Tega

Tega
Bab 257


__ADS_3

"Apa urusan mu dengan ibuku?" tanya Jerry Alando terlihat kesal.


Tapi melihat Jerry Alando yang semakin kesal, Tristan malah terkekeh pelan.


"Bukan apa-apa, aku hanya kasihan pada seorang wanita yang sekarang tinggal di sebuah rumah susun di daerah terpencil di kota yang dulu bahkan dia adalah seorang Istri pemilik sebuah pabrik yang sangat terkenal dan sangat besar di kota itu. Aku mendengar kalau dia sampai jadi kesulitan dan hidup menderita seperti itu karena terlalu menyayangi anaknya. Anak yang sudah dia kado selama 9 bulan kemudian dia lahirkan dan merawatnya hingga lulus kuliah, anak itu yang telah membuat hidupnya menderita. Bahkan untuk bertahan hidup saja dia harus menerima cucian dari tetangganya..!"


"Diam kamu, untuk apa mengatakan semua itu?" tanya Jerry Alando pada Tristan dengan kesal.


"Aku hanya ingin memberitahu mu, kamu terlalu sibuk mencari tahu tentang keberadaan istriku, dan cara untuk mendapatkannya kembali padamu. Padahal aku beri tahu padamu ya, istriku adalah wanita yang sangat setia. Sarah Ranisa itu wanita yang tidak akan pernah merubah pendirian dan juga hatinya, dia akan setia sampai mati pada orang yang dia cintai dan juga mencintai nya. Jadi aku akan beritahu padamu. Kalau perbuatan mu, Semua usaha yang kamu lakukan untuk mendapatkan istriku itu akan berakhir dengan sia-sia!"


"Percaya diri sekali kamu Tristan! usia pernikahan mu dengan Sarah bahkan tidak bisa di bandingkan dengan lamanya hubungan ku dengannya!" ucap Jerry Alando membantah pernyataan Tristan tentang Sarah.


"Ck... rupanya agak memang cukup sulit menjelaskannya kepadamu ya? aku tahu kalian pernah menjalin hubungan selama kurang lebih 4 tahun, tapi apa hubungan ku sampai menyatukan dua hati kalian menjadi satu, dua visi dan misi kalian menjadi satu, lalu dua tubuh...!"


"Diam!" pekik Jerry Alando yang kupingnya panas mendengar apa yang Tristan katakan padanya.


"Kenapa? kuping mu panas? ck.. tapi itu kenyataan. Dan bicara tentang wanita yang aku ceritakan padamu tadi, apa kamu tidak tahu siapa wanita itu? wanita paruh baya yang menerima jasa cuci pakaian dari para tetangganya di rumah susun?" tanya Tristan.


"Bukan urusan ku!" kata Jerry Alando yang mendekati Tristan karena sudah tidak sabar lagi dengan semua ocehan Tristan.


"Hei, dia ibumu. Anika Kusuma Wijaya. Kamu terlalu memikirkan istri orang sampai keluarga mu menderita kamu tidak tahu. Kamu benar-benar anak yang berbakti ya Jerry Alando..!"


Tristan sengaja bicara seperti itu, bukan untuk sedikit membuka pintu hati Jerry Alando. Tapi Tristan benar-benar hanya mengulur supaya polisi dan para agen dari kepolisian melumpuhkan satu persatu anak buah Jerry Alando supaya pria yang sudah lama jadi DPO itu tidak kabur lagi.


"Bos, cepat lari... ada polisi!" teriak salah satu anak buah Jerry Alando yang kemudian di lumpuhkan dengan timah panas oleh polisi.


Mendengar suara tembakan, Jerry Alando lantas langsung lari dari tempat itu tanpa perduli urusannya dengan Tristan, atau semua yang dikatakan Tristan. Jerry Alando baru sadar, kalau Tristan ternyata hanya mengulur waktu saja.

__ADS_1


Melihat Jerry Alando lari, Tristan juga langsung mengejarnya. Tristan melompat beberapa balik besi yang Jerry Alando lemparkan. Benar-benar sudah seperti film actionnya Donny Yen.


"Bren9sek! kamu sengaja menjebak ku?" tanya Jerry kesal.


"Mau bagaimana lagi, kamu kan DPO. Sebagai warna negara yang baik, aku punya kewajiban untuk membantu polisi menangkap mu!" kata Tristan yang terus berlari mengejar Jerry Alando.


"Cih, kamu pikir gampang menangkap ku?" tanya Jerry Alando sambil kembali melempar beberapa rak kayu yang ada banyak sekali di stasiun lama tersebut.


"Menyerah saja kamu Jerry Alando, akui perbuatan mu. Kasihan ayah dan ibumu!" teriak Tristan berusaha memecah konsentrasi Jerry Alando.


Tapi sepertinya Jerry Alando tidak perduli pada hal itu. Dia sudah dekat dengan mobil salah satu anak buahnya. Tristan yang merasa Jerry Alando pasti akan bisa kabur lagi tak bisa membiarkan itu terjadi.


Tristan mempercepat larinya, lalu melemparkan sebuah kursi kayu ke arah Jerry Alando. Namun sebelum Tristan melakukan hal itu, Jerry berteriak pada anak buahnya.


"Keluarkan senjatamu. Tembak dia!" teriak Jerry Alando yang sudah dekat dengan anak buahnya.


Doorrr


Plakkk


Anak buah Jerry Alando berhasil menembak, tapi Tristan juga berhasil melemparkan kursi kayu itu pada Jerry Alando sampai Jerry Alando tersungkur jatuh.


Anak buah Jerry Alando yang melihat Jerry terjatuh tapi polisi sudah mendekati mereka. Anak buah Jerry Alando itu malah masuk ke dalam mobil, lalu langsung pergi meninggalkan Jerry Alando yang meski kepalanya terluka, masih berusaha untuk bangun.


"Angkat tangan, Jerry Alando alias Brian Kim. Kamu sudah di kepung!" seru petugas yang menodon9kan senjatanya pada Jerry Alando.


"Sialll!" pekik Jerry Alando kesal karena saat dia akan berlari lagi polisi sudah berada tepat di belakangnya.

__ADS_1


Tapi rasa kesal Jerry Alando itu berubah, ekspresi wajah kesal Jerry Alando berubah ketika dia berbalik dan melihat para petugas sedang mengangkat tubuh Tristan yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang keluar begitu banyak dari tubuhnya, entah bagian tubuh mana yang tertembak? Jerry Alando tidak melihat itu dengan jelas. Tapi dia begitu puas melihat Tristan terluka. Dan pastinya itu sangat parah, sampah Tristan tak sadarkan diri.


"M4mpus kamu Tristan, tidak masalah aku di tangkap dan di tahan, tapi kamu akan mati Tristan... ha ha ha. Sarah akan menjadi milikku!" seru Jerry Alando seperti orang gil4.


Plakkk


Melihat Jerry Alando masih banyak gaya, seorang petugas memukul kepalanya hingga pingsan.


"Kenapa memukulnya?" tanya salah satu rekan dari petugas yang memasang gelang besi di tangan Jerry Alando.


"Aku kesal saja melihatnya, istriku sampai lupa masak, lupa mandi gara-gara mantengin ini orang di tok tok setiap hari!" jawab petugas yang memukul kepala Jerry Alando tersebut.


Meraka lantas membawa Jerry Alando ke kantor polisi, lalu membawa Tristan ke rumah sakit.


Di dalam ambulance, petugas sedang bicara pada perawat.


"Bagaimana kondisinya?" tanya petugas polisi yang bekerja sama dengan Tristan.


"Sangat kritis pak, darahnya keluar banyak sekali!" jawab perawat itu.


"Kalau begitu lebih cepat, aku akan segera mengabari keluarganya!" kata polisi tersebut.


Polisi tersebut lantas meraih ponsel Tristan yang ada di kantong celananya. Dan berusaha menghubungi kontak terakhir yang di hubungi oleh Tristan.


Untung saja kontak terakhir yang di hubungi Tristan adalah Rendra. Kalau Sarah, entah apa yang akan terjadi karena pasti berita ini akan sangat membuat Sarah shock.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2