kak! ini aku!" kata Arumi dari luar pintu.
Renata membelalakkan matanya sempurna.
"Arumi, itu Arumi kan? katamu kamu tidak mau menghubunginya?" tanya Renata menatap curiga pada Arista.
Arista lantas bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Bukan aku yang menghubunginya, dia yang menghubungi ku!" bantah Arista sambil membuka pintu.
Ceklek
Begitu pintu terbuka, Arumi lantas memeluk Arista dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa tidak menghubungiku kak? mana Raja dan Ratu?" tanya Arumi.
"Mereka sudah tidur!" jawab Arista.
Arumi lantas melihat rumah Nida itu dengan seksama.
"Kak, tinggal saja di rumahku. Aku punya sebuah rumah, hasil kerjaku selama ini. Kalian pindah saja ke sana. Setidaknya anak-anak pasti lebih nyaman"
"Ini sudah malam Arumi, besok saja ya!" kata Arista tidak enak pada Arumi apalagi pada Rendra yang ada di belakang Arumi.
"Mami mana? sudah tidur juga?" Tanya Arumi.
"Mami di rumah sakit, kena serangan jantung. Besok harus operasi!" kata Renata yang ikut menghampiri Arumi.
"Rumah sakit mana?" tanya Arumi yang sudah menangis.
"Citra Medika!" jawab Arista.
"Kak, aku akan kesana. Dengar ini kunci rumah lamaku, besok pagi kalian pindah saja ke sana. Besok pagi aku akan kirimkan supir kemari!" kata Arumi yang lantas meninggalkan kunci rumahnya pada Arista lalu langsung keluar dari sana sambil menarik tangan Rendra untuk segera pergi ke rumah sakit menemui maminya.
Arista memandangi kunci rumah yang di berikan Arumi padanya.
"Kamu lihat kan Renata, kehidupan Arumi memilih kata hatinya, mengikuti kata hatinya, ternyata jauh lebih baik dari kita!" lirih Arista.
__ADS_1
***
Bersambung...